
Ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuannya. Begitu pula denganku, jauh dengan Daddy sungguh menyiksa batinku sendiri. Meski aku tak suka keposesifannya namun aku begitu menyayangi beliau seperti menyayangi sang mama. ~Jessi Caroline~
****
Kepalan tangan yang kuat dan rahang mengeras negiu menandakan bahwa sang empu sedang marah. Dia berjalan menuju garasi mobil dengan kemarahan di ubun-ubun. Berita yang disampaikan oleh Bima sungguh membuatnya tak percaya.
Dan lebih mengejutkannya lagi, mereka yang terlibat seperti hilang ditelan bumi. Bahkan Bima mengatakan, jika dia sudah mencari pelaku ke segala tempat namun nihil.
Saat Rey hendak membuka pintu mobil, sebuah panggilan lembut dari seorang gadis, membuatnya mengurungkan niat.
"Mau kemana?" tanya Jessi dengan nafas ngos-ngosan karena mengejar Rey.
Lelaki itu tersenyum, dia berjalan mendekati gadis yang sedang mengatur nafasnya itu lalu menarik pinggang Jessi hingga jatuh ke dalam pelukannya.
"Lepasin!" Jessi memukul lengan Rey sambil celingukan, "ntar mama liat loh."
Rey tertawa yang membuat Jessi terpana. Tawa lebar yang sungguh jarang sekali dilihat oleh gadisnya itu. Hingga Rey menyadarkannya dengan mencium pipi Jessi secara kilat.
"Bengong."
"Ih, cari kesempatan terus."
"Iya dong, selagi ada kesempatan maka… Aw aw ampun." Rey melepaskan lingkaran tangan di pinggan Jessi karena merasakan cubitan kecil di perutnya.
"Kapok, mangkanya jangan mesum." Ledek Jessi.
"Mesum ke pacar sendiri apa salah?" tanya Rey.
"Salah dong," sahut Jessi. "Oh iya, kamu mau kemana, kok jadi lupa aku."
"Mau keluar sebentar, kenapa?" tanya Rey saat ingat tujuannya.
"Aku mau nitip sesuatu, boleh?"
"Boleh dong."
"Beliin rujak buah yah."
"Hah, kamu ngidam?"
"Ngawur, ngidam apaan." Jessi mendelik.
"Oh iya, kan aku belum coblos…."
"Stop tukang mesum." Jessi mendekat dan menutup mulut Rey.
"Gak usah mikir aneh-aneh, udah sana berangkat!" usir Jessi.
"Beri aku sebuah ciuman," pinta Rey memiringkan kepalanya.
"Baiklah baiklah, sebagai hadia biar kamu cepet pulang."
Jessi sedikit menjinjit karena tubuh Rey yang memang tinggi lalu kemudian dia meninggalkan sebuah kecupan di pipinya sedikit lama lalu berlari masuk ke dalam rumah sambil melambaikan tangannya.
"Gemes banget sih," ujar Rey lalu kembali merubah ekspresi wajahnya tatkala memasuki mobilnya.
****
Mobil mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Mata tajam dengan amarah membludak sungguh membuat wajah Rey menakutkan. Dia tak pernah marah seperti ini seumur hidupnya.
Namun entah kenapa, mengingat cerita Jessi semalam, membuatnya kehilangan kontrol. Jujur dia ingin memukul lelaki yang berani mengayunkan baloknya pada punggung Jessi. Namun Rey harus kuat menahan karena anak buahnya belum menemukan dimana keberadaan mereka.
__ADS_1
Menutup pintu dengan keras, Rey berjalan menuju sebuah rumah yang dihuni oleh anak buahnya ketika mencari biang keladi tiap masalah baik di kantor maupun urusan pribadi Rey.
Disana, sudah ada Bima dan para pekerja hacker terbaik yang membobol segala CCTV untuk mencari keberadaan cecunguk yang sudah membuat kejadian semalam. Namun tetap saja, mereka seperti tak ada jejak dan hilang ditelan bumi.
"Kau menemukan apa, Bim?" tanya Rey yang baru saja duduk di sebuah sofa.
Bima berjalan menuju sofa seberang tempat duduk Rey dengan membawa sebuah kertas yang entah apa.
Setelah dia duduk, dia segera memberikan kertas-kertas itu pada Rey dan diterima cepat oleh pria itu. Dilihatnya satu persatu kertas yang ternyata berisi foto para pelaku dari kejadian semalam.
"Mereka…."
"Ya, Tuan." Potong Bima cepat, "mantan karyawan yang dipecat dengan tidak hormat." Lanjut Bima menjelaskan.
"Berani-beraninya mereka." Rey meremas kertas di tangannya sampai tak berbentuk. Nafasnya memburu hingga membuat lelaki itu harus menahan amarah yang akan membludak kapan pun itu.
"Cepat temukan mereka," titah Rey sambil berdiri.
"Baik, Tuan." Bima ikut berdiri.
"Tolong urus perusahaan, Bim. Aku akan pulang." Rey melangkahkan kakinya sambil diikuti oleh Bima dari belakang.
"Baik, Tuan."
Rey segera meninggalkan tempat rahasia itu dan kembali ke rumahnya. Namun sebelum itu, pesanan ibu negara harus dibawakan terlebih dahulu sebelum tanduk mereka keluar, hihihi.
****
Dengan semangat, Rey keluar dari mobil sambil menenteng plastik yang berisi pesanan rujak buah milik Jessi. Dia segera masuk ke dalam rumah dan mencari dimana keberadaan dua wanita yang begitu dia sayangi.
"Dimana Mama?" tanya Rey to the point.
"Nyonya ada di taman belakang, Tuan Muda."
Memang Rey adalah orang yang irit bicara sebelum bertemu dengan Jessi. Bahkan lelaki itu sangat sulit untuk mengatakan maaf dan terima kasih. Akan tetapi, semua itu pasti ada masa berubahnya dan saat inilah Rey berubah. Kedatangan Jessi sungguh membuat pria itu kembali menjadi Rey yang dulu.
Senyum mengembanh terpancar jelas di wajahnya ketika melihat mama dan kekasihnya sedang bercocok tanam di taman yang dia bangun untuk mamanya.
"Ma," panggil Rey sambil meletakkan plastik yang dia pegang di atas meja.
"Hai sayang, sudah pulang?" tanya Mama Ria melirik sekilas.
"Udah, Ma." Rey menatap gadisnya yang asyik memotong daun tak mengindahkan kehadirannya.
Tanpa merasa malu pada sang mama. Rey mendekati Jessi dan memeluk gadis itu dari belakang.
"Astaga, Rey." Kesal Jessi mencoba melepaskan pelukan lelaki itu.
"Hmmm," sahut Rey dengan masih bermanja pada kekasihnya.
"Lepasin!" pintanya, "malu sama Mama."
"Santai aja, Cantik." Celetuk Mama Ria sambil memotong daun-daun yang sudah tua.
"Malu, Sayang." Nah kalau begini, harus jurus merayu yang dikeluarkan.
'Kan benar, lelaki itu segera melepaskan pelukannya dan berdiri di samping Jessi sambil menatapnya.
"Kamu cuekin aku," ujar Rey cemberut.
Jessi spontan menatap lelakinya ini sambil tersenyum manis. "Aku gak cuekin kamu, Sayang. Tapi ini loh, aku lagi motong daun. Kalau lihat kamu gimana motongnya?"
"Iya, iya aku pasti kalah." Jawab Rey sambil berbalik. "Oh iya, rujak buahnya sudah ada."
__ADS_1
"Wahhh." Jessi spontan berbalik dan mengikuti langkah Rey menuju tempat duduk yang tersedia.
Dia bisa melihat plastik hitam dan segera mengambil serta membukanya. Mama Ria juga ikut duduk disana sambil menunggu apa yang dilakukan wanita anaknya itu sekarang.
"Mama, ayo kita makan rujak buah!" ajak Jessi menatap berbinar ke arah rujak buah yang isinya banyak.
"Cuci tangan dulu, Nak."
"Siap, Ma."
Kedua wanita itu segera mencuci kedua tangannya dan segera kembali karena sudah merasa ngiler oleh godaan rujak buah itu.
Mereka begitu bahagia menikmati rujak bungkus itu hingga membuat Rey juga ikutan mencolek bumbu rujak dengan potongan buah mangga.
"Habis ini tolong antar aku pulang yah," pinta Jessi ketika dirinya dan Rey sedang duduk di gazebo yang ada di taman belakang Rumah Rey.
"Mau ngapain?" Rey menatap Jessi yang sedang duduk di sampingnya.
"Aku mau ambil pakaian, soalnya Mama Ria nyuruh aku tidur sini."
Rey mengulum senyuman. Memang mamanya ini satu hati dengannya. Dengan sigap menyetujui permintaan kekasihnya itu untuk mengantarkan ke kosan tempat tinggalnya.
****
Keduanya sedang berada di jalan menuju kosan Jessi. Tak jarang mereka saling bersenda gurau dengan Jesis lah pemeran utamanya. Karena memang gadis itu begitu pandai membuat suasana menjadi bahagia.
"Aku nanti malam disuruh tidur di rumahmu lagi sama Mama," adu Jessi.
"Terus, kenapa?" tanya Rey melirik sekilas sebelum kembali menatap ke depan.
"Malu, gak usah yah." Bujuk Jessi.
"Untuk nanti malam saja. Mungkin Mama Khawatir sama kamu."
"Baiklah." Jessi mengangguk. Dia juga tahu bagaimana Mama dari kekasihnya itu sama khawatirnya dengan Rey.
Tak lama, mobil yang dikendarai Rey berhenti di depan gerbang rumah yang begitu mereka hafal. Dengan pelan, Jessi dan Rey turun dari mobil yang membawa mereka.
Saat ingin melangkahkan kakinya menuju gerbang, Jessi mendengar seseorang memanggilnya dari arah belakang.
Degupan jantungnya bertalu kencang. Suara ini, suara yang begitu dia hafal milik siapa. Akan tetapi dirinya takut, takut jika ini hanya halusinasi. Namun, kenapa suara ini semakin jelas. Segera gadis itu berbalik dengan air mata menggenang.
"Daddy," teriaknya dengan perasaan bahagia membuncah.
Papanya, cinta pertama di hidupnya berdiri di seberang jalan dengan memakai setelan jas disana. Tanpa babibu lagi, Jessi berlari ke arah pria paruh baya itu tanpa memikirkan apapun.
Setidak sukanya dia pada papanya. Namun Jessi begitu menyayanginya. Bahkan semenjak mamanya meninggal, hanya papanya ini yang selalu menjaga dan memanjakannya. Ya meski diluar batas.
"Daddy." Jessi memeluk tubuh pria yang begitu dia rindukan dengan menangis.
"Nakal yah, kamu ninggalin Papa sendirian." Jessi menggeleng dengan air mata terus mengalir.
"Aku hanya ingin mandiri, Daddy."
Pelukan kedua anak ayah itu terlepas saat Jessi mengingat kekasihnya. Segera dia melambaikan tangannya agar Rey ikut menyeberang ke sisi jalan.
Rey kemudian berjalan mendekat dan menajamkan pandangannya. Dia takut salah orang. Namun semakin mendekat, memang benar jika orang itu adalah orang yang berada dalam pikirannya.
"Stevent Alexzandra."
~Bersambung~
Yuhuu, dari nama udah kelihatan gak siapa Daddynya Jessi, hehehe.
__ADS_1