
Debaran hatiku yang dulu kurasakan sudah tak ada. Melainkan hanya tersisa rasa canggung saat kita bertemu kembali. Mungkinkah hati ini sepenuhnya sudah dipenuhi oleh kehadiran Jessica Caroline? ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Seperti kesepakatan mereka seminggu yang lalu. Hari ini adalah pertemuan Khali dan Rey setelah sekian lama. Lelaki yang selama beberapa hari ini jarang tidur dan gila bekerja, harus menguatkan hatinya jika tiba-tiba pertemuan tak terduganya nanti dengan Aqila.
Rey segera bersiap-siap dengan memakai jas berwarna navy dan kemeja putih. Jam tangan yang ada 5 di dunia pun terpasang indah di pergelangan tangan kirinya. Dengan cekatan, tangan Rey mengambil berkas yang semalam ia kerjakan bersama Bima melalui panggilan video call.
Setelah semua dirasa ia bawa. Akhirnya Rey meluncur dengan David menuju salah satu Perusahaan milik Khali yang ada di New York.
"David, boleh saya bertanya?"
"Boleh, Tuan. Ada apa?" tanya David melirik kaca spion atas untuk melihat wajah bosnya sekilas.
"Apakah Perusahaan yang akan kita kunjungi sekarang, adalah perusahaan besar disini?" tanya Rey ingin tahu.
Lelaki itu sampai mencondongkan tubuhnya ke depan, agar bisa mendengar perkataan David dengan jelas. Lelaki yang menjadi supir Rey selama di New York itu mengangguk.
"Betul, Tuan. Perusahaan milik Pangeran Brunei memang Perusahaan besar. Meski hanya anak perusahaan bukan yang utama, banyak para pengusaha yang berlomba-lomba untuk bisa bekerja sama dengan perusahaan itu," ujar David menjelaskan.
Rey manggut-manggut. Dia tak mengira jika Kekuasaan Putra pertama Brunei itu begitu luas dan besar. Bahkan jika dilihat dari penampilan, Pangeran Khali hanya seorang pengusaha biasa. Mungkin karena dia yang jarang sekali terekspos dan tak selalu berpenampilan wah.
Tanpa ia sadari, mobil mulai berhenti di depan lobby utama. Seorang security membukakan pintu belakang Rey dan menyambutnya dengan baik. Bersamaan kedatangannya, tak lama mobil pemilik perusahaan ini juga datang.
Rey bisa melihat wajah Khali yang baru saja keluar dan sudah disambut dengan antusias oleh banyak pegawainya.
"Assalamualaikum, Tuan Rey." Salam Khali sambil menyodorkan tangan kanannya mengajak jabat tangan.
"Waalaikumsalam."
"Mari!" ajak Khali mengajak Rey masuk.
Entah kenapa perasaan Rey menjadi sedikit lebih tenang, ketika mengetahui jika pria di sampingnya ini datang sendiri. Dirinya tak akan tahu, akan secanggung apa jika nanti Aqila akan ikut dengan suaminya. Namun, Rey tak mau memikirkan itu terlebih dahulu. Saat ini ada tujuan yang harus didapatkan yaitu meyakinkan Khali agar mau berinvestasi dan bekerja sama dengan anak Perusahaan Stevent.
"Silahkah duduk, Tuan Rey." Khali benar-benar menyambut kehadiran sosok yang pernah mencintai istrinya dengan baik.
Tak lupa pria yang memakai jas hitam juga berpesan pada asistennya untuk membawakan cemilan dan minuman. Setelah kepergian orang kepercayaannya itu. Akhirnya Khali mulai buka suara kembali pada Rey.
"Apakah saya boleh bertanya?" tanya Khali sopan menatap lawan bicaranya.
"Tentu saja, Tuan."
__ADS_1
"Bagaimana bisa anak Perusahaan milik Stevent Alexzandra dipegang oleh anda? saya sendiri pun tahu, jika perusahaan itu memang bangkrut karena ada permasalahan dengan anak buahnya," tanya Khali dengan tatapan serius.
Rey balas menatap. Lalu dia membetulkan duduknya dan mulai menceritakan semuanya pada Khali. Lelaki itu bisa melihat bagaimana suami dari wanita yang pernah ia cintai begitu menyimak dengan baik. Bahkan tak ada hal yang terlewat dari semua penjabaran Rey.
"Jadi anda melakukan ini, untuk memenuhi syarat dari Tuan Stevent?"
"Betul, Tuan."
"Baiklah, mari kita membicarakan hal yang akan anda ajukan pada Perusahaan saya."
Akhirnya dua pria itu sudah terjalin obrolan yang serius. Dari sisi Rey banyak harapan yang digantungkan untuk Perusahaan Khali. Hari ini dirinya akan melakukan semuanya yang terbaik untuk bisa menjalin kerja sama dan memenuhi syarat dari permintaan ayah dari sang kekasih. Tapi di lain itu, Rey menganggap semua ini untuk pembelajaran diri dari awal. Dulu ia tak pernah tahu mengolah perusahaan dari awal semula, karena memang perusahaan itu turun temurun dari sang papa. Jadi, masa ini akan menjadi masa yang selalu diingat oleh seorang Reynaldi Johan Pratama.
****
Setelah melewati percakapan panjang dari pagi hingga siang hari. Akhirnya keduanya berakhir dengan sebuah kesepakatan yang sungguh membuat senyum bahagia terpancar dari kedua bibir pria tampan di dalam ruangan.
"Terima kasih, Tuan. Semoga kerjasama kita berjalan dengan baik," ujar Rey sambil mengajak berjabat tangan.
"Aamiin. Saya doakan semoga usaha anda berjalan lancar dan diridhoi Allah."
"Aamiin."
Kedua lelaki itu kembali terlibat dengan percakapan yang lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Waktu memang tak terasa sudah memasuki makan siang. Tak lama, bunyi ketukan pintu membuat obrolan keduanya berhenti.
"Masuk!"
"Maaf, Tuan. Di luar ada Nyonya baru datang."
Degupan jantung Rey berdebar kencang. Bukan, buka perasaan cinta melainkan kegugupan. Dia gugup untuk bertemu Aqila karena takut suasana akan berubah canggung.
Namun, Rey bisa melihat raut wajah bahagia dari partner kerja barunya ini. Bisa ia tebak, pasti Aqila sudah ada janji bersama Khali siang ini.
"Suruh saja dia masuk!"
"Baik, Tuan."
Khali mengalihkan tatapannya ke arah Rey yang sedari tadi terdiam.
"Anda baik-baik saja, Tuan Rey?" tanya Khali pelan.
"Ya, saya baik-baik saja."
"Maafkan istri saya yang datang di jam makan siang. Tetapi, memang dia tadi sudah pamit akan ke kantor untuk membuatkan kita makan siang," ucap Khali dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kita?"
"Ya, kita."
Saat Rey hendak menyahut. Sebuah suara yang begitu ia hafal mulai mengalun indah ke seluruh ruangan milik Khali.
"Assalamualaikum," salam Aqila dengan tersenyum.
Gadis yang memakai gamis berwarna hitam itu berjalan dengan tangan membawa kotak bekal menuju suaminya. Dia segera membungkuk sedikit dan mengambil tangan kanan suaminya untuk ai cium.
Tak lama, Aqila berbalik dan menunduk serta memberikan salam dengan cara menyatukan kedua tangannya di depan dada. "Assalamualaikum, Mas Rey."
"Wa'alaykumsalam." Rey melakukan yang sama dengan Aqila namun mata pria itu menunduk.
Bukan tak mampu menatap wajah gadis yang dulu menempati hatinya. Tetapi, status Aqila sudah menjadi istri orang. Maka, tak berhak seseorang menatap wajah wanita lain dengan durasi begitu lama karena akan terjadi kekhilafan jika dilakukan.
"Kamu diantar sopir, 'kan?" tanya Khali saat istrinya sudah duduk di samping pria itu.
"Iya, Sayang." Aqila mengalihkan tatapannya menatap penampilan Rey yang terlihat begitu segar, "apa kabar, Mas?" tanya Aqila dengan tersenyum tetapi wajahnya tetap sedikit menunduk agar ia tak menatap wajah lelaki lain untuk menjaga hati sang suami.
"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri terlihat jauh lebih baik yah?"
"Tentu saja, Mas. Ada suami yang selalu menyemangatiku juga," sahutnya sambil menatap wajah Khali yang balik menatapnya.
"Ya sudah, lebih baik kita makan siang bersama. Aku udah buatin khusus buat kalian berdua."
~Bersambung~
Ya kan ketemu kan? huhuhu ada yang rindu Prince Khali sama Aqila?
setuju gak, part selanjutnya isinya tentang dua sejoli yang belum dikaruniai anak itu?
komen aja yah, hihi
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di nome)