
Kebahagiaan seorang ibu hanya ada ketika dia melihat buah hatinya bahagia. Apapun pasti dilakukan meski nyawanya sendiri yang akan menjadi jaminan. ~Ria Pratama~
****
Kabar kedatangan Rey tentu saja membuat Mama Ria bahagia. Wanita yang melahirkan satu orang anak itu begitu sujud syukur ketika mendengar kabar jika putranya berhasil memenangkan hati calon besannya itu.
Semalaman Mama Ria memanjatkan doa atas kebahagiaan yang Allah berikan pada putranya. Dia tak menyangka jika semua yang dia lakukan untuk membantu Rey serta usaha anaknya sendiri mampu merobohkan pertahan tinggi dinding kokoh hati seorang Stevent Alexzandra.
Dengan hati bahagia, sejak bangun tidur Mama Ria sudah dibantu oleh kepala pelayan dan koki di rumahnya memasak untuk semua orang. Bahkan wanita yang sudah lama ditinggal oleh sang suami menghadap Tuhan, memerintahkan para pelayan membersihkan dan menyiapkan ruang keluarga serta kamar tamu untuk para tamunya.
Sang putera juga sudah menceritakan bagaimana keadaan dari calon besannya itu. Rey juga bilang jika Jessica dan Ayahnya akan tinggal di rumah mereka sementara waktu. Tentu hal itu langsung disetujui oleh Mama Ria hingga calon besan serta calon menantunya itu pindah ke rumah baru mereka menurut informasi dari Rey.
Dengan senyum mengembang, Mama Ria menata berbagai macam makanan diatas meja makan. Tadi, Bima baru saja mengabari jika dirinya berada di perjalanan untuk menjemput bosnya itu di Bandara.
"Selesai." Mama Ria tersenyum lalu dirinya hendak menuju dapur untuk mengambil piring buah. Tapi, langkahnya berhenti ketika mendengar suara mobil dari depan rumahnya.
Langkahnya mengayun cepat dan tak sabaran untuk melihat siapa yang datang. Tapi, hati kecilnya begitu yakin jika sang putra, belahan jiwa setelah almarhum suaminya itulah yang datang.
"Putraku," gumam Mama Ria saat membuka pintu mendapati anaknya berada di depan pintu.
Segera tanpa kata dirinya memeluk putranya itu dengan erat. Mengusap punggungnya dengan air mata yang mengalir di kedua sudut matanya. Sudah hampir dua bulan dia tak bertemu Rey secara langsung. Tentu saja hal itu membuat hati seorang ibu menjadi rindu.
Kepergian Rey sejujurnya meninggalkan kehampaan bagi Mama Ria yang berada di rumah sendirian. Namun, adanya Bima membuat kehampaan itu sedikit sedikit menjadi hilang. Dirinya bersyukur, memiliki Bima yang sudah dianggap seperti putranya sendiri. Mama Ria hanya mampu mencurahkan kasih sayang dan berdoa untuk kebaikan keduanya.
"Bagaimana kabarmu, Nak?" Mama Ria melepaskan pelukannya dan menatap keadaan sang putra dari atas sampai bawah.
"Alhamdulillah. Rey sehat, Ma."
Mama Ria beralih menatap gadis yang berdiri di belakang putranya itu dengan senyum mengembang.
"Kemarilah, Nak. Apa kau tak merindukan mama?"
Mata Jessica berkaca-kaca. Dia bersyukur memiliki calon ibu mertua yang begit baik padanya. Tanpa kata segera dia memeluk tubuh wanita yang melahirkan pria yang amat dia cintai.
Jessica seperti memiliki ibu kembali meski bukan ibu kandungnya sendiri. Sifat dan kelembutan Mama Ria mampu mengisi kekosongan hatinya dari kasih sayang almarhum mamanya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu, Mama," sahut Jessica dengan mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih, Nak. Kau sudah mau menemani Rey melewati semua ini." Mama Ria melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang ada di kedua pipi Jessica.
Gadis itu menggeleng. Dia malah mencium balik kedua tangan Mama Ria dan tersenyum hangat, "seharusnya aku yang berterima kasih, Ma. Karena Mama aku bisa memiliki pria yang begitu berarti di dunia ini."
Kedua wanita itu kembali berpelukan dengan bahagia. Rey tersenyum melihat kedekatan dua wanita yang begitu berarti di hidupnya. Dirinya juga tak menyangka jika sang mama sangat mudah akrab dengan kekasihnya itu. Rey juga bersyukur mamanya sudah mau banyak berubah setelah kejadian yang di masa lalu.
Tak jauh dari mereka. Sepasang pria paruh baya menatap ketiganya dengan senyum mengembang. Hatinya begitu lega melihat putrinya begitu disayangi oleh keluarga yang baru mereka kenal.
"Daddy menjadi yakin untuk pergi meninggalkanmu, Princess. Kau sudah menemukan keluarga yang baik untukmu," gumam Stevent sambil menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Dirinya tak tahu sampai kapan akan bertahan. Stevent hanya mampu memasrahkan semuanya pada Dokter dak Tuhan. Hidupnya memang hanya ada di pada takdir Tuhan. Dirinya hanyalah manusia yang bisa berencana dan berikhtiar.
Stevent juga sudah tahu, jika penyakitnya tidak bisa disembuhkan. Tapi Dokter juga mengatakan jika penyakitnya ini bisa diobati. Dari sanalah, setidaknya Stevent memiliki semangat hidup untuk menemani putrinya di detik-detik hidupnya jika memang Allah sudah memberikan umurnya di usia saat ini.
Lamunanya buyar ketika mendengar suara Mama Ria menyuruh mereka semua masuk.
"Ayo masuk!"
"Selamat datang di rumah saya, Tuan. Terima kasih banyak sudah memberikan kesempatan bagi putra saya untuk membuktikan bahwa dirinya layak," ucap Mama Ria sambil sedikit membungkuk.
Stevent yang duduk di kursi roda mengangguk. "Harusnya saya yang berterima kasih pada anda, Nyonya. Terima kasih sudah menghadirkan putra yang begitu baik untuk putriku dan membuatnya bahagia."
Dua orang tua itu saling melemparkan tatapan kebahagiaan. Mereka berdua memang sudah terlihat begitu akrab. Hingga hal itu membuat Jessi dan Rey yang berada tak jauh dari mereka menjadi bingung.
Tentu saja banyak pertanyaan yang memenuhi pikirannya dengan melihat keakraban mamanya dengan calon mertuanya ini. Namun, Rey menahan itu semua untuk dia pertanyakan nanti saat waktunya sudah kondusif.
"Baiklah, silahkan Tuan istirahat. Saya sudah menyiapkan kamar khusus untuk anda."
"Terima kasih atas kebaikan anda."
"Sama-sama, Tuan."
Setelah kepergian para Dokter dan perawat membawa Stevent ke kamar. Mama Ria berjalan menuju sofa ruang tamu yang disana dirinya sudah ditunggu oleh putranya sendiri.
"Kemana Bima, Rey?" tanya Mama Ria setelah duduk tepat di samping Jessica.
__ADS_1
"Dia langsung kembali ke kantor, Ma."
"Kasihan Bima, Rey. Dia begitu bekerja keras bersama Haura."
"Haura masih disini, Ma?"
"Ya. Dirinya kekeh disini sampai menunggu kamu pulang."
Rey mengangguk. Tapi dirinya tak memikirkan itu dulu. Ada hal yang lebih penting untuk dipertanyakan pada sang mama.
Raut wajah Rey yang kebingungan membuat Mama Ria yang melihatnya bingung. "Ada apa?"
Rey menghela nafasnya pelan. Dia berjalan dan duduk di samping kanan mamanya. Akhirnya tubuh Mama Ria dihimpit oleh Rey dan Jessica yang duduk di samping kanan kirinya.
"Aku ingin menanyakan sesuatu hal pada Mama."
Mama Ria tak terkejut. Dirinya sudah bisa menebak ke arah mana putranya ini ingin bertanya. Dia hanya memberikan jawaban anggukan kepala sebagai pertanda bahwa Mama Ria menyetujui Rey untuk bertanya padanya.
"Apakah Mama menemui Tuan Stevent secara pribadi?"
Mama Ria terdiam. Dia menatap lekat kedua bola mata putranya yang seperti menunggu jawaban dari bibirnya ini. Tak ada hal yang bisa ditutupi jika seperti ini. Akhirnya Mama Ria menjawabnya dengan mengangguk.
Terharu? Tentu saja. Rey tak menyangka Mamanya ini bisa melakukan suatu hal tanpa dia ketahui. Dirinya juga sempat tak percaya akan ucapan Stevent tentang mamanya. Tapi, melihat dan mendengar jawaban mamanya itu, tentu saja membuat hatinya bergetar.
"Kenapa Mama lakukan itu?"
"Karena Mama hanya ingin kamu bahagia, Nak."
~Bersambung~
Apapun akan dilakukan seorang ibu jika untuk kebahagiaan mereka.
Bener gak emak-emak?
Jangan lupa tekan likenya dong guys. Yang bab sebelumnya belum di like, yok like.
__ADS_1