Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (11)


__ADS_3

Aline pergi ke kantor barunya diantar supir. Karena ia punya misi mendekati Owen, ia pun tentu harus berusaha keras menempel pada Owen. Baru saja Aline memasuki gedung kantor barunya, ia langsung melapor pada pihak keamanan sesuai pentunjuk Hans sehari sebelumnya.


Seorang petugas keamanan meminta Aline menunggu, dan tak lama petugas itu kembali dengan membawa sebuah tanda pengenal karyawan. Ia memberikan tanda pengenal milik Aline dan meminta Aline menscan tanda pengenal itu agar bisa masuk.


Aline yang sudah tahu pun tak ingin terlihat sok tahu. Ia menganggukkan kepala dan mengiakan setiap arahan petugas keamana. Aline tak lupa berterima kasih, ia sudah dibantu dan diberikan penjelasan. Setelah menscan tanda pengenal dan masuk, Aline lantas berjalan menuju lift.


Aline langsung masuk ke dalam. Lift dan menekan lantai tujuan. Karena ruangan CEO berada di lantai tujuh belas, maka ia juga harus ke lantai yang sama. Begitu melihat Aline menekan angka tujuh belas, beberapa orang yang ada di dalam lift pun menatap Aline.


"Hallo, apa Anda karyawan baru?" tanya seseorang  di samping Aline. Seorang wanita cantik dengan dua lesung pipi.


"Oh, Hallo. Ya, saya karyawan baru. Salam kenal," sapa balik Aline.


"Saya Marissa, Kepala Departemen pemasaran produk. Anda karyawan bagian apa?" tanya Marissa.


"Oh, saya ... Sekretaris CEO." jawab Aline tersenyum cantik.


Seketika suasana hening. Beberapa berbisik-bisik. Aline tidak tahu, kenapa orang-orang terlihat aneh ketika ia memberitahu, jika ia adalah Sekretaris CEO. Aline yang penasaran pun mendekat dan berbisik pada Marissa. Ia bertanya kenapa semua orang berbisik-bisik?


Marissa pun berbisik dan memberikan jawaban. Mendengar jawaban Marissa, Aline pun terkejut. Ternyata di kantor, Owen memiliku reputasi yang tidak begitu baik. Bahkan Owen dikenap sebagi Boss yang kejam karena tak akan menoleransi kesalahan sekecil apapun. Dan bahkan ada rumor kalau Sekretaris CEO sudah sangat sering ganti karena kebanyakan tak tahan bekerja lansung dibawah tekanan CEO.


Aline tersenyum, "Wah, ternyata dia sepertiku. Pecat langsung orang yang malas dan lambat seperti siput. Hahaha ... " batin Aline senang.

__ADS_1


Aline tidak khawatir, kalau hanya soal tekanan saja dia bisa menghempasnya. Asam, asin, manis sampai rasa pahit sudah dia coba semua dalam perjalanan karirnya. Aline yang sedari remaja sudah magang, susah tahan untuk dipelakukan seburuk apapun. Papanya sangat  disiplin dan tegas. Semua anaknya pasti diminta merangkak dari lantai bawah baru bisa perlahan naik ke atas. Itulah kenapa Aline dan dua Kakaknya sangat kompeten dalam pekerjaannya.


Marissa menatap Aline, "Sepertinya Anda tidak khawatir sedikitpun, ya?" kata Marissa merasa aneh.


Aline tersenyum, "Saya sudah terbiasa. Atasan saya sebelumnya bahkan meminta saya merangkak dari dasar," kata Aline.


Marissa terkejut. Ia pun berpikir jika Aline mendapatkan perlakuan buruk dengan diminta merangkak dari lantai ke lantai bak budak. Marrisa menilai atasan Aline adalah seorang psikopat, yang jahat dan kejam.


"Bagaimana bisa ada orang sepeti itu? dia memperlakukan orang seperti binatang peliharaan saja. Meski CEO di sini juga dikenal sebagai monster, tapi ternyata ada yang lebih parah, ya." kata Marissa.


Aline bingung. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Marissa. Padahal apa yang dimaksud Aline adalah perumpamaan saja, di mana Papanya meminta semua anaknya memulai pekerjaan dari paling dasar, sebagai seorang pekerja kasar serabutan. Seperti mengantar dokumen, menata gudang  menata berkas dan lain-lain. Bahkan saat itu Aline ataupun kedua Kakaknya tak boleh mengungkap identitas sebagai anak pemilik perusahaan. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu.


Tentu saja Aline dulu sangat sering mendapat perlakuan tak menyenangkan. Sampai pernah dikerjai juga. Meski kesal, Aline harus menahan diri. Ia tidak boleh menguak identitasnya. Semakin hari perlakuan  yang diterima Aline pun semakin beragam. Aline juga sampai pernah mau dilecehkan juga. Akan tetapi saat ia berhasil menduduki singgasananya, ia langsung membalas bekali-kali lipat orang-orang jahat yang menindasnya. Bahkan sampai ada yang menangis dan memohon ampunan, sampai menampar wajah sendiri dan mengatai diri sendiri bodoh. Tuan Putri Jahat pun menjadi jululan Aline. Dan setelah itu tidak ada orang yang berani memperlakukan orang-orang baru seenaknya. Berkat Aline juga kejahatan-kejahatan yang terselubung bisa terkuak seluruhnya. Semua aturan dirubah dan yang keberatan atau tidak terima boleh angkat kaki. Karena perusahaan yang didirikan Kakeknya hanya mempekerjakan orang-orang yang kompeten tanpa mengeluh. Kerja cepat, tepat dan akurat.


Aline sampai di lantai tujuh belas. Ia melihat sekeliling dan mencari-cari keberadaan ruangan CEO. Setidaknya setelah tahu di mana ruangan CEO, ia akan tau meja kerjanya.


"Nona Aline ... " sapa Hans. Berjalan mendekati Aline.


"Oh, Pak Asisten." sapa balik Aline.


"Saya baru saja ingin menjemput Anda ke bawah. Selamat datang di GoodFood. Selamat bergabung, Nona." kata Hans tersenyum.

__ADS_1


"Ya, terima kasih, Pak Hans." jawab Aline.


Hans mengamati Aline. Hans cukup bingung karena Aline yang ia temui di luar dan di dalam kantor berbeda. Hans berpikir, mungkin karena sedang ada di dalam kantor, Aura kepemimpinan Aline terpancar.


"Kata Pak CEO, Nona Aline bukanlah wanita sembarangan. Kelihatannya memang seperti itu." batin Hans.


"Kalau begitu, Pak. Di mana meja kerja saya?" tanya Aline.


"Oh, ya. Mari saya Antar." kata Hans.


Aline mempersilakan Hans memimpin jalan. Ia mengikuti Hans berjalan menuju meja kerjanya. Hans kagum dengan sikap Aline yang bisa dengan baik memperlakukan rekan kerja. Tidak semua orang memiliki sikap seperti Aline.


Sesampainya di meja kerja Aline, Hans meminta Aline duduk dengan nyaman. Di hari pertama kerja tidak akan ada banyak pekerjaan karena Aline harus membiasakam diri di lingkungan baru. Aline mengangguk dan mengiakan perkataan Hans. Lagi-lagi ia tidak menjawab asal perkataan Hans. Sebagai orang baru, ia tidak boleh bersikap arogan dan harus pura-pura tidak tahu walaupun sudah tahu. 


Seseorang datang dan menyapa Hans. Itu adalah Kepala Sekretaris. Hans memperkenalkan Kepala Sekretaris kepada Aline. Keduanya pun lantas berkenalan. Kepala Sekretaris itu bernama Nana. Nana terlihat tidak menyukai Aline. Sikapnya saat berkenalan terlihat tak ramah sama sekali.


Aline tahu benar tipe orang seperti apa Nana. Diperusahaan Papanya sangat sering ia menemui orang macam Nana. Yang ujung-ujungnya akan menindas dan mempermaimkam orang-orang baru. Aline yang sudah bisa membaca pergerakan Nana pun menanggapi sikap tak ramah Nana dengan senyuman.


Nana terkejut, Aline masih bisa tersenyum lebar meski ia sudah bersikap tak ramah. Nana berpikir, jika orang lain pasti akan langsung kesal dan ekspresinya berubah. Hanya Aline, satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh sikapnya.


"Kenapa dia berbeda, ya?" batin Nana.

__ADS_1


Aline menatap Nana, "Kamu mencari gara-gara dengan orang yang salah, Nana." batin Aline.


__ADS_2