
Hai, Cinta.
Dimanapun kamu berada, tunggu aku sebentar saja.
Aku akan menjemput kamu dan cintamu agar kita bisa bersama-sama.
~Reynaldi Johan Pratama~
****
Sore hari di Indonesia.
Keadaan Rey mulai membaik. Demamnya mulai turun. Bahkan tubuhnya sudah tak menggigil lagi. Mama Ria segera membereskan segala kekacauan seperti baskom, sapu tangan untuk mengompres dan kotak obat. Dia hanya menyiapkan obat dan segelas air putih yang tadi diberikan dokter.
Setelah Mama Ria meletakkan semua, dia hendak keluar dari kamar. Namun, suara lenguhan Rey, membuatnya mengurungkan niatnya.
"Alhamdulillah, kamu sudah bangun," ucap Mama Ria dengan bahagia.
Rey yang baru membuka matanya hanya mampu menatap mamanya yang sepertinya kurang tidur. Bahkan terlihat sekali kantung mata yang menggantung di matanya.
Rey memegang punggung tangan sang mama dan menciumnya. "Maafin Rey, Ma."
Mama Ria menggeleng. Diusapnya kepala sang putra dan memberikan kecupan singkat di dahinya. "Kamu gak salah, Nak. Mama yang salah disini," ujarnya dengan menahan tangis.
"Mama mohon jangan sakit lagi, Nak. Kamu harus sembuh dan kejarlah cintamu dimanapun dia berada."
Rey secara spontan tersenyum meski bibirnya masih pucat. Dia seakan mendapatkan siraman air semangat hingga membuat dirinya merasa jauh lebih baik.
"Rey pasti sembuh, Ma," ucapnya yakin. "Lalu Rey akan mengejar Jessica dimanapun dia berada." Lanjutnya dengan senyuman.
****
Keesokan harinya.
Karena semangatnya yang muncul serta dia meminum obatnya teratur. Membuat Rey sembuh lebih cepat. Lelaki itu sudah menelpon Bima untuk cepat mencari keberadaan dimana wanitanya itu berada saat ini.
Wajah bahagia dan senang begitu jelas kentara pada seorang Reynaldi Johan Pratama. Berita dari Bima sungguh membuatnya semangat menyelesaikan semua pekerjaannya dan segera terbang ke New York.
Beberapa menit yang lalu Asistennya itu datang dengan tergopoh-gopoh. Masih dengan nafas tersenggal, Bima mengatakan jika dia sudah mengetahui dimana Jessica tinggal. Hingga akhirnya, kata 'New York' keluar dari bibir Bima dengan begitu jelas.
"Tunggu aku, Honey. Kita akan bersama kembali." Batin Rey berteriak dan dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang begitu jelas dia rasakan.
Menyelesaikan semuanya ternyata membutuhkan waktu sampai sore hari. Hingga akhirnya, Rey segera keluar dari Perusahaannya dan mengendarai sendiri mobil itu menuju ke rumahnya. Tak Ada lagi yang bisa menahannya. Tak ada lagi alasan untuk menundanya agar berangkat.
Rey segera memasuki halaman rumah setelah pagar pintunya terbuka lebar.
"Terima kasih, Pak," ucap Rey sopan dengan senyuman.
__ADS_1
Dia memarkirkan mobilnya di depan pintu utama dan segera keluar dari kendaraannya itu. Berjalan dengan tergesa, dia mencari keberadaan dimana mamanya saat ini.
"Mama," teriak Rey dengan membuka kamar mamanya.
Namun disana hanya kekosongan. Rey mencari kembali mamanya di ruang kerja beliau, tapi tetap saja tak ada. Akhirnya dia bertanya kepada salah satu pelayan dan mengatakan jika sang mama berada di taman belakang rumahnya.
"Ma," panggilnya senang dengan sedikit berlari.
"Rey udah pulang, Nak?"
"Udah, Ma. Rey bawa kabar bahagia buat, Mama." Cerita Rey dengan wajah bahagia.
"Kabar apa, Sayang?" Mama Ria meletakkan gunting taman dan segera mencuci tangannya.
"Aku udah tau dimana Jessica berada."
"Alhamdulillah." Mama Ria mengusap wajahnya. Dia segera mendekat pada putra tunggalnya itu dan duduk di kursi yang sama. "Mama ikut seneng, Rey. Terus bagaimana?"
Rey terdiam. Dirinya baru ingat jika berangkat ke New York, lalu sang mama bersama siapa?
"Emmm apa mama mau ikut denganku menjemputnya?"
Mama Ria tersenyum. Sebagai seorang ibu dia begitu tahu apa yang ada dipikiran putranya ini. Mama Ria memegang tangan Rey dan mengusapnya.
"Jangan khawatirkan Mama, Rey. Mama bakalan baik-baik aja kok," ucap Mama Ria menatap sang putra dengan tersenyum.
Mama Ria terlihat pasrah, "baiklah, apapun yang Rey mau. Mama setuju."
"Gitu dong, Ma." Rey memeluk mamanya dari samping. "Kalau gini Rey bakal tenang, Ma."
Mama Ria hanya tersenyum di dalam pelukan putranya. Kejadian seperti ini memang bukan hanya satu atau dua kali. Namun, berkali-kali sudah terjadi. Jika Rey sedang ada perjalanan bisnis maka terkadang Rey menyuruh Bima tinggal dan tak ikut dengannya untuk bekerja.
****
Tengah malam, New York.
Balkon kamar menjadi tempat istimewa untuknya saat ini. Menumpahkan kesedihan dan kerinduannya di tempat ini. Jessi menengadah, langit New York memang indah. Namun, hal itu menjadi biasa saja karena hatinya tak ada disini.
Jessi menyandarkan tubuhnya pada tembok sekat balkon dengan kamarnya. Dia memejamkan mata dan membayangkan wajah Rey yang selalu menari-nari di pikirannya.
Tanpa terasa, air matanya kembali mengalir. Rindu yang begitu membuncah membuatnya tak menyadari jika angin malam semakin menusuk. Dirinya hanya ingin ketenangan dan disini tempat yang begitu dia sukai dari kecil.
Entah sudah beberapa lama dia disini, tiba-tiba Jessi merasakan elusan tangan di pundaknya hingga membuatnya menoleh.
"Oma."
"Ngapain kamu disini malem-malem?"
"Gak ada, Oma. Aku suka disini karena tenang." Jessi membetulkan duduknya dan mendongakkan kepalanya karena ada sang oma yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Tapi ini sudah malam, Nak. Gak baik angin malam buat kamu yang habis sakit." Nasihat Oma Maria.
"Biarlah, Oma. Sakit tubuhku tak sebanding dengan sakit hatiku," sahut Jessi sambil menatap kedepan.
Maria memandang sedih. Dia begitu paham apa yang dirasakan cucunya saat ini. Sungguh dia merasakan sakit juga ketika wajah cucu yang begitu dia sayang tak ada rona kebahagiaan.
"Bangun, Nak! Oma ingin berbicara padamu."
Jessica dengan malas ikut beranjak. Dia segera mengikuti sang oma yang berjalan memakai tongkat menuju ranjangnya.
"Apa kau serius bersama Rey?" tanya Maria menatap lekat wajah cucunya.
Jessi menatap balik dengan wajah yakin. "Aku serius, Oma."
"Jika kamu serius, Oma akan membantumu, Sayang."
****
Hari ini juga Rey segera menyiapkan pesawat pribadinya untuk menjemput cintanya di New York. Entah apapun halangannya, meski itu ayah dari sang kekasih, dia akan terus mengejar dan meyakinkan Stevent untuk merestui mereka berdua.
Rey sudah cukup sekali dia ikhlas, cukup dua kali dia kalah start dan cukup sekali dia jatuh dalam kubangan pernikahan dengan orang yang tak dia cintai.
Saat ini dirinya akan berjuang. Dia akan berkorban apapun itu hanya untuk bisa bersama Jessica. Dia akan melakukan apapun yang diminta Stevent asalkan dia menerima Rey sebagai menantunya.
"Ma, Rey berangkat yah," pamitnya dengan mencium punggung tangan Mama Ria.
"Hati-hati ya, Nak. Kabarin Mama kalau sudah sampai."
"Siap, Boss."
Lambaian tangan dan untaian doa menjadi pengantar sang putra berangkat mengejar cintanya. Mama Ria segera masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil sang putra sudah tak terlihat.
Mengambil ponsel yang diletakkan di atas meja. Dengan lihai dia segera menekan beberapa tombol dan menghubunginya.
"Assalamu'alaykum." Suara dari seberang terdengar lembut.
"Waalaikumsalam, ini Tante, Sayang."
"Iya, Tante. Ada apa?"
"Bisakah kamu membantu Tante?"
~Bersambung~
Nah hayoo siapa yang ditelpon sama mamanya Rey?
Apalagi Oma Maria udah dukung loh, mau bantu juga. Uhuyyy
__ADS_1