
Sejujurnya rasa benci ini hanya ucapan yang keluar dari bibirku secara spontan. Tapi, sakit hatiku akan sikap Daddy masih begitu terasa hingga relung hatiku yang terdalam. Berilah aku waktu, Dad. Untuk mengerti semua hal yang kau ucapkan saat ini. ~Jessica Caroline~
****
Hari mulai berganti hari. Waktu pun terus berlalu. Tak ada lagi celah untuknya berleha-leha atau bersantai. Hampir satu bulan ini dirinya tak pernah beristirahat dengan baik. Bahkan makan pun dia sudah tak teratur.
Namun dari semua itu, dirinya tak pernah mengeluh dan berhenti berjuang. Meski jika melihat nominal yang selalu masuk tak sesuai yang diharapkan. Tapi biarlah, semua yang akan terjadi dia pasrahkan pada Tuhan. Bukankah dirinya sudah berusaha, tawakal, berjuang dan berdoa. Terakhir, tinggal percaya kan saja semua pada Tuhan.
Hubungan Rey dan Jessica pun semakin baik. Meski mereka hanya bertukar pesan melalui ponsel, tapi itu tak mengurangi kepercayaan keduanya. Bahkan seringkali, Jessica menemani Rey yang sedang begadang mengerjakan pekerjaan kantor yang ia bawa ke apartemen.
Rasa cinta dan sayang keduanya pun semakin kuat. Bahkan Jessi berulang kali memikirkan cara bagaimana bisa keluar dari rumahnya Stevent dan menemui sang kekasih secara langsung. Rasa rindu yang mendalam membuatnya semakin nekat untuk pergi dari rumah ini. Tapi, berkali-kali rencananya harus gagal karena sang ayah dan bodyguardnya selalu berada di rumah.
Jessica sudah seperti tahanan tingkat tinggi saja. Dia hanya tidur, mandi, makan dan berleha-leha. Pernah dirinya merayu sang penjaga di depan untuk bisa keluar namun segera penjaga itu menolak dan tak mengizinkan.
Rey sendiri, sudah sering menasehati sang kekasih agar tak berbuat hal yang malah membuat mereka berada dalam kesulitan. Biarlah, kali ini cinta mereka harus mengalah. Tapi, Rey percaya bahwa sekeras apapun hati Stevent, jika Tuhan sudah bilang fayakun maka semua akan kembali seperti takdirnya.
Rey menatap lembaran kertas putih yang berada di depannya. Hasil dari kerja kerasnya ini masih jauh dari yang diharapkan.
"Huft, sepertinya memang Tuhan tak berada disisiku," gumamnya sambil meletakkan kertas itu dan menyandarkan punggung pada kursi kerja yang ia duduki.
Banyak pertanyaan yang menumpuk di pikirannya. Apakah ia sanggup menyelesaikan syarat dari Stevent? Kalau tidak, apa dia sanggup meninggalkan Jessi dan mengikhlaskan kepergiannya?
Spontan pria itu menggeleng. Dia tak mau kehilangan lagi, atau merelakan seseorang yang mengisi hatinya. Dirinya harus bisa meyakinkan Stevent agar merestui hubungan keduanya. Dia harus percaya pada kemampuan dirinya. Rey menarik nafas dalam dan mulai meneruskan pekerjaan yang belum selesai ia laksanakan.
****
Seorang gadis tengah menatap sebuah pigura yang berada di genggaman kedua tangannya. Matanya terlihat sendu, bahkan sesekali air mata mengalir dari kedua sudut matanya.
Isak tangis bahkan terdengar dengan bahunya yang naik turun. Dia mengusap kaca itu membayangkan jika yang dia usap adalah wajah seseorang yang begitu dia rindukan.
"Maafkan Jessi, Ma. Jessi tak bisa menjaga Daddy," ucapnya dengan derai air mata.
__ADS_1
Pigura yang berada di tangannya adalah foto keluarga yang terdiri dan Daddy Stevent, Mom and Jessica. Rona wajah bahagia begitu terlihat disana. Senyum mengembang terlihat di semua sudut bibir dari ketiganya. Bahkan wajah Stevent terlihat begitu lembut dan tak sekaku saat ini.
"Aku begitu membenci Daddy, Ma. Dia menghalangi kebahagiaan Jessi. Jess benci Daddy." Serunya makin kencang dengan memukul dadanya untuk menghilangkan rasa sakit yang makin terasa.
Dari kejadian saat itu. Hubungan antara anak dan ayah itu semakin jauh. Sudah tak ada obrolan apapun antara Stevent dan Jessica. Bahkan untuk bertemu pun, keduanya seperti saling menghindari. Jessica yang selalu makan di kamarnya dan Stevent yang selalu berkutat di ruang kerjanya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Stevent saat ini. Karena semua orang tak ada yang bisa menebak apa yang dipikirkan ayah anak satu ini. Jessi melempar pigura itu ke ranjang sisi kanannya dan menenggelamkan kepalanya di atas bantal yang dia pegang.
Selalu seperti ini. Dia akan menangis ketika mengingat pertemuan terakhir dengan sang papa. Kekecewaan itu masih bercokol pada hati dan diri Jessica. Gadis itu bahkan mengira jika sang Daddy akan mengalah dan merestui, tapi ternyata semua itu hanya hayalan. Sang Daddy bahkan tak menemuinya dan entah apa yang dilakukan oleh Stevent tapi Jessi sudah tak peduli.
Entah beberapa lama dia menangis. Akhirnya air matanya mulai menyurut. Jessica perlahan menurunkan kaki jenjangnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Tak beberapa lama, akhirnya dia keluar dari kamar mandi dan berjalan keluar dari kamar. Ah rasanya begitu sesak berada di dalam kamar setiap hari. Tapi tak apalah lah, hanya 40 hari dan tinggal sedikit lagi Rey akan datang dan membuktikan pada ayahnya, Stevent.
Kepala pelayan yang melihat kedatangan Jessica ke dapur tentu saja langsung menghampirinya.
"Ada yang bisa kami bantu, Nona muda?" tanya kepala pelayan dengan menunduk sopan.
Jessica yang hendak menuju lemari pendingin akhirnya mengurungkan niatnya. Dia menatap kepala pelayan itu sambil menghembuskan nafas berat.
"Baiklah, Nona. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, Nona tinggal memanggil kami."
Jessica hanya mengangguk dan kembali menuju lemari pendingin. Matanya begitu jeli mencari apa yang sedang diinginkan hatinya.
"Ahh ternyata ada." Gumamnya dengan mata berbinar. Segera dia mengambil alpukat dan mengeluarkannya dari kulkas.
Menyiapkan segala hal yang akan dia butuhkan untuk membuat Jus Alpukat lalu segera dia mengupas dan memotong buah alpukat kecil-kecil. Jessica mulai menuangkan susu, air, es batu dan alpukat ke dalam blender jus yang tersedia.
Perlahan pemotong blender itu bergerak cepat dan menghancurkan apapun yang berada di dalamnya. Senyum mengembang di bibir Jessi jelas terlihat ketika melihat tekstur jus itu sesuai dengan keinginannya.
"Hmm akhirnya selesai."
Membersihkan semua kekacauan yang dia perbuat. Lalu Jessi mulai berjalan meninggalkan dapur dengan membawa segelas jus alpukat berukuran besar.
__ADS_1
Sepertinya hari ini Tuhan tengah merencanakan sesuatu untuknya. Disaat Jessi mulai menaiki anak tangga menuju kamarnya. Di ujung sana ia melihat sang Daddy berjalan menuruni tangga. Tak ada hal yang mampu membuatnya berbalik, hingga akhirnya Jessi berjalan terus tanpa menatap sang ayah.
Tapi saat keduanya berpapasan. Panggilan sang ayah membuat Jessi menghentikan langkah kakinya.
"Apakah kamu masih membenci Daddy?" suara Stevent terdengar begitu pelan. Namun masih bisa ditangkap baik oleh Jessi yang saat ini terdiam.
"Jika kau tau apa jawabanku. Untuk apa masih bertanya?"
Stevent memejamkan matanya. Dia tak menyangka sang anak tak sudi memanggilnya Daddy kembali. Hati ayah mana yang tak sakit hati? Ketika dia melihat bagaimana sikap putri yang biasa bermanja padanya, sekarang berubah 180° dari biasanya.
Sedih? Tentu saja. Rindu? Pastinya. Namun, Stevent hanya menginginkan kebaikan untuk sang putri hingga dia melakukan ini semua. Tapi, sepertinya Jessica selalu salah paham dengan apa yang dia lakukan untuk melihat bagaimana kesungguhan pria yang dicintai putrinya itu.
"Daddy hanya ingin meminta maaf padamu, Princess," ucap Stevent dengan suara serak menahan tangis.
Jika sudah berhadapan dengan sang anak. Emmang Stevent selalu tak kuasa menahan tangisannya. Setiap melihat Jessica, dia selalu terbayang akan wajah sang istri.
Jessica tak menjawab. Dia kembali melanjutkan langkahnya hingga suara langkah kakinya bisa didengar oleh telinga Stevent.
"Daddy melakukan ini hanya untuk kebahagiaanmu, Sayang. Daddy tak ingin kamu jatuh pada pelukan lelaki yang salah. Tapi, sepertinya kamu sudah salah paham akan maksud Daddy hingga kamu membenci pria paruh baya ini."
Deg.
Jessica merasa tertohok akan ucapan sang ayah. Apa benar yang dikatakan oleh Stefany saat ini. Apa memang dirinya hanya salah paham? Atau memang sang ayah lah yang egois.
"Daddy tak meminta kamu memaafkan semua kesalahan, Daddy. Tapi Daddy hanya ingin bilang. Apa yang Daddy lakukan semua hanya untuk kebaikan dan kebahagiaanmu, Princess."
~Bersambung~
Akur gak yah Anak dan Ayah ini?
Rasanya aku sakit loh jadi Jessi tapi kalau di posisi Stevent aku juga ngerti kalu yang dia lakuin cuma buat kebaikan anak semata wayangnya.
Aku minta like aja guys. Ini novel gak ada gaji, mangkanya aku minta like doang biar aku jadi semangat upnya. Yang belum like diatas yuk balik ke atas lagi.
__ADS_1