Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Ajakan Makan Siang


__ADS_3


Bukankah setiap pertemuan yang tak direncanakan termasuk takdir tuhan? Begitupun dengan sebuah rasa cinta. Aku tak bisa mengatakan apa yang sedang terjadi padaku, tetapi yang aku tahu. Setiap kali bersamamu, jantungku selalu berdebar tak menentu. ~Bima Mahendra~


****


Sejak tadi perasaannya tak menentu. Kakinya bergerak kesana kemari untuk menenangkan hatinya. Pikiran menimang apa keputusan yang disarankan oleh Asistennya adalah keputusan yang tepat?


Bagaimanapun kembali berkecimpung dengan masa lalu membuat hatinya kalang kabut. Belum lagi, jika bertemu dengan Aqila, dia bisa pastikan jika perasaan sakit itu masih ada. Namun, senyum Jessica yang tiba-tiba muncul di pikirannya, air mata yang merembes di kedua matanya saat mereka tak mendapat restu serta, pengharapan sang kekasih padanya, membuat Rey sadar bahwa dia berjuang bukan untuknya saja.


Melainkan hari ini dia berjuang untuk dia dan sang kekasih. Berjuang untuk hubungan mereka agar bisa naik ke jenjang yang lebih serius. Jika begini, tak ada lagi masa lalu yang mampu mengusiknya. Dia sudah memiliki tambatan hati. Dirinya sudah memiliki calon masa depan. Dari sinilah, ia tak boleh tergoda atau kembali melihat sakit hati ataupun jatuh cinta lagi pada masa lalunya.


Rey menarik nafasnya. Semua itu hanya masa lalu dan dia harus kembali karena masa depannya. Bantuan ini begitu mampu membuatnya memiliki investor terbaik untuk perusahaan bangkrut milik Stevent. Dia harus, harus bisa.


"Baiklah, aku akan menghubungi Khali sekarang juga." 


Saat dirinya hendak mencari nama Khali, tiba-tiba nama Haura muncul menghubungi dirinya. 


"Ada apa Haura menghubungiku?" gumamnya sambil meletakkan ponsel di telinga kanannya. 


"Assalamualaikum." Suara dari seberang terdengar begitu lembut.


"Wa'alaykumsalam." 


"Apa Haura mengganggu Kak Rey?" 


"Nggak, Ra. Memang ada apa?"


"Kakak ada dimana?" 


Rey terdiam. Apa dia harus mengatakan pada Haura tentang keberadaannya? Apa dirinya harus menceritakan apa yang sedang terjadi dengan hubungannya.


"Kak," panggil Haura karena tak ada jawaban.


"Eh, iya, Ra?"


"Kakak ada dimana?"


"Aku ada di New York?"


"Hah!" Haura memekik. "Maaf, Kak. Ngapain Kakak disana?" 


"Aku sedang menghadapi masalah, Ra." Akhirnya Rey memilih jujur. Dia berharap semoga ia akan mendapatkan saran dan nasehat dari Haura.


Bagaimanapun gadis itu begitu mengerti dirinya sejak ia berkenalan. Haura adalah gadis lemah lembut dan dewasa. Maka dari itu Rey sangat senang jika dirinya berbagi cerita dengan gadis yang umurnya jauh dibawahnya.


Perlahan mulailah Rey menceritakan tentang kedatangan Stevent yang mengejutkannya. Lalu Jessica yang dibawa karena mereka tak direstui hingga dirinya sampai di Negara bebas ini.

__ADS_1


Bahkan sampai dengan syarat yang diberikan oleh Stevent pun diceritakan oleh Rey pada Haura. Biarlah, sekali terjun maka terjun sekalian. Semoga Haura ada saran untuknya saat ini.


"Aku harus melakukan apa, Ra? Aku bingung," seru Rey dengan nada yang begitu frustasi.


"Menurutku saran dari Asisten Kakak bagus juga."


"Apaa?" 


"Ya, Kakakku Khali pasti bisa membantu masalah, Kak Rey." 


"Tapi…."


"Tapi kenapa?"


"Aku malu, Ra." Rey menjawabnya dengan pelan. 


Haura bisa menebak jika lelaki di depannya pasti tak enak hati. Di tempatnya berada, gadis itu hanya tersenyum dan membetulkan dudukan nya.


"Apa Kakak mau kehilangan kekasih, Kak Rey?" 


Rey menggeleng meski Haura tak melihatnya. "Gak mau lah, Ra."


"Maka dari itu. Hubungilah Kak Khali. Katakan dengan jujur. Aku yakin Kak Khali mau bantu."


****


Waktu sudah menunjukkan untuk makan siang. Bima merentangkan tangannya ke atas untuk meregangkan otot tangannya yang sudah sakit.


"Kalau aku terus-terusan kayak gini bisa jatuh sakit," gumamnya pelan.


Memijit pelipisnya pelan. Bima mulai menyadari jika ia dan Rey butuh seorang sekretaris. Memang sejak kejadian Aqila dan Rossa, bosnya itu tak pernah mau memakai sekretaris lagi. Jadi hanya dirinya dan Rey saja yang selalu bekerja berdua dimanapun berada. Lalu sekarang, dampak dari bekerja berdua ini yang sungguh membuatnya merasakan apa itu arti kewalahan.


Perutnya yang sudah kosong mulai meronta. Dia segera mengambil jas yang berada di sandaran kursi kerjanya dan segera membalutkan ke tubuh kekarnya. Berjalan dengan tegas, ia segera keluar dari ruangan dan memasuki lift yang biasa dia pakai.


Menyandarkan punggung, Bima memejamkan matanya menikmati gerakan lift yang begitu halus dan hanya ada suara besi bergerak. Tak lama, pintu lift terbuka dan tercium aroma menenangkan yang membuat Bima membuka matanya.


Melirik ke samping. Bima seketika menegakkan tubuhnya saat tahu jika yang berdiri di sampingnya adalah Amanda.


"Selamat siang, Tuan," sapa Amanda dengan perasaan tak menentu.


Jujur ia sendiri begitu gemetaran saat mengetahui jika lift yang ia tunggu ternyata di dalamnya ada keberadaan lelaki pujaannya itu. Mau tak mau, Amanda akhirnya memasuki ruangan besi itu dan memilih berdiri di samping lelaki dingin itu. 


"Siang," sahut Bima dengan tegas.


"Tuan mau makan siang?" 


"Ya." 

__ADS_1


Amanda hanya membalas dengan manggut-manggut. Dia tak tahu harus mengatakan apa lagi karena pria di sampingnya terlalu cuek. Menghembuskan nafas lelah, Amanda lebih memilih menatap ke depan sambil menunggu pintu lift terbuka 


"Kenapa lama sekali?" gerutunya dalam hati.


Bima sendiri sejujurnya tak tahu harus mengatakan apa lagi. Sungguh ia juga bukan lelaki banyak bicara. Semenjak ia hidup dan bekerja. Kehidupan seorang Bima hanya ada di dua itu. Jika sampai di rumah ia hanya mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Sedangkan ketika di kantor, ia juga akan berkutat dengan berkas dan laptop. Jadi jangan kaget jika seorang Bima tak bisa merayu atau bahkan berbasa basi dengan lawan jenisnya.


Pintu lift terbuka membuat Amanda lega. Ia segera berpamitan dengan Rey untuk berjalan duluan.


"Saya duluan, Tuan. Permisi." Amanda memberikan bungkukan hormat lalu segera berjalan keluar dari lift.


Namun, baru beberapa langkah. Sebuah tangan dari belakang menahan lengan tangannya tangannya. Spontan gadis itu menoleh dan hendak memberikan pukulan maut dari tangannya yang lain. 


"Astaga, maaf Tuan." Amanda terkejut bukan main. Andai saja dia tak melihat, mungkin tangannya sudah menggeplak kepala orang yang dengan kurang ajar menariknya.


"Maaf."


Mulut Amanda menganga. Apa dirinya tak salah dengar? Lelaki yang biasanya cuek pada siapapun sekarang mengatakan maaf.


"Hy Manda." Tegur Bima membuat gadis itu tersentak kaget.


"Ya, Tuan. Tidak apa-apa," sahut Amanda bingung. "Ada apa Tuan menahan saya?" lanjutnya bertanya maksud dari atasannya ini.


"Apa kamu hendak makan siang?" tanya Bima.


"Ya, Tuan." Amanda mengangguk.


"Jika begitu. Bagaimana jika kita makan siang bersama?"


~Bersambung~


Duh Si Bima mulai berani nih. Ayo bang semangat, hehehe.


Maaf ya telat update. Akhir-akhir ini emang rada sibuk, apalagi hari ini aku mau melayat soalnya saudaraku ada yang meninggal. Tapi aku usahain nanti sore tetep up. Oke mau lanjut ngetik.


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di nome)


__ADS_1


__ADS_2