
Aku hanya meminta satu Tuhan. Tolong beri pintu maaf pada adikku dan jangan sampai apa yang aku pikirkan terjadi. ~Mario Sanoci~
****
"Jika kau tak berhenti. Kakak akan menembakmu," serunya berteriak.
Marlena benar-benar berhenti. Gadis itu berbalik dan menatap kakaknya yang beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Apa kau berani melesatkan peluru itu kepadaku?" serunya tersenyum mengejek. "Jangan lupakan, Kak. Kau begitu menyayangiku hingga aku yakin kau tak akan berani menembak adikmu sendiri."
Mario terdiam. Pikirannya begitu berkecamuk. Matanya terpejam sebentar lalu kalimat Papanya kembali terngiang. Dia membuka matanya cepat dengan kalimat yang terus berulang hingga akhirnya dia mengarahkan senjatanya dengan kilat dan,
Dor!
"Aghh!" Marlena menjerit.
Tepat serangan dari Mario mengenai paha kiri Marlena hingga membuat gadis itu terjatuh. Dia menatap tak percaya ke arah sang Kakak yang sedang menatapnya penuh kemarahan.
"Aku sudah memperingatimu, Mar. Tapi kau sendiri yang meminta aku untuk menembakmu," ujarnya penuh penekanan.
Semua pasukan yang milik Marlena tak bisa berkutik. Bagaimanapun Mario membawa lebih banyak lagi dan dengan mudah melumpuhkan semuanya. Saat ini, tinggal mereka yang ada di ruangan ini. Menyelesaikan semuanya dan membawa Rey pulang.
"Kau tega kepadaku, Kak!" seru Marlena marah.
"Ya. Kau juga dengan tega merusak kebahagiaan orang lain."
"Kau!" Marlena mengangkat pistolnya namun dengan cepat Mario menendang tangan sang adik dan melayangkan tembakan lagi di paha kanannya.
Dor!
__ADS_1
Erangan kesakitan mulai keluar dari bibir sang adik. Namun hal itu tak membuat hti Mario goyah. Cukup sudah tingkah adiknya begitu melebihi batas. Dua orang pria paruh baya yang tak bersalah sudah melayang dan sedang sekarat.
Lalu sekarang, tentu menjadi tugas anak pertama. Sebagai putra dan sebagai kakak laki-laki untuk membereskan semua ini.
Mario menatap Rey yang sedang menatapnya balik. Dia menyuruh pria itu mengulurkan tangannya untuk ia buka gembok di tangannya.
Dengan sekali tarikan. Mario menembak gembok itu hingga hancur. Lalu terlepas lah rantai yang melilit tubuhnya dan tak lupa Rey mengucapkan banyak terima kasih pada Mario.
"Cepat bawa Tuan Stevent dan Papaku ke rumah sakit. Aku akan menyelesaikan ini," ucapnya pada Rey dan dibalas anggukan.
Segera Jack menggendong tubuh Tuannya dan tak memedulikan tangannya yang terluka sedangkan Bima juga mengangkat tubuh pria yang sudah bersimbah darah begitu banyak. Para anak buah Mario mulai membantu mereka memasukkan tubuh Daddy Stevent dan Tuan Sanoci ke dalam helikopter.
Setelah semua masuk ke dalam. Pilot mulai menerbangkan benda itu dan mengendarai heli dengan segera. Tujuan mereka hanya satu rumah sakit dan mereka semua meninggalkan adik kakak yang masih ada di dalam mansion mewah itu.
****
Di Mansion Marlena.
Sepeninggal semua orang. Mario menatap iba ke arah adiknya. Keadaan Marlena betul-betul memprihatinkan, darah segar keluar dari kedua pahanya dan erangan-erangan kesakitan pun lolos dari bibirnya.
Mario berjongkok. Dia menatap adiknya dengan tatapan dalam. Semua ingatan kebahagiaan bersama sang adik begitu teringat jelas di otaknya.
Dia merindukan Marlena yang manja. Mario juga merindukan Marlena yang selalu tertawa ketika dia mengalah. Mario selalu bahagia ketika melihat Marlena menangis karena ia menggodanya.
Tapi sekarang. Lihatlah apa yang terjadi?
Keadaan dimana biasanya mereka seharusnya saling mengasihi kenapa saat ini malah saling marah dan menembak.
Tak lama Mario tersentak kaget saat sang adik tertawa dengan keras diiringi air mata yang mengalir.
"Hahaha aku menembak Papa. Horee aku menembak Papa. Wus wus dor dor dor," ucapnya dengan tawa bahagia dan tepuk tangan.
__ADS_1
Mario tertegun. Dia tak percaya jika keadaan adiknya sampai seperti ini. Apa maksud tawanya ini? Apakah adiknya menjadi gila? Apakah jiwa Marlena berguncang.
Lihatlah?
Marlena benar-benar hanya tertawa dan menangis. Bahkan gadis itu tak merasakan jika kedua pahanya terluka. Erangan dari bibirnya pun sudah tak ada hingga membuat Mario begitu takut.
"Siapkan mobil cepat!" teriak Mario dan segera menggendong tubuh Marlena.
Dia berlari kencang dan tak mempedulikan apapun. Saat ini dirinya hanya berdoa semoga apa yang dia pikirkan tidak terjadi pada adiknya sendiri. Bagaimanapun jiwa seorang Kakak masih ada dan dia begitu menyayangi adiknya, Marlena Sanoci.
~Bersambung~
Gimana kalau si Mar-mar gila?
Kalian setuju gak?
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di ****)