Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (18)


__ADS_3

Aline bercerita tentang masa kecilnya, sesuai dengan apa yang Papanya ceritakan padanya. Ia berkata kalau ada kalanya ia sangat rindu dan amat mendambakan sosok Mama. Terlebih saat melihat anak-anak lain seusinya memiliki sosok Mama yang memeluk atau sekadar menggandeng tangan anaknya.


"Terkadang aku heran. Kenapa papa tidak menikah lagi saat itu. Padahal Kakak kembarku masih kecil, dan aku masih bayi. Saat aku tanyai, Papa hanya menjawab, belum menemukan wanita yang cocok. Karena Papa takut wanita itu hanya mencintainya saja, tidak dengan ketiga anaknya." kata Aline.


"Maaf, ya. Aku tidak tahu dan jadinya malah menyinggung perasaaanmu." kata Owen.


Aline tersenyum, mengatakan kalau ia baik-baik saja. Ia menceritakan juga untu sekadar berbagi cerita saja. Owen lantas bertanya lagi, apakah Aline menyukai anak-anak? bagaimana Aline bisa mudah akrab dengan anak-anak? Sedangkan Aline saja masih lajang.


Aline menjawab, itu karena dulu ia membantu kakak iparnya yang sakit pasca melahirkan. Dan ia juga melakukan hal sama untuk iparny yang lain meski iparnya itu tidak sakit. Intinya Aline memang menyukai anak-anak dan bisa dengan mudah mendekati anak-anak.


"Oh, begitu. Mungkin karena itu juga Max menyukaimu." kata Owen.


"Ya? Baru saja Anda bilang apa?" tanya Aline menatap Owen.


Owen menuang wine ke dalam gelas, lalu memberikan gelas itu pada Aline. Owen mengulang kata-katanya, berkata kalau Maximilian menyukai Aline.


Aline tersentak kaget. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana bisa? sejak kapan? dan seberapa banyak rasa suka Maximilian?


"A-apa iya?" gumam Aline.


Owen tersenyum, "Kamu saja terkejut, apalagi aku. Aku yang Papanya sampai tidak habis pikir, kenapa putraku sendiri malah lebih menyukai orang lain dibandingkan Papanya." kata Owen.


Aline terkekeh. Ia tidak percaya kalau Owen akan begitu saat Maximilian menyukai orang lain selain Papanya. Aline lantas mengatakan dengan penuh rasa percaya diri, kalau ia punya daya tarik memikat hati setiap orang.


Owen mememinum winenya. Matanya lekat menatap Aline. Ia pun betanya, memangnya siapa saja yang sudah terpikat oleh Aline? Apakah anak-anak, atau pria?


"Anda ingin tahu?" Tanya Aline menatap Owen.


"Sudah aku katakan, kalau diluar kantor jangan memanggilku Pak atau apalah itu. Panggil saja namaku. A ... "kata-kata Owen terpotong oleh Aline yang langsung memanggil nama Owen dengan lembut.


"Owen ... " panggil Aline.

__ADS_1


Owen kaget, "Apa? Coba ulangi," kata Owen.


"Owen ... " panggil Aline lagi.


Owen langsung meneguk habis wine dalam gelas dan meletakkan gelas di atas meja. Ia langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Aline.


Aline keget, "A-apa? a-ada apa?" tanya Aline melihat Owen mendekatinya.


"Apa kamu terbiasa memanggil nama pria seperti itu?" tanya Owen mendwkatkan wajahnya kepada Aline.


Aline langsung menggelangkan kepala. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena ia tidak merasa pernah memangil nama pria lain dengan penuh perasaan.


"Apa kamu tahu, kalau kamu langsung bisa memancing pria datang hanya karena suaramu, Aline?" tanya Owen.


Aline mengerutkan dahi. Ia berusaha mencerna ucapan-ucapan Owen yang aneh menurutnya. Aline pun menduga dan bertanya apakah Owen salah satu dari pria itu?


"Apa kamu tergoda olehku, Owen?" tanya Aline menatap Owen dengan lekat.


Deg ... deg ... deg ...


Owen langsung duduk bersandar. Ia menarik napas dalam, lalu mengembuskan napas panjang. Pandangannya tertuju pada langit-langit ruang kerjanya.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Aline yang tiba-tiba berdiri.


Aline mendekatkan wajahnya ke  wajah Owen, "Jawablah, apakah kamu juga tergoda dengan suaraku? Owen Alexius," tanya Aline.


Owen keget, saat menatap Aline, jarak antara wajahnya dan Aline begitu dekat. Karena itu juga Owen sampai kesulitan menjawab pertanyaan Aline karena gugup.


Aline mengerutkan dahi kesal, Apa yang pria ini lakukan? dia yang tiba-tiba saja mendekatiku, lalu tiba-tiba juga seperti ini dan sekarang diam seolah tak bisa menjawab. Ahh, sial! aku tidak peduli lagi, aku akan mendesaknya sampai dia mau bicara.


Aline langsung duduk dipangkuan Owen. Tentu saja itu membuat Owen tersentak kaget, tapi juga tak mendorong Aline untuk menyingkir dari pangkuannya.

__ADS_1


"A-apa yang kamu lalukan?" tanya Owen.


"Maaf, aku tidak seharusnya seperti ini. Karena kamu yang mulai duluan, aku pun akan berkata jujur padamu. Aku tertarik padamu. Jika kamu tanya sejak kapan? Sejak awal kita bertemu. Sejak di rumah sakit. Jika kamu bertanya, bagaimana bisa? soal itu aku juga tidak tahu. Tiba-tiba saja aku berdebar dan terus menerus memikirkanmu. Sampai-sampai aku mencari tahu semua tentangmu dari internet. Aku ..." kata-kata Aline terhenti, karena Owen langsung mencium bibir Aline.


Aline kaget, tapi ia langsung membalas ciuman Owen dan mengalungkan kedua tangannya ke leher Owen. Keduanya berciuman mesra.


"Umh ... " gumam Aline.


Satu tangan Owen menahan tengkuk leher Aline, dan satu tangan lain memeluk pinggang ramping Aline.


Aline memejamkan mata menikmati ciumannya dengan Owen. Ia sungguh tidak menduga, ia dan Owen akan berciuman. Aline berpikir, apa itu karena wine? atau memang karena hal lain?


"Aku tidak peduli. Karena sudah seperti ini, aku nikmati saja. Kalaupun dia menciumku karena mabuk dan lupa, aku tinggal membuatnya ingat kembali. Aku mencintaimu, Owen. Sangat ... " batin Aline.


Ciuman terlepas. Karena terlalu bersemangat saat berciuman, keduanya sampai terengah-enggah. Aline dan Owen saling menatap, Owen mengusap lembut pipi Aline dan mendekatkan kembali wajahnya ke wajah Aline. Perlahan Owen mencium bibir Aline lagi.


Owen dan Aline kembali berciuman. Kali ini tangan Owen tak tinggal diam, tangannya mengusap lembut paha mulus Aline.


"Umh ... mmhhh ... " gumam Aline.


Karena itu kali pertama tubuhnya disentuh pria, Aline merasa aneh dan merapatkan dua kakinya. Owen langsung tersentak. Ia melepas ciuman dan bertanya apa yang dilakukan Aline?


"A-pa? apa yang sudah aku lakukan?" tanya Aline tampak kebingungan.


"Kenapa kamu merapatkan kakimu saat kamu berada di atas pangkuanku? apa kamu sengaja?" tanya Owen.


Aline masih belum paham. Ia hanya diam menatap Owen dengan mengerutkan dahi. Owen pun meminta Aline melihat ke bawah, Alin mengikuti kata-kat Owen menunduk dan melihat ke bawah. Dan saat itulah Aline mengerti, kenapa Owen tiba-tiba kaget dan mengira ia telah sengaja melakukan sesuatu.


"I-itu ... aku tidak sengaja. Aku akan berdiri." Kata Aline.


Aline bersiap hendak berdiri, tapi Owen langsung nendekap Aline dan menidurkan Aline di sofa. Aline pu menjerit karena berteriak.

__ADS_1


"Psshh ...."


Owen membekap mulut Aline agar tak berteriak. Aline langsung diam. Ia lantas menjilat telapak tangan Owen, sengaja menggoda Owen.


__ADS_2