Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Menggoda Bimanda


__ADS_3


Ternyata menggoda seseorang masih menjadi keahlianku sejak dulu. ~Reynaldi Johan Pratama~


****


Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Semua persiapan untuk menemui Perusahaan besar kedua di New York itu sudah selesai. Tinggal menunggu waktu makan siang saja untuk mereka bertemu di sebuah Restaurant.


Sejujurnya dalam hati Rey banyak pertanyaan yang ingin disampaikan pada sang Mama. Tapi dia bingung harus memulainya dari mana dulu. 


Menurut Rey, bagaimana bisa perusahaan besar ingin bekerja sama dengan mereka. Apalagi, mengingat bahwa keduanya tak pernah bertemu dan bekerja sama sejak dulu semakin membuat lubang tanya di pikiran Rey. Tetapi, pria itu memilih bungkam. Dia masih berpikir positif dan begitu bersemangat untuk memenangkan kerjasama ini agar pihak sana setuju untuk diajak kerjasama. 


Saat ini, Rey serta Bima sedang terlibat perbincangan serius tentang perkembangan perusahaan pratama setahun ini. Dua pria tampan itu terlihat begitu serius sampai keningnya berkerut. Sungguh workaholic sekali dan kadar ketampanannya makin bertambah bagi para kaum hawa yang melihat. 


Setelah menutup pembicaraan, bertepatan dengan ketukan pintu membuat Rey segera menyuruh orang itu masuk.


"Maaf, Tuan. Saya mengganggu waktu anda," ucap wanita berkemeja navy dengan rok hitam yang begitu dikenal oleh pria di samping Rey.


"Santai saja, Manda. Duduklah! Saya ingin berbincang sedikit.


Ya gadis itu adalah Amanda. Dia memang mendapatkan panggilan untuk datang ke ruangan bosnya atau suami dari sahabatnya ini dengan tujuan tak jelas.


Tentu saja Amanda segera menyetujui dan tanpa babibu dia langsung saja ke lantai tempat Ruangan Rey berada.


Setelah gadis itu duduk dengan tenang. Entah kenapa mata Rey melirik Bima yang sejak tadi tak berhenti menatap anak buahnya itu. Sungguh ingin sekali dia tertawa melihat tingkah sahabatnya sekaligus tangan kanannya ini. 


"Gak usah diliatin terus. Gak bakal ilang," bisik Rey hingga membuat Bima terlonjak. 


Ahh ya Tuhan. Bima merutuki dirinya sendiri yang begitu terpesona akan kecantikan kekasihnya itu. Sampai-sampai dia melupakan keberadaan bosnya yang sejak tadi disampingnya. 


Bima berdehem sejenak dan membenarkan duduknya dengan tangan menggaruk tengkuk. Terlihat sekali jika pria itu sedang salah tingkah dan membuat Rey semakin tak kuat untuk tertawa meledak.

__ADS_1


"Emm Tuan Rey ada apa memanggil saya?" akhirnya Amanda bersuara.


Sebenarnya bukan hanya Bima saja yang malu. Tapi dirinya juga merasa bingung dan segan ketika berada disini. 


Rey segera menegakkan tubuhnya dam kembali menatap Amanda yang sepertinya menunggu apa yang ingin disampaikan.


"Begini, Manda. Sebenarnya istri saya hari ini kembali ke kantor. Tapi karena saya masih ada pekerjaan maka mulai besok Jessica akan mulai bekerja."


Praktis ucapan Rey membuat Amanda bahagia. Kepalanya mendongak dengan mata berbinar cerah. Beneran, Tuan?" 


"Ya, Manda. Jessica sudah sangat ingin bekerja kembali. Jadi hari ini terakhir Bu Lidya disini." Amanda mengangguk.


Tak ada lagi hal bahagia yang ingin dia rasakan lagi selain bertemu sahabatnya itu. Memang keduanya masih bisa dibilang baru saja berkenalan. Tapi, baik Jessi maupun Amanda sudah ada kemistri atau rasa kecocokan untuk keduanya saling mencurahkan isi hati dan yang bersifat semakin pribadi. 


Amanda bersyukur ia bisa bertemu lagi dengan istri bosnya itu. Ah kebahagiaan yang berlipat-lipat menurutnya. Satu kantor dengan pria dia cintai. Busa berpacaran dengan pria kulkas yang sudah lama diincar olehnya. Bisa mendapatkan balasan perasaan cinta dari lelakinya itu. 


Uhh lalu sekarang. Kehadiran sahabatnya besok, akan menambah rasa syukur dan bahagia dalam diri Amanda. Tak ada lagi yang ingin dia impikan kecuali bertemu dan berkumpul bersama orang-orang yang dia sayangi sudah begitu cukup. 


Rey mengangguk. Dia sudah begitu percaya Amanda seperti istrinya yang percaya pada gadis di depannya ini. Lebih baik seperti ini. Rey akan mengontrol mana teman yang baik, dan mana teman yang buruk untuk sang istri.


"Tolong bantu istri saya ya, Man. Jangan sampai dia kecapekan. Kalau dia sakit, cepat beritahu saya." 


"Oh ya Tuhan. Pak bos perhatian banget," jerit hati Amanda begitu kencang. 


"Siap, Tuan." 


Sesaat Rey menatap Bima yang sedari tadi hanya diam hingga ide jahil muncul di otak CEO Perusahaan Pratama itu. Ya memang beginilah dia, jika berdua dengan Bima. Maka sikap konyol sejak kuliah akan kembali terlihat pada diri keduanya. Tak ada lagi rasa canggung atau malu jika dua pria yang sudah dianggap putra oleh Mama Ria itu saling bertingkah. 


"Diliatin terus! Gak bakal ilang loh," celetuk Rey hingga membuat Bima segera memalingkan wajahnya.


Ah lucu sekali mereka berdua. Rey bisa melihat raut wajah memerah pada pipi Amanda hingga membuatnya menahan tawa kencang. Sedangkan Bima, dia melotot tajam dengan tangan berlagak menggorok leher untuk memperingati bosnya itu agar berhenti membully keduanya. 

__ADS_1


"Saya...saya ijin pamit, Tuan." 


"Mau kemana, Bim? Apa kamu akan meninggalkan kekasihmu bersama saya di ruangan ini?" Tanya Rey dengan menaikkan turunkan alisnya.


Uhh sungguh muka jahil itu ingin sekali Bima jotos hingga tak bisa menjahilinya lagi. Jika tak ada Amanda disana, bisa dipastikan dia akan melemparkan bantal di wajah Rey agar pria itu tak menjahilinya lagu. 


Tapi sepertinya tetap saja. Pria itu tak akan berhenti meledeknya. Hingga Bima akhirnya memutuskan berjalan menuju sang kekasih dan menarik tangan gadis itu hingga berdiri.


"Ehhh Tuan. Saya...saya…" 


"Udahlah, Manda. Ayo ikut saya!" 


Amanda bingung tapi dia akhirnya hanya menunduk hormat untuk berpamitan dengan Rey lalu segera mengikuti langkah kaki kekasihnya menuju keluar ruangan. 


Sepeninggal pasangan lucu dari ruangannya. Rey segera tertawa terbahak dengan puas. Ah sungguh ini adalah Rey yang dulu. Rey yang suka jahil, Rey yang begitu hangat dan Rey yang suka bercanda. Hanya karena waktu dan wanita lah yang mengubah dirinya menjadi dingin


 Tetapi sekarang, kehadiran istrinya itu mampu membuat sikap Rey yang kaku perlahan mencair seperti sedia kala. 


"Hahahaha lucu sekali." Rey sampai memegang perutnya karena merasa sakit terlalu banyak tertawa dengan air mata yang keluar hingga membuat nafasnya terengah-engah. 


"Hah hah dasar. Kulkas berpacaran ya begitu. Begitu kaku dan tidak romantis," cibir Rey mengingat bagaimana Bima tadi. "Nanti akan aku ajari dia agar menjadi pria tangguh sepertiku," sambungnya dengan senyum jahil.


Rey membayangkan wajah Bima yang flat harus diajari agar banyak tersenyum meski tipis dengan tingkah yang lebih hangat dan lebih perhatian. Dia merasa kasihan wanita seperti Amanda, cantik tapi mendapatkan pria kaku yang kurang pekan.


"Hey Rey, Dasar! mentang-mentang udah ada istri sekarang bisa berlagak sombong." Sembur Author dengan tangan berkacak pinggang. 


~Bersambung~


Bab selanjutnya pertemuan sama Tuan Sinoci yah sama putrinya hehe~~~


Siapkan jantung biar gak emosian, hahaha.

__ADS_1



__ADS_2