Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Arti Seorang Papa


__ADS_3


Seorang ayah adalah cinta pertama untuk anak perempuannya. Tetapi, jika seorang ayah saja gagal menjalani perannya. Maka jangan harap putrinya akan merasakan bahagia. ~Mario Sanoci~


****


"Bagaimana?" tanya Mario saat panggilan baru saja terhubung.


Matanya masih menatap tajam ke arah layar yang hidup. Semua tayangan yang terjadi di kamar dan seluruh mansion sudah berada di genggaman Mario Sanoci. Bukti nyata itu begitu jelas dimiliki pria itu dan akan dibongkar ketika semuanya membutuhkan bukti ini.


Sungguh Mario begitu merasa bersalah pada pria yang saat ini duduk sebuah sofa dengan pandangan tertunduk. Dia bisa melihat dengan jelas meski hanya melalui layar bagaimana isak tangis dan ucapan maaf selalu muncul di bibir Rey. 


Perasaan bersalah menggelayuti hati pria itu karena ini semua adalah rencananya. Karena Mario begitu paham dengan sikap adiknya itu. Jika Marlena sadar dia belum menikmati tubuh Rey, maka bisa dipastikan pagi itu suami dari wanita yang dia cintai akan menyatu dengan sang adik perempuannya.


"Maafkan aku, Rey. Aku harus melakukan itu untuk menyelamatkanmu," gumamnya begitu pelan dan kemudian kembali terfokus pada suara seseorang di seberang telfon.


"Nona Muda tak ada rencana keluar dari mansion, Tuan."


"Shit!" geram Mario dengan tangan terkepal. 


"Beritahu aku kalau adikku keluar. Agar aku bisa segera datang dan membawanya keluar dari sana." 


Tut. 


Segera pria itu menutup panggilannya sebelum mendengar jawaban dari lawan bicaranya. Dia menatap kesal ke arah sang adik yang terlihat sedang bersantai di kolam renang. Wajah Marlena begitu cerah dengan senyum penuh kebahagiaan begitu jelas terlihat oleh Mario. 


Dia mengerti apa yang membuat adiknya begitu bahagia. Tapi pria itu begitu paham jika yang dilakukan Marlena adalah perbuatan salah. Terlepas pria itu suami dari wanita yang dia cintai, jika adiknya melakukan hal ini pada lelaki lain, Mario pasti melakukan hal yang sama.


Pria itu perlahan beranjak dari dudukannya dan meminta anak buahnya mengawasi semua gerak-gerak adiknya di layar besar itu. Mario harus segera menyelesaikan semua ini. Dia sudah merencanakan sesuatu hal semalam dan keputusannya sudah bulat.


Mario mengendarai mobilnya menuju sebuah tempat yang diyakini keinginannya ini pasti ditolak mentah-mentah oleh pria itu. Tapi mau bagaimana lagi, hal besar ini menyangkut keluarganya dan dia harus izin pada pria itu.


Menghembuskan nafas berat. Mario segera keluar dan berjalan menuju sebuah unit apartemen yang sudah begitu hafal. Dia tekan bel itu beberapa kali hingga terbuka pintu itu dan menampilkan seorang wanita yang hanya memakai bathrobe mandi. 

__ADS_1


"Dimana, Papaku?" tanya Mario dingin menatap wanita muda di depannya tajam.


"Tuan ada di dalam." Wanita yang diyakini menjadi teman kencan papanya itu memberikan jalan.


Tanpa menjawab Mario langsung dan menatap sinis keadaan apartemen yang begitu berantakan. Banyak pakaian yang berserakan di ruang tamu hingga membuatnya berdecak dan mengumpat di dalam hati.


"Ada apa, Putraku?" tanya Sanoci yang baru saja keluar dari mamae mandi dengan badan setengah basah menandakan pria paruh baya itu baru saja selesai mandi.


"Ck. Kapan Papa berhenti bermain-main?" 


Sanoci tersenyum tipis. Dia sudah tak terkejut dengan pertanyaan putranya ini. Karena dari dua anaknya memang Mario lah yang paling sering protes tentang tingkahnya.


"Nanti jika kita sudah kembali ke rumah. Ada Mama, Papa pasti sudah berhenti." 


Mario tertawa sinis. Alasan ini selalu saja menjadi alasan yang berujung bualan. Karena pada dasarnya Papanya tak akan pernah berhenti jika sudah jauh dengan sang Mama.


Sanoci berjalan dan duduk didepan putranya ketika melihat Mario sudah bersantai disana. Dia sudah tahu betul jika putranya kesini pasti akan ada hal yang ingin disampaikan.


"Aku ingin izin pada Papa." 


"Untuk?" tanya Sanoci menaikkan salah satu kakinya. 


"Untuk masuk ke dalam mansion si Mar dan membawa Rey pulang," ucap Mario dengan tenang.


Spontan Sanoci yang saat itu sedang menghisap sebatang rokok langsung membuangnya.


"Apa maksudmu, Mario?" 


"Papa pasti sudah tahu maksudku," sahutnya santai menatap tajam pria paruh baya itu.


Sanoci diam. Dia menyandarkan punggungnya sambil memejamkan matanya. "Apa kau tak ingin melihat adikmu bahagia?


"Aku sangat ingin melihat adikku yang paling kusayangi bahagia, Pa. Tapi bukan dengan cara mengambil kebahagiaan orang lain." 

__ADS_1


Telak.


Sanoci bungkam. Apa yang dikatakan putranya begitu menohok sudut hatinya. Seakan apa yang dilakukannya selama ini untuk putrinya itu kembali terbayang di benaknya.


"Seharusnya Papa menjadi sosok yang baik untuk Mar. Dia harus belajar dari Papa untuk mencari seorang pasangan yang setia. Tetapi sayangnya, Mar tak mendapatkan itu dari sosok Papa," ujarnya sambil beranjak berdiri.


"Jika putri papa sukanya mencuri kebahagiaan orang lain menurutku wajar. Karena Papa sendiri pun lebih sika mencari kebahagiaan dengan wanita diluar sana daripada istri Papa sendiri."


~Bersambung~


Doakan bisa up satu lagi yah. Biar cepet kelar nih konflik hehe.


Bantu doa buat putraku ya doain semoga demamnya cepet turun, aamiin.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)


__ADS_1


__ADS_2