Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Sekarat?


__ADS_3


Meski hanya seorang mertua. Tapi aku sudah menganggapnya seperti ayahku sendiri. Hingga membuat hatiku sendiri merasa sakit jika ada hal yang terduga pada mertuaku. ~Reynaldi Johan Pratama~


****


Keadaan di rumah sakit mencekam. Semua orang terlihat mondar-mandir di depan ruang operasi. Sedari tadi, setelah mereka mendarat dengan mulus di atap rumah sakit milik keluarga Sanoci. Mereka tentu saja langsung disambut oleh para Dokter dan Perawat.


Semua orang yang memakai jas putih itu saling bekerja sama. Bahkan dengan cekatan mereka memasangkan infus dan mendorong brankar pasien menuju ruang operasi. Keadaan Sanoci sudah tak sadarkan diri. Bahkan kulitnya sudah mulai memutih dan dingin. Tapi Bima yang sedari tadi memegang pria itu sudah mengecek jika masih ada detak jantung milik Tuan Sanoci.


Sedangkan Daddy Stevent. Sepanjang perjalanan baik Rey maupun Jack selalu mengajak mertua atau tuannya itu berbicara. Bahkan ketika Stevent berpamitan tidur sejenak dua orang itu tak mengizinkan dan malah semakin berceloteh. 


Namun ternyata semua itu berakhir. Daddy Stevent tetap sadarkan diri sampai dokter membawa brankarnya menuju ruang operasi. Hingga ya berakhir disini.


Baik Jack, Bima maupun Rey menunggu dengan sabar di depan ruang Operasi. Pikiran semuanya hanya tertuju pada keadaan dua pria paruh baya itu. 


Bahkan Rey sendiri sampai melupakan jika dirinya sedang terluka. Dia hanya mengkhawatirkan mertuanya itu. Dia hanya takut jika sesuatu terjadi dan membuat istrinya bersedih. 


Istri?


Mengingat kata istri dia langsung tertuju pada Jessica. Segera pria itu menggoyang tubuh Bima hingga pria itu terjingkat kaget.


"Ada apa, Tuan?" 


"Dimana istriku, Bim?" tanya Rey tak sabaran. 


"Nona?" 


Rey mengangguk antusias. Dia hampir melupakan keberadaan istri dan calon anaknya karena mengingat keadaan sang mertua. Tapi jujur seorang Rey sudah merindukan Jessica. Hingga membuatnya tak sabar untuk bertemu.


"Nona sedang berada di markas Tuan Mario, Tuan." 


"Apaa!" Rey tersentak. Dia tiba-tiba menatapnya jam Bima hingga membuat pria itu menelan ludah, "bagaimana bisa dia berada disana?" serunya tak sadar hingga membuat beberapa orang yang lewat menatapnya.

__ADS_1


"Kecilkan suaramu! Kau mengganggu saja," ujar Jack dingin dan menatap pintu ruang operasi lagi. 


Mario menatap Bima lagi dan mengkode untuk mengikutinya. Setelah berjalan sedikit menjauh, Rey ekmabli menatap asistennya itu dan berniat mengintrogasi. 


"Dimana tempat Jessica berada?" 


"Dia ada Jakarta tetap kok. Tapi di suatu tempat tersembunyi," ujar Bima menjelaskan.


"Aku tak mau tau. Kau harus menyusul istriku sekarang juga dan bawa kemari." 


Tak mau terkena marah lagi. Bima segera menurut dan berjalan meninggalkan rumah sakit. Dia langsung menelpon anak buahnya dan menyuruh membawa mobil untuk ia bawa ke tempat Nona mudanya berada. 


****


Sudah hampir 3 jam tapi pintu ruang operasi tetap tertutup rapat. Tak lama, muncullah Mario yang matanya sembab di depan mereka. Tapi kedatangan pria itu tak membuat Jack ataupun Rey yang melamun menjadi terganggu. 


Hingga tiba-tiba pria yang memakai pakaian sama itu mendekat ke arah Rey dan menepuk bahunya. 


Mario mengangguk. Dia memilih duduk di dekat Rey hingga dua pria itu berhadapan.


"Bagaimana keadaan Papaku?" tanya Mario dengan mata sendu menatap ruang operasi. 


Rey menggeleng. "Belum ada kabar apapun. Karena Dokter saja belum keluar."


Penjelasan Rey membuat Mario ketakutan setengah mati. Dia menatap pintu putih itu dan melihat jika lampu operasi memang masih menyala. Tak mau membuang waktu dengan hal tak berguna, Mario menyatukan tangannya depan dada dan mulai memanjatkan doa untuk kesembuhan dan keselamatan Papanya sendiri. 


"Tolong selamatkan Papaku, Tuhan."


Beberapa menit setelah kedatangan Mario. Perlahan lampu operasi mulai padam dan keluarlah Dokter-dokter yang masih memakai pakaian dinasnya menemui pihak keluarga. 


Rey, Jack dan Mario mendekat. Dia mencecar banyak pertanyaan untuk kedua pria paruh baya yang sedang ada di dalam. 


"Bagaimana keadaan Papa-ku, Dok?" 

__ADS_1


"Bagaimana mertuaku, Dokter?"


Dokter mulai melepaskan maskernya dna menatap bergantian ke arah kedua pria yang umurnya hampir sama sepertinya. 


"Mohon maaf. Saya harus mengatakan ini sejujurnya. Jika salah satu dari mereka ada yang kritis dan keadaannya begitu lemah.


Jderrr


~Bersambung~


Coba tebak? siapa yang kritis?


huaaa jadi mo nangis kalau part beginian.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)


__ADS_1


__ADS_2