Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Detik-detik Pertemuan


__ADS_3


Aku hanya ingin tahu, bagaimana wajah pria yang begitu berkuasa dan bisa melakukan semua hal hanya dengan hitungan menit. ~Khadijah Haura~


****


Seperti apa yang sudah dikatakan oleh Haura. Hari ini dirinya akan bertemu dengan seorang tikus kecil yang menjadi dalang dibalik kerusuhan yang terjadi di Perusahaan Pratama. 


Setelah melaksanakan sarapan pagi, segera Haura berjalan keluar dari apartemen dan disambut dengan kedatangan Haki yang sudah berdiri disana.


"Ada kabar apa?" tanya Haura sambil berjalan melewati asistennya itu. 


"Mereka sudah sampai di Indonesia, Putri."


Haura tersenyum miring. Dia sudah bisa menebak jika lawannya akan datang kesini. Bagaimanapun, memainkan emosi orang yang memiliki temperamental tinggi itu sangat mudah. 


Mereka juga gampang terprovokasi dan digulingkan. Tanpa mengatakan apapun lagi, Haura segera masuk ke dalam mobil diikuti oleh Haki yang juga memasuki kursi kemudi. 


Perlahan, mobil mulai berjalan meninggalkan parkiran Apartemen. Tujuan mereka saat ini hanya ke Kantor milik Rey. Karena pertemuannya dengan Jack akan dilaksanakan setelah makan siang. 


Haura menatap pergelangan tangan untuk melihat pukul berapa sekarang. Tanpa kata, dia merogoh ponsel yang berada di dalam tas dan segera mengetikkan sesuatu pada seseorang.  


Send.


"Kita tunggu saja, apa yang akan terjadi nanti." Gumamnya dengan tersenyum tipis.


Haura menatap pemandangan di luar mobil. Banyak pejalan kaki, anak sekolah dan orang berpakaian rapi yang sudah ia yakini hendak bekerja. Lalu lalang mobil yang begitu padat sudah menjadi hal biasa di Ibukota Jakarta. Panas dan semacamnya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi penduduk disini.


Tapi yang membuat Haura betah tinggal, bukanlah tentang keramaiannya. Melainkan makanan khas Indonesia begitu menggugah selera. Jika di Brunei, gadis itu begitu menyukai masakan dari tangan kakak iparnya. Ya, Aqila sering memasak masakan Indonesia untuk kakak dan keluarganya. Tentu saja Haura merindukan itu.


"Hmmm, aku akan segera pulang. Ternyata berada disini membuatku merindukan kakak ipar," ucap Haura sambil terkekeh pelan. 


Mobil mulai berhenti di depan pintu utama Perusahaan Pratama. Dengan pelan Haki membukakan pintu untuk Haura keluar. Saat langkah kaki Putri Brunei itu masuk, seketika ruangan terasa senyap. Tak ada lagi keramaian yang ia dengar meski itu hanya samar-samar.


Haura tersenyum tipis. Ternyata, karyawan Rey masih tahu attitude dan takut pada bosnya. Sepertinya cuma butuh beberapa hal yang harus diterapkan agar semua karyawan lebih paham dan disiplin. 


Tanpa memperdulikan apapun, dia segera menuju ruangan yang selalu menjadi tempatnya bekerja beberapa hari ini. Saat Haura baru saja keluar dari lift. Dirinya memicingkan mata melihat seorang gadis berdiri di dekat meja sekretaris.


"Cari siapa?" tanya Haura menatap wanita di depannya. Jika melihat dari name tag ternyata dia salah satu karyawan perusahaan ini juga.

__ADS_1


"Oh maaf, Nona. Saya hanya sedang mencari Asisten Bima." 


"Untuk apa?" 


"Saya ingin menyerahkan berkas ini," ucap gadis yang tak lain adalah Amanda.


Haura yang akan mengatakan sesuatu, akhirnya tak jadi karena kedatangan Bima di dekatnya.


"Dari mana, Kak?" tanya Haura pada Bima.


Ternyata, karena kedekatan mereka beberapa hari ini. Membuat pihak Bima atau Haura sudah tak ada lagi kecanggungan. Bahkan Haura sudah memanggil Bima dengan panggilan Kakak karena pria itu yang meminta. 


"Habis dari belakang," sahut Bima menatap Haura sekilas lalu beralih pada gadis di depannya. "Kamu ngapain, Manda?" 


"Saya ingin menyerahkan ini, Tuan."


Bima menerima berkas itu dan segera menyuruh Amanda pergi.


"Kamu mau minum apa, Ra? Asisten Haki juga?" tanya Bima pada keduanya.


"Aku butuh kopi sepertinya, Kak." 


"Sedikit."


"Baiklah." Bima menatap Haki dan menunggu jawaban pria itu.


"Samakan saja, Tuan." 


"Baik tunggulah di dalam."


Ternyata, percakapan ketiganya masih terdengar samar-samar oleh Amanda. Jujur dirinya cemburu, melihat kedekatan pria yang ia cintai dengan wanita yang tidak memiliki celah buruk sedikitpun. 


Melihat bagaimana Bima yang nawarin minum dan perubahan sikapnya saja, sudah membuat hati Amanda sakit. Namun, balik lagi dia harus sadar diri jika mereka masih belum ada hubungan apapun diantara keduanya.


"Kenapa dia sulit ku jangkau?" gumam Amanda saat berada di dalam lift.


****


Sinar matahari semakin naik. Sinarnya terlihat begitu panas siang ini. Namun, semua itu tak menyurutkan keinginan Haura untuk bertemu oleh seseorang yang sudah membuat kekacauan waktu itu.

__ADS_1


"Apakah Tuan Putri serius?" tanya Haki sekali lagi.


"Ya Asisten Haki." Tak ada keraguan memang dari suara Haura. Dia benar-benar ingin bertemu pria yang menurut informasi ia pegang, dia adalah seseorang yang bekerja di dunia legal dan ilegal. Dunia nyata dan bawah tanah.


Ya siapa yang tidak tahu, jika Stevent Alexzandra juga memegang kekuasaan bawah tanah. Seperti penjualan senjata api dan menyelundupkan barang haram pun sudah didengar oleh Haura sendiri. Maka dari itu, Haura ingin bertemu langsung dengan pria yang mampu melakukan apapun hanya dalam hitungan menit saja.


Tak terasa, mobil yang dikendarai Haki mulai memasuki area parkir Restaurant. Dengan anggun, Haura segera turun dan memasuki sebuah Restaurant yang memiliki ruangan private room. 


"Atas nama Khadijah Haura," ucapnya pada seorang gadis yang berdiri di dekat pintu. Dengan sopan, gadis itu mengantarkan Haura menuju sebuah tempat yang lebih tertutup. 


Lantai dua menjadi tempat yang dipilih Haura meski mereka tak berada di ruangan yang tertutup. Yang penting, seluruh meja disini sudah dipesan olehnya agar tak ada yang tahu atas pertemuan keduanya.


Dari kejauhan, Haura bisa melihat punggung seorang  lelaki berbadan tegap dan kekar. Otot tangan serta tato di lengan tangannya begitu kentara. 


Ya saat ini, pria yang akan ia temui memakai kemeja yang lengannya sudah disingkap sampai siku. Badan yang begitu berotot, mampu mencetak jelas bagaimana indahnya bentuk tubuh di dalamnya. Haura semakin mendekat hingga berhenti di belakang tamu yang akan ia temui saat ini.


"Assalamualaikum." Suara merdu Haura terdengar hingga membuat pria yang sejak tadi memunggunginya berbalik. 


Bahkan tanpa sadar keduanya saling bersitatap dengan pandangan yang sulit diartikan. Pertemuan keduanya untuk pertama kali ini, apakah akan meninggalkan bekas yang mendalam? Atau hanya menjadi angin lalu. Karena menurut pepatah mengatakan, 'pertemuan pertama adalah awal dari pertemuan selanjutnya.'


~Bersambung~


Duh jangan tatapan-tatapan gak boleh dosa loh! Hahahaha.


Maaf ya, kemarin update satu bab karena perutku sakit. Jadi aku usahain hari ini bakalan update 3 bab.


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di nome)


__ADS_1


__ADS_2