Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Kapan Kau Akan....?


__ADS_3


Biarkan aku menebus segala waktu yang sudah hilang ketika aku pergi dari sampingmu, Dad. Tolong bertahanlah untukku dan temani aku hingga di masa tua. ~Jessica Caroline~


****


Jessica keluar dari ruangan Dokter dengan tubuh yang lemas. Dia merasa semangat hidupnya telah hilang. Hatinya hancur mendengar kenyataan jika ayahnya tidak dapat disembuhkan. 


Apakah dirinya akan kehilangan sosok terpenting di hidupnya lagi? Apakah tak cukup dirinya ditinggal oleh sosok mamanya? Kenapa Tuhan tak adil padanya?


"Kenapa kau ingin mengambil semua dariku, Tuhan?" gumam Jessica dengan menopang tubuhnya pada dinding. 


Dirinya tak kuasa untuk berjalan lagi.  Tubuhnya merosot ke bawah dan dia menekuk kedua lutut untuk dijadikan tumpuan kepalanya. Disini, terduduk di lantai rumah sakit dengan air mata penyesalan. 


"Jangan ambil Daddyku, Tuhan. Maafkan semua perbuatanku," lirih dengan air mata yang terus-terusan terjatuh.


Rasanya ia tak punya kekuatan untuk kembali ke hadapan Jack dan sang kekasih. Otot dan tulangnya seakan lepas ikut dengan berita bagaimana keadaan Daddynya saat ini. 


Menguatkan hatinya, Jessica mencari pegangan untuk bisa berdiri dan segera menuju tempat dimana sang kekasih menunggu.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Rey saat Jessica duduk disampingnya. 


Jessica yang awalnya menghadap kedepan akhirnya menoleh. Rey bisa melihat betapa rapuhnya sang kekasih. Segera dia menarik Jessica ke dalam pelukan dan menenangkannya meski dalam sekejap.


"Percayakan semua pada Allah. Daddy pasti akan sembuh, Sayang." 


"Sembuh?" gumam Jessica tersenyum getir.


Semoga apa yang dikatakan kekasihnya ini benar-benar terjadi. Tak lama, para perawat memindahkan Stevent ke ruang rawat VVIP. Ruangan yang luas yang sudah seperti kamar hotel terasa menyesakkan bagi Jessi. 


Tak ada rona bahagia di wajahnya. Dia bahkan hanya duduk di samping sang Daddy sambil mengecup kedua tangan yang dulu merawatnya sampai sebesar ini.


"Maafkan aku, Daddy. Aku memang jahat. Aku egois sampai-sampai tak tau jika Daddy sakit," lirih dengan air mata yang kembali jatuh.


Rey hanya bisa diam sambil mengusap punggung kekasihnya itu. Dia merasa bahwa dirinya juga ikut salah dalam hal ini. Tapi, apalah daya, semua ini sudah diatur oleh Tuhan sehingga membuatnya tak tahu harus melakukan apa. 


"Princess." Suara itu terdengar pelan tapi masih ditangkap oleh telinga Jessi hingga membuat gadis itu mendongak. 


Disana, sang Daddy telah membuka matanya sambil menatap ke arahnya. 


"Daddy." Jessica menghambur ke pelukan sang ayah. Dia tak tahu harus mengatakan apa lagi. 


Jessica hanya ingin ayahnya selalu ada di dekatnya. Dia ingin sang ayah menemaninya sampai tua. Hanya itu saja, itu saja keinginan saat ini.


"Maafkan Daddy, Sayang," ucap Stevent dengan suara serak.


"No, Daddy. Jessica yang salah." 


Saat Stevent hendak menjawab. Para Dokter yang dipanggil oleh Rey datang dan segera mengecek kondisi Tuan Stevent saat ini.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Tuan Stevent bisa sadar dan lepas dari masa kritisnya . Tapi saya mohon, Tuan harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran," nasihat Dokter itu lalu segera pamit undur diri. 


Stevent mengalihkan tatapannya ke arah sang putri. Dia tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Jessica dengan lembut 


"Maafkan Daddy, Sayang. Daddy selalu menyakitimu."


"Jangan katakan apa-apa, Dad. Akulah yang bersalah. Plis jangan tinggalin Jessi sendirian," lirihnya dengan air mata. 


"Jangan menangis, Princess." 


"Kenapa Daddy menyembunyikannya dariku?" 


"Karena Daddy tak mau kau bersedih seperti ini." 


"Tapi aku anak Daddy. Aku harus tau semua yang terjadi padamu, Dad." 


Stevent tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu kemudian lelaki paruh baya itu beralih menatap Rey yang berdiri tepat di samping putrinya.


"Kemarilah, Nak!" 


Rey mendekat. Dia bertukar posisi dengan sang kekasih. Pria itu memberanikan diri menggenggam tangan Stevent dengan senyuman hangat.


"Tolong jaga, Putriku." 


"Kita akan menjaganya bersama, Tuan." 


"Ya, jika Tuhan memberikan kesempatan padaku untuk hidup lebih lama lagi," ucap Stevent dengan wajah pasrah.


"Jangan katakan itu, Tuan. Tuhan pasti akan mendengarkan doa kita." 


Beberapa menit tak ada suara lagi. Stevent hanya menatap Rey dan Jessica bergantian. Senyumannya semakin lebar meski wajahnya masih terlihat begitu pucat. Hal itu tentu saja membuat Jessica bingung dengan ulah sang ayah.


"Kenapa Daddy?" 


"Kemarilah, Nak." Stevent meminta Jessi duduk di sebelah kirinya. Sedangkan Rey dia sudah duduk di sebelah kanan dari Stevent. 


"Apa kau mencintai Rey, Nak?" tanya Stev menatap wajah putrinya serius.


"Tentu saja, Daddy. Aku sangat mencintainya."


"Kau sendiri bagaimana, Rey?"


"Jangan tanyakan padaku, Tuan. Cintaku hanya untuk putrimu seorang. Aku bisa buktikan hal itu." 


Bisa dia lihat, bagaimana yakinnya pria itu ketika mengatakan hal ini. Tentu saja Stevent bukanlah ayah yang egois atau memikirkan urusannya sendiri. Dia sudah mencari semua tentang Rey. Dan pria itu bersih dari kehidupan bawah tanah tak seperti dirinya. 


"Aku sudah tahu, Nak. Jika kau memang mencintai putriku." 


"Maksud Daddy?" tanya Jessica yang sedari tadi diam.

__ADS_1


"Daddy sudah tahu jika kekasihmu ini begitu sayang padamu, Princess. Apakah kau mengira Daddy begitu jahat hingga mau memisahkan kalian?" 


Jessica semakin kebingungan. Apa maksud ayahnya ini? Memang Ayahnya kan memisahkan dirinya dengan Rey. Tapi kenapa ayahnya mengatakan hal berbeda.


"Daddy hanya ingin mengetes calon suamimu saja, Jessi. Daddy bisa melihat tekadnya tadi pagi. Tapi, ternyata kau sudah salah paham pada, Daddy."


Entah kenapa ucapan ayahnya kali ini menusuk hatinya. Dia tahu salah paham apa yang dimaksud oleh Ayahnya ini. Apalagi jika bukan salah paham tentang dia yang lebih memilih kekasihnya ketimbang dia yang benar-benar ayah kandung dari dirinya. 


"Daddy bercanda?" 


"No, Princess."


Rey mengambil tangan Rey dan Jessi lalu dia pertemuan di atas dadanya.


"Apakah kau sanggup menjaga putriku?"


"Sanggup, Tuan."


"Jika seperti itu, Aku Stevent Alexzandra merestui hubungan kalian berdua." 


Air mata bahagia dan haru mengumpul jadi satu. Jessica menangis, dia memeluk kembali tubuh sang ayah yang begitu nyaman untuknya. Dia tak menyangka jika ayahnya selama ini hanya melakukan semua itu untuk mengetes Rey seorang.


Dia tak menyangka jika sikapnya begitu keterlaluan pada ayahnya selama ini.


"Maafin Jessi, Dad. Biarkan putri Daddy menebus semua waktu untuk menjaga Daddy." 


"Terimakasih, Princess." 


Beralih ke arah Rey. Ayah anak satu itu meminta Jessi bangun dan duduk kembali pada kursinya. Lalu dia beralih pada Rey dan memegang tangan pria muda di depannya ini. 


"Kapan kau akan menikahi putriku ini, Rey?" 


~Bersambung~


Hmm kapan bang, kapan?


Kalau ada typo bilang yah!


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di nome)

__ADS_1



__ADS_2