
Istri adalah kekuatan pertama bagi seorang suami ketika berada di titik terendah. Namun ternyata tanpa aku sadari karena perkataanku lah, aku membuat suamiku berada di titik paling rendah. ~Jessica Alexzandra Caroline~
****
Mendengar cucunya masuk rumah sakit, tentu membuat hati Maria sedih. Sejak kemarin dirinya sudah ingin melihat jessica. Namun, mengingat kesehatannya yang sempat menurun membuatnya menahan untuk tak ikut ke rumah sakit.
Setelah mengecek kondisi tubuhnya, akhirnya hari ini Maria datang bersama Jack ke rumah sakit. Mata tuanya menatap keberadaan sang cucu yang duduk merenung di atas ranjang pasien. Dia berjalan begitu pelan dengan tongkatnya hingga membuat Jessica menoleh.
Matanya berkaca-kaca melihat kedatangan orang yang selalu ada untuknya. Maria sudah seperti pengganti mamanya selama ini. Dia selalu menjadi sandaran dikala Jessica membutuhkan sosok seorang ibu.
"Nenek."
"Cucuku," ujar Maria lalu mendekat.
Keduanya segera berpelukan hingga tanpa sadar air mata mereka berjatuhan. Pelukan yang begitu nyaman tentu saja membuat Jessica merasa tentram. Hatinya selalu rapuh jika sudah berhadapan dengan sang nenek.
"Rey, Nek. Dia...dia…,"
"Usttt, tenanglah, Cucuku."
__ADS_1
Maria mengurai pelukannya. Dia menghapus air mata Jessica dengan lembut.
"Nenek sudah tau apa masalah di antara kalian berdua, Nak. Tapi Nenek tetap percaya pada Rey."
Sontak ucapan Maria membuat Jessica menatapnya tak percayaa. Dia mencari kebohongan di mata neneknya namun tak ada. Karena memang wanita paruh baya itu mengatakan yang sesungguhnya.
"Apa kamu tak percaya pada suamimu sendiri?" tanya Maria pelan sambil menatap cucunya yang sedang menatapnya balik. "Nenek saja yang hanya pihak mertua begitu percaya pada suamimu."
Entah kenapa perkataan neneknya barusan membuat sudut hatinya merasa sakit. Tentu saja hal itu sedikit membuatnya sadar jika apa yang dilakukannya adalah perbuatan yang salah. Sejak kemarin Rey memang tak melihatnya. Terakhirnya kali ketika dia menyuruh sang suami pergi karena dirinya masih kecewa. Hal itu semakin membuat Jessica begitu dilema.
"Maafkan aku, Nenek. Tapi foto itu…,"
"Itu hanya sebuah foto, Nak. Foto itu tak bisa membuktikan apapun. Memang benar Rey berpelukan dengan wanita itu, apa kamu tau alasan dibalik itu? Mana mungkin ada seorang pria tiba-tiba tidur di lantai dan berpelukan?"
"Istri adalah harapan pertama untuk sang suami ketika memiliki sebuah masalah, Nak. Jika mereka percaya dan mendukung posisi suaminya maka semuanya akan menjadi lebih nyaman dan tenang. Tetapi jika kamu saja sudah tak percaya pada Rey, maka siapa yang akan menguatkan dia diluar sana? Apa kau mau, Rey benar-benar mencari wanita lain."
Jessica menggeleng cepat. Bagaimanapun marahnya dia tak mau sang suami meninggalkannya. Jujur dirinya begitu mencintai Rey sampai akar-akarnya. Dia bahkan merasakan marah dan cemburu karena takut apa yang ada di jepretan itu adalah benar.
"Jika begitu minta maaflah pada suamimu, Nak. Bertanyalah kepadanya dan tanyakan semuanya yang membuat pikiranmu penuh. Karena jika kau terus menundanya maka bukan hanya suamimu yang merasa tertekan melainkan calon bayi kalian juga."
~Bersambung~
__ADS_1
Nah kan cepet Jessi harus saling ngalah dan meminta maaf.
Bab selanjutnya siapin emosi yah. Jangan nyakar si Mar Mar😂
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1