Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Kaki-kaki Nakal


__ADS_3


Aku sungguh membenci siapapun yang menyentuh selain orang yang dikehendaki. Sepertinya dia akan menjadi tikus kecil pertama dalam hubungan mereka di tahun pertama. ~Reynaldi Johan Pratama~


****


Kedatangan Jessi ke Perusahaan membuat para karyawan seketika terdiam. Dia tak menyangka akan ada kedatangan dari mantan sesama karyawan yang sekarang menjabat istri dari bosnya itu akan kesini secepat ini.


Jessica merasa canggung. Apalagi ditambah beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menunduk hormat membuatnya semakin tak enak hati.


Segera Jessi menuju ruang kerja sang suami dan melihat Bima yang duduk di kursinya dengan menatap laptop begitu fokus. 


"Selamat siang, Bim," sapaan Jessi membuat pria tanpa ekspresi itu terkaget. Sepertinya karena terlalu serius, Bima bisa tak mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya.


"Selamat siang, Nona. Maaf saya tak mengetahui bahwa anda akan datang," ujar Bima tak enak hati dengan menunduk sopan.


Jessi meringis. Dia menjadi tak suka jika Bima seperti ini. Rasanya Jessica yang sekarang begitu dihormati dan membuatnya tak bisa menjadi Jessica yang dulu.


Tak ingin basa-basi segera Jessi menanyakan keberadaan sang suami. Bima pun mengantarkan istri bosnya itu dan meninggalkan sepasang suami istri itu di dalam ruangan sahabatnya.


"Sayang."


Rey tersentak. Dia melebarkan matanya saat melihat kedatangan sang istri ke kantor.


Beranjak berdiri, Rey menghampiri sang istri dan memberikan kecupan singkat di dahi dan bibirnya.


"Ada apa, Istriku?" tanya Rey setelah menggiring sang istri duduk di sofa ruangannya.


"Aku kesini bawain kamu makan siang, Sayang." Tunjuk gadis berpakaian dress berwarna navy itu ke arah meja. "Aku juga mau izin sih." 


"Izin?" tanya Rey dengan alis berkerut, "memang kamu mau kemana?" 


"Aku mau menemui sahabatku, Suamiku. Marlena dan Cat ada di Indonesia dan tadi menelponku mengajak bertemu." Jessi menjelaskan tanpa ada yang ditutupi, "apa boleh?" 

__ADS_1


Rey tersenyum. Dia tak menyangka sang istri ke kantornya hanya untuk meminta izin. Padahal masih ada ponsel yang bisa membuatnya pamit tanpa harus ke perusahaan.


"Tentu saja boleh. Tapi nanti pulangnya aku jemput yah." 


"Siap bos." 


****


Suasana Cafe terasa begitu ramai. Banyak mobil yang berjajar rapi di depan tempat yang akan menjadi pertemuannya dengan dua sahabatnya. Segera Jessica turun dan berjalan masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Marlena dan Cat. 


Sebuah lambaian tangan membuat Jessica tersenyum. Dia segera berjalan ke arah dua sahabatnya dan berpelukan. 


"Bagaimana kalian bisa disini?" tanya Jessi setelah dia duduk tenang di depan Cat.


"Ya kita disini sejak kemarin untuk jalan-jalan," sahut Marlena dengan senyuman misterius.


 "Wahh. Berapa lama?" 


"Entah. Aku mah ikut di Mar aja." 


Tanpa terasa mereka sudah berkumpul sambil menghabiskan cemilan sampai pukul 4 sore. Tanpa disadari mereka, seorang lelaki dengan ketampanan melebihi kadar sedang berjalan ke arah meja ketiganya. 


Sebuah suara yang memanggil. Membuat gadis yang baru saja menikah itu menoleh.


"Oh, Sayang. Kamu sudah jemput?" tanya Jessi setelah mencium punggung tangan Rey dan menyuruh ya duduk.


"Ya." Rey mengangguk. Lalu dia juga menerima jabat tangan dua sahabat sang istri meski perasaannya tak nyaman melihat salah satu dari mereka sedang menatapnya begitu lapar.


Jessica menanyakan pada sang suami untuk memesan apa. Namun Rey menolak, dia kesini hanya untuk segera membawa sang istri pulang dan menghindar dari tatapan gadis liar di dekatnya ini. 


"Apa kamu mau pulang, Jess?" tanya Marlena sambil membenarkan duduknya.


"Ya tentu saja, Mar. Suamiku sudah menjemput." 

__ADS_1


Marlena mengangguk. Sedangkan Rey, pria itu hanya diam sambil melihat tablet yang dia bawa. Rey datang kesini juga tak mau mengganggu waktu istrinya. Ia akan memberikan waktu Jessi untuk bertemu sahabat yang notabenenya tak tinggal satu negara dengan mereka. 


Sata Rey fokus dengan layar yang hidup itu. Sebuah elusan di kakinya membuat pria itu tersentak. Mata tajamnya segera menoleh ke arah seseorang yang menjadi tersangka. Dan Rey mampu melihat gadis itu sedang menggodanya dan menatapnya seperti seorang singa yang kelaparan. 


"Ayo kita pulang, Sayang!" ajak Rey menarik tangan Jessi.


Tentu saja hal itu membuat gadia itu terkejut. Tapi tak mau membuat Rey marah, segera ia berpamitan dan meninggalkan cafe itu dengan banyak tanda tanya.


Bisa Jessi lihat rahang Rey mengeras dengan mata berkilat marah. Hal apa yang membuat sang suami begitu emosi? Tapi wanita itu memilih bungkam dan lebih baik menanyakan ketika mereka sudah sampai rumah. 


Tanpa disadari oleh mereka. Sebuah senyuman menyeringai terlihat begitu jelas di bibir seksinya. Dia begitu senang melihat reaksi suami dari sahabatnya itu.


"Aku pastikan kau akan jatuh ke pelukanku juga, Sayang. Aku akan membuat kamu menjadikanku sebagai istri keduamu." 


~Bersambung~


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)

__ADS_1



__ADS_2