
Dimanapun kamu berada, aku yakin. Allah akan menjagamu untukku dan kita akan kembali bersama dengan Baby Rey. ~Jessica Alexzandra Caroline~
****
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?"
"Berikan obat tidur di minuman Marlena sekarang!" titahnya tak terbantahkan.
Lalu kemudian panggilan mereka pun berakhir. Mata Mario kembali mengawasi seluruh isi mansion yang berada di layar depannya ini.
Sudah aku katakan, 'kan? Jika Mario akan selalu menjaga kebahagiaan dari gadis yang dia cintai. Maka dari itu inilah langkah utama yang akan dia lakukan. Menggagalkan rencana sang adik untuk berbuat hal tak senonoh pada Rey dan membuatnya tidur.
Mario segera melepaskan headset yang berada di telinganya. Lalu dia beranjak dari kursinya. Saat ini semuanya pasti akan aman sampai adiknya itu terbangun. Hingga membuat Marios edikit bernafas lega.
Segera ia keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju dapur. Setelah pertengkaran dengan adiknya memang Mario tinggal di apartemennya sendiri. Dia merasa percuma jika berhadapan dengan adik dan papanya karena sifat keduanya sudah sama persis.
Sama-sama gila dan terobsesi akan hal apapun. Sempat Mario berpikir apakah dia bangga memiliki ayah seperti Sanoci. Pria tua itu memang selalu memanjakannya. Mengajarkan segala macam bahkan sampai dirinya menjadi pembunuh dingin.
Tapi di sudut hati Mario sesungguhnya dia menyalahi semua yang pernah ia lakukan. Tapi balik lagi hatinya begitu menyayangi sang papa hingga membuat Mario rela melakukan apapun.
"Maafkan aku, Papa. Hanya kali ini aku akan melawanmu dan Marlena. Karena menurutku tingkah kalian berdua sudah kelewat batas."
****
Marlena menatap pangerannya yang sedang tertidur di atas ranjang. Tangannya yang lembut membelai wajah yang ditumbuhi sedikit jambang. Dielusnya seluruh wajah Rey hingga berakhir di bibir pink milik prianya itu.
"Kau sangat menggoda, Sayang. Tapi aku harus menahannya sampai aku selesai minum."
Tak ingin keinginannya semakin besar. Marlena berdiri dan meninggalkan Rey yang tergeletak di atas ranjang. Digesernya pintu menuju balkon dan gadis itu segera keluar dari sana.
Mata tajamnya disuguhi oleh keindahan pepohonan yang tumbuh disana. Bahkan tebing yang curam pun terlihat dari rumahnya. Tapi jangan salah, udara yang begitu segar membuatnya selalu tenang jika berada di sini. Meski disini sudah malam hari, tapi sekitar mansion itu begitu terang karena gadis itu menyuruh para pelayan memberikan banyak lampu di sekelilingnya.
Mansion ini memang mansion mewah yang selalu membuat Marlena tenang. Hanya disini dia bisa berpikir jernih dan melakukan segala hal. Maka dari itu setelah memikirkan semuanya, dia mengambil keputusan untuk membawa Rey ke mansionnya ini.
Saat sedang asyik memejamkan mata sambil merentangkan kedua tangan. Bunyi ketukan pintu membuat Marlena berjalan masuk.
"Bawa masuk!" serunya memberikan jalan pada kepala pelayannya itu.
Kepala pelayan bernama Nora itu mengangguk. Dia mulai berjalan masuk ke kamar utama dengan mata yang melirik ke arah ranjang. Nafasnya begitu lega ketika melihat pria itu masih tidur dengan pakaian utuh. Hingga membuat Nora tanpa sadar melamun.
"Nora!" bentak Marlena membuat wanita baya itu terjingkat kaget.
"Maaf, Nona." Nora menunduk.
"Cepat keluar!"
__ADS_1
Brakk!
Marlena menutup pintunya kasar setelah kepala pelayannya itu pergi. Entah kenapa hatinya merasa dongkol ketika menyadari banyak wanita yang mencuri pandang ke arah prianya itu.
"Tunggu aku, Sayang. Aku akan minum agar aku bertenaga saat memuaskanmu."
Marlena segera menelan habis minuman itu sebanyak 3 gelas kecil. Dia terlihat begitu semangat dan peduli akan rasa yang begitu aneh tapi membuatnya candu.
Setelah menenggak gelas keempat. Kepalanya berdenyut sakit. Dia menggelengkan kepalanya ketika rasa kantuk mulai menyerang.
"Hah rasanya aku mengantuk sekali," gumamnya sambil menutup mulut ketika menguap.
Saat Marlena hendak berdiri tiba-tiba tubuhnya limbung dan dia terjatuh di sofa. Matanya terpejam erat dan membuat seseorang yang melihatnya dari kamera kecil disana tersenyum.
"Kita lihat saja. Siapa yang akan menang diantara kita, Dek," ucap Mario menatap adiknga yang tertidur di atas sofa.
Segera ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang disana.
"Pindahkan adikku ke ranjang dan buat seolah-olah mereka berdua habis melakukan malam panas," perintahnya mutlak.
Tut.
Mario segera menatap keadaan ruangan yang dipenuhi dua orang tak sadarkan diri itu. Dalam hati pria itu mengucapkan begitu banyak kata sayang meski adiknya selalu membangkang kepadanya.
"Maafkan Kakak, Dek. Kakak melakukan ini untukmu," ucapnya menatap ke arah sang adik.
"Bersabarlah sebentar, Rey. Aku akan membawamu keluar dari sana."
****
Waktu mulai menunjukkan larut malam. Tapi hal itu tentu tak membuat seorang gadis yang masih terjaga ingin memejamkan matanya. Keadaan ruang rawat yang sepi membuat Jessica kembali teringat akan suaminya yang menghilang.
Air matanya menetes ketika menyadari jika ini karena salahnya. Bagaimana dia bisa tak mempercayai sang suami dan dengan teganya mengatakan hal yang begitu menyakitkan padanya.
"Maafkan aku, Sayang. Sungguh aku tak berniat menyuruhmu pergi dariku. Aku hanya sedang marah saat itu," lirihnya sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sekuat tenaga Jessica menahan isak tangisnya agar tak terdengar. Namun sayang, telinga Stevent yang sensitif membuat pria paruh baya itu membuka mata dan menegakkan tubuhnya.
"Kau menangis, Nak? Ada apa?" tanya Stevent setelah dia berada di samping putrinya itu.
"Maafkan aku, Dad. Karena aku Rey pergi," ucapnya dengan terbata.
Air mata terus mengalir dari kedua matanya. Bahkan matanya sudah memerah karena Jessica sering mengusapnya. Sesenggukannya masih terdengar begitu jelas hingga membuat Stevent merasa menjadi ayah yang tak peduli.
"Ust jangan berkata seperti itu. Nak." Stevent menggeleng. Dia mengusap sudut mata putrinya lembut dan menghadiahi ciuman di keningnya.
"Tapi, Dad…,"
__ADS_1
"Percaya pada, Daddy. Rey baik-baik saja disana, Nak," ucapan Stevent begitu yakin.
Dia memberikan senyuman terbaik pada putrinya agar Jessica merasa tenang. Dan benar saja, perlahan air mata wanita itu tak mengalir lagi.
"Aku percaya, Dad. Kalau suamiku akan menjaga hatinya untuk kami," ucap Jessica mantap.
"Ini baru putri, Daddy. Tugas istri adalah selalu percaya padanya. Jangan pernah membuatnya bosan dan merasa sakit hati akan ucapannya ketika dia tak bersalah. Faham?"
Jessica menurut. Dia mengangguk sambil memaksakan senyuman di bibirnya.
"Sekarang mari tidur. Kasihan Baby Rey ikut begadang karena mu, Nak."
"Iya, Dad. Selamat tidur."
"Selamat tidur juga, Putriku."
Cup.
Stevent menghadiahi sebuah ciuman di kening putrinya lalu mulai meninggalkan putrinya yang mulai memejamkan matanya.
Jessica mulai menarik nafas pelan dan menenangkan pikirannya. Ia harus tenang karena waktu sudah malam agar dirinya bisa tidur. Tak lupa, Jessi membaca doa dan menyebut namanya untuk di serahkan kepada Allah.
"Ya Allah. Jika memang dia jodohku tolong kembalikan suamiku pada pelukanku."
~Bersambung~
Aku akan kembalikan nanti Rey ya Jessi, hehhe.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1