Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (26)


__ADS_3

Dari informasi yang diberitahu dan cerita yang diceritakan oleh Victor. Sepertinya memang benar, kalau Nana memanglah ada maksud tersembunyi. Aline menyimpulkan sesuatu, mungkinkah Nana iri melihat Amanda dinikahi Owen? Apakah Nana telah mengenal lama Owen, tapi cintanya tak tersampaikan, seperti cinta bertepuk sebelah tangan? atau Nana memanglah berambisi ingin memiliki apa yang dimiliki, dan dipunyai sepupunya?


"Menarik sekali. Semakin lama kamu semakin ingin mengeruk sisi gelapmu, Nana. Selamat untukmu yang bisa menarik perhatianku sampai seperti ini." batin Aline.


"Nyonya ... " panggil Vivi.


"Oh, ya ... maaf ... sepertinya aku terlalu lama meninggalkan Nenekmu," kata Aline.


"Tidak apa-apa. Bukan masalah kalau Anda sibuk atau mengurus sesuatu. Maksud saya memanggil bukan untuk itu, tapi saya mau mengajak Anda pergi mengunjungi teman Nenek, bersama Nenek juga. Apa Anda berkenan?" tanya Vivi.


"Se-sekarang?" tanya Aline kaget.


"Iya, Nyonya. Sekarang. Nenek bilang lebih cepat lebih baik. Lagipula teman Nenek bukan orang yang tidak pengertian. Nenek Emma pasti mengerti," kata Vivi.


Aline kaget, ia serasa tak percaya rencananya berjalan mulus tanpa hambatan dalam menggali informasi terkait Nana. Aline berpikir, akankah ada badai besar yang sedang menunggunya? mengingat seharusnya mencari kebenaran tak semudah membalikkan telapak tangan. Aline segera mengiakan perkataan Vivi dan bertanya kapan mereka akan pergi. Vivi lantas menjawab, jika akan pergi usai makan siang.


***


Aiden datang ke sebuah kedai kopi. Di sana, ia bertemu dengan Victor yang sudah menunggunya. Aiden meminta maaf, karena tiba-tiba meminta bertemu. Ia punya alasan yang ingin ditanyakan pada Victor terkait putri kesayangannya, Aline.


"Maaf, ya. Padahal kamu selalu sibuk. Namun, aku harus menyita waktumu seperti ini," kata Aiden tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, Paman. Sudah lama juga kita tidak bertemu, kan. Saya senang Paman baik-baik saja," jawab Victor.


"Apa kamu baik-baik saja? Bagaimana pekerjaanmu? putriku tak berulah, kan?" tanya Aiden.

__ADS_1


"Saya baik-baik saja, Paman. Pekerjaan saya lancar, tidak ada masalah berarti. Aline tidak berulah. Paman tidak perlu khawatir," jawab Victor.


Aiden tertawa. Sekian lama mengenal Victor, di matanya Victor tak pernah berubah. Aiden tahu, jika Victor sangat menurut apa kata Aline, jadi sudah pasti Aiden akan menutupi tindakan Aline dan berkata semua baik-baik saja. Meski begitu Aiden cukup lega, ada Victor yang selalu berpihak dan selalu bisa diandalkan Aline. Bisa dikatakan, Victor adalah tangan kanan dan orang kepercayaa Aline.


"Aku tahu dia sedang menyelidiki seseorang. Dan kamu sedang mendekati wanita itu. Bukan begitu? Jangan tanyakan apa-apa, dan cukup dengarkan aku saja. Lakukan pekerjaanmu dengan baik, dan jaga putriku agar tak terluka. Kamu tahu kan, seberapa berharga Aline untukku dan untuk dua Kakaknya? jika butuh bantuan, katakan saja. Aku akan membantumu. Aku memang tak pernah turun tangan ataupun ikut campur pada masalah-masalah yang dihadapi putriku, juga dua putraku, tapi kamu juga perlu tahu kalau mata dan telingaku menyebar mengawasi mereka. Sejauh ini baik-baik saja, tapi kita tidak tahu apa bahaya yang akan muncul tiba-tiba. Kamu paham maksud ucapanku?" jelas Aiden menatap Victor.


Victor kaget. Ia tidak pernah melihat sosok Aiden yang serius seperti itu sebelum-sebelumnya. Selama ini, jika ditanya dia akan menjawab dan Aiden mengiakan. Victor berpikir jawabannya sudah cukup dan memuaskan rasa ingin tahu Aiden. Ternyata, sebelum bertanya pun Aiden sudah tahu apa yang terjadi pada Anak-anaknya karena menyebarkan mata-mata.


"Saya mengerti, Paman. Saya akan menjamin keselamatan Aline. Setelah saya masuk ke perusahaan dan bekerja bersama Aline, saya sepenuhnya menyerahkan diri pada perusahaan. Karena itu saya selalu mengerjakan dengan sungguh-sungguh pekerjaan yang diberikan pada saya." jawab Victor.


Aiden menganggukkan kepala. Ia memuji kesetiaan dan kerja keras Victor selama ini. Victor tersenyum senang dan merasa puas mendapatkan pujian. Bagaimana ia tidak setia, Aline selalu memberinya bonus setiap kali berhasil memenuhi tugas. Aline tidak perhitungan dan selalu royal padanya. Karena itulah ia juga semakin berusaha menunjukkan hasil terbaik dari kerja kerasnya.


Aiden dan Victor lama berbincang. Sesekali mereka akan bercanda, lalu tertawa bersama. Kedua orang itu sangat menikmati momen pertemuan mereka.


***


Owen dalam perjalanan mengantar Aline pulang. Padahal sebelumnya Aline berkata tak perlu mengatar, tapi Owen memaksa. Setelah menidurkan Maximilian, Owen dan Aline langsung pergi.


"Kamu tidak lelah? bukankah hari ini kamu sangat sibuk? tadi Hans bilang padaku kamu sampai tidak makan siang," kata Aline.


"Iya, aku memang sibuk. Karena tadi harus pergi meninjau dua toko baru." jawab Owen.


"Kamu menyepelakan ucapanku ya, padahal aku khawatir. Tahu begini aku tidak libur dan mengekorimu. Menyebalkan sekali," gerutu Aline.


Owen tersenyum, ia senang kalau diomeli Aline. Rasanya ia kembali hidup. Aline menatap Owen, ia kesal karena Owen hanya tersenyum saat diberitahu. Aline terus mengomel. Mengatai Owen seperti anak kecil, lebih kecil dari Maximilian. Owen tetap diam mendengarkan. Sampai saat mobil berhenti diperempatan jalan karena lampu merah, Owen tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Aline dan mencium pipi Aline.

__ADS_1


"Apa ini sudah cukup untuk mengobati rasa kesalmu? atau kita putar balik saja dan kembali ke rumah, lalu melakukan yang lebih panas. Atau mau ke Hotel?" goda Owen.


Wajah Aline memerah. Aline yang kesal akhirnya tak jadi meledakkan kemarahannya karena mendapatkan kejutan. Aline mendorong Owen dan meminta Owen melihat jalan.


"Lihat jalan! bisa-bisanya kamu menciumku di tengah jalan seperti ini. Untung saja kaca mobilku gelap. Bagaimana kalau ada orang yang melihat. Dasar ... " kata Aline memajukan Bibirnya.


Aline langsung memalingkan pandangan menatap ke arah luar. Aline malu memperlihatka wajah merahnya. Sampai saat itu jantungnya masih berdegup kencang.


"Aline ... " panggil Owen.


"Hmm ... " gumam Aline menjawab.


"Aline ... sayang ... " panggil Owen lagi dengan mesra.


"Ya?" jawab Aline.


Aline memalingkan wajah karena penasaran, kenapa Owen memanggilnya mesra. Saat Aline memalingkan pandangannya, di saat yang sama Owen lansung mencium bibir Aline. Ciuman singkat yang lembut dan manis. Ciuman terlepas, Owen kemudian mencium kening Aline.


"Aku mencintaimu, Aline. Sangat ... " bisik Owen.


Aline terdiam tak bisa berkata-kata. Ia terkejut karena Owen tiba-tiba saja aneh. Menciumnya dan menyatakan cinta di dalam mobil, di tengah jalan. Melihat wanita kesayangannya diam saja karena kaget, Owen hanya tersenyum. Ia berkata ingin membawa Aline kabur saja kalau seperti ini.


"Apa aki boleh menculikmu?" kata Owen.


"A-apa? ja-jangan be-bercanda. Lampunya ..." kata Aline. Saat tahu lampu jalan sudah berubah.

__ADS_1


"Iya, iya ... " jawab Owen.


Owen langsung mengemudikan mobil. Owen memalingkan wajahnya sekilas menatap Aline, lalu kembali menatap jalan dan fokus mengemudi. Diam-diam Owem meraih tangan Aline. Ia menggenggam erat tangan Aline, lalu mencium tangan Aline.


__ADS_2