Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (21)


__ADS_3

Maximilin ikut ke kantor. Ia disediakan kursi dan duduk di samping Aline. Menunggui Aline yang sedang bekerja. Aline senang ditemani Maximilian, setidaknya ia ada teman mengobrol.


"Hm, Max ... boleh Bibi bertanya?" tanya Aline.


"Ya, Bi. Tanya apa?" tanya Maximilian.


"Itu ... hm, Max mau punya Mama, tidak?" tanya Aline ragu-ragu.


Maxomilian tersenyum, "Mau, kalau Mamanya seperti Bibi Aline. Kalau bukan aku tidak mau," jawab Maximilian.


Deg ....


Aline kaget. Jantungnya berdegup kencang. Aline merasa senang, tapi juga merasa sedih.


Melihat Aline diam saja, Maximilian pun bertanya ada apa dengan Aline? Aline menggelengkan kepala perlahan, ia berkata kalau ia sangat terkejut dengan jawaban Maximilian. Alin lantas jujur berkata, kalau saat ini ia sedang menjalin hubungan dengan Owen dan mereka berudua berencana serius untuk menikah.


"Karena itu, Bibi bertanya dulu pada Max." kata Aline.


"Apa Bibi takut aku tak menyukai Bibi? mana mungkin aku tak mengukai Bibi. Bibi kan sudah menolongku dan orang yang ssngat, sangat baik. Selain Papa, hanya Bibi yang paling baik padaku." sahut Maximilian.


Aline merentangkan tangan, ia meminta izin memeluk Maximilian. Tak ingin melewatkan kesempatan, Maximilian menyambut dengan senang hati rentangan tangan Aline. Mereka pun berpelukan erat. Setelah pelukan terlepas, Aline memangku Maximilian dan menciumi Maximilian.


"Ehemmmm ... " suara deheman dari Owen yang entah sejak kapan sudah berdiri di sisi meja Aline.


Aline dan Maximilian kaget. Mereka pun bersamaan menatap ke arah Owen. Melihat tatapan tidak senang Owen, Maximilian pun memeluk Aline erat-erat.


Owen mengerutkan dahi saat melihat putranya memeluk wanita kesangannya dengan erat. Ia yang selalu menahan diri untuk melakukannya serasa dipermainkan oleh anaknya sendiri.


"Max, jangan mengganggu Bibi." kata Owen.

__ADS_1


"Aku tidak mengganggu. Papa kenapa di sini? ruangan Papa kan di sana," jawab Maximilian menunjuk pintu ruangan Papanya.


Aline tersenyum, ia tahu sepertinya Owen cemburu karena tak bisa melukan apa yang dilakukan Maximilian. Tak ingin suasana antara Ayah dan Anak memanas, Aline lantas mengajak Maximilian pergi ke ruangan Owen dengan alasan makan cemilan. Maximilian senang, ia turun daru pangkuan Aline dan langsung berlari ke ruangan Papanya.


"Jadi, apa Anda sedang cemburu, Pak CEO?" tanya Aline.


Owen mendekatkan wajahnya ke wajah Aline yang masih duduk di kursinya. Ia mengatakan kalau ia memang cemburu. Meminta Aline untuk bertanggung jawab. Aline lantas menarik tangan Owen, membawa Owen ke ruang berkas yang ada di belakang meja kerja Aline. Aline membuka pintu dan langsung mendorong Owen ke dinding. Ia berjinjit, mengalungkan dua tangannya dan mencium bibir Owen dengan gemas. Owen kaget, Aline begitu agresif. Ia sampai ternga-nga dengan perlakuan Aline.


Aline melepas ciumannya. Ia menatap dalam mata Owen. Owen tersenyum mengusap wajah cantik Aline. Owen memuji kecantikan Aline. Owen ingin mencium Aline, tapi Aline langsung membekap mulut Owen dan menggelengkan kepalanya.


"Max menunggu kita, Owen." kata Aline.


Aline ingat kalau ia harus segera menemui Maximilian. Ia pun hendak pergi keluar dari ruang berkas, tapi kepergian Aline ditahan oleh Owen yang gantian memojokkan Aline ke dinding.


"O-owen ... " gumam Aline.


"Umhhh ... mmhhh ... " lengkuh Aline.


Owen melepas ciuman, "Bagaimana ini? aku ingin membawamu naik ke atas tempat tidur dan menciumi setiap inci kulitmu. Aku juga ingin menikmati setiap bagian dari dirimu," kata Owen.


Aline tersenyum, "Jangan berpikir macam-macam. Kita tidak boleh melaluka itu sekarang." kata Aline.


Owen menghela napas, "Ahhhh ... sepertinya aku harus mandi." kata Owen.


Aline setuju, sepertinya Owen memang harus mandi mengingat ada sesuatu yang yang perlu di lemaskan karena menegang. Aline berkata, kalau tak mandi justru akan membuat Owen tak nyaman.


Aline merapikan pakaiannya, ia juga merapikam pakaian Owen. Keduanya lantas pergi dari ruang berkas dan menuju ruangan Owen.


***

__ADS_1


Maximilia tertidur di sofa di ruangan Owen. Aline juga sibuk memeriksa data yang diberikan Hans padanya. Tiba-tiba Nana datang dan berdiri di samping meja Aline.


"Siapa yang mengerjakan ringkasan kemarin?" tanya Nana mengerutkan dahi.


"Kenapa? Apa ada masalah dengan ringkasannya?" tanya Aline menatap Nana dengan tatapan mata dingin.


Nana melebarkan mata, "Dasar tidak sopan. Aku ini seniormu. Bertindaklah sopan," kata Nana.


"Oh, begitukah? kalau Anda dingin dihargai, maka Anda perlu lebih dulu menghargai orang lain. Menjadi senior, bukankah anda seharusnya mengarahkan dan membimbing juniornya? kenapa Anda justru melakukan hal sebaliknya?" kata Aline memancing kekesalan Nana.


"Apa katamu? dasar wanita sialan! Berani sekali kamu padaku. Apa kamu tidak tahu siapa aku, huh?" sentak Nana.


"Kenapa Anda kesal, Senior? bukankah kata-kata saya benar? apa Anda kesal karena memang merasa melakukan sesuai dengan perkataan saya?" kata Aline tersenyum cantik.


Nana marah, ia mengangkat tangan dan langsung mengayunkan tangan ke arah wajah Aline. Aline mencengkram kuat pergelangan tangan Nana.


"Aha ... akhirnya kamu menunjukkan taringmu, Nana. Apa ini wajah Aslimu? Kamu sangat tempramen dan mudah terprovokasi ya. Padahal ini belum apa-apa. Aku bahkan mulai mengganggumu," kata Aline.


Nana merontak minta tangannya dilepskan. Aline menarik kasar tangan Nana sehingga wajahnya dan wajah Nana saling berdekatan. Aline bebisik sesuatu, dan Nana langsung melebarkan matanya.


"Ba-bagaimana bisa kamu tahu?" tanya Nana syok.


"Mudah saja bagiku mencari tahu tentangmu sampai ke akar. Ingat ini baik-baik, kalau kamu menggangguku, maka aku tak akan segan padamu. Aku akan menyebar foto dan videomu ke forum perusahaan, agar mereka tahu siapa kamu sebenarnya." kata Aline.


Aline langsung menepis tangan Nana. Ia menatap tajam ke arah Nana, seolah meminta Nana untuk segera pergi dari hadapannya. Nana kesal, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ancaman Aline. Ia pun mau tak mau pergi meninggalkan Aline.


Aline menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia berulang-ulang mengatur napasnya dan untuk bisa mengendalikan emosinya yang sepat memuncak. Aline langsung mengambil ponselnya, dan mengirim pesan pada Victor. Aline meminta Victor melakukan sesuatu, dan misi Victor kali ini tak boleh gagal. Tidak beberapa lama Victor membalas pesan Aline, ia mengatakan pada Aline untuk tidak perlu khawatir.


Aline tersenyum, "Tentu saja bagi Victor itu hal mudah. Wanita mana yang tak terpikat oleh ketampanan dan tubuh atletisnya. Terlebih Victor sangat pandai membujuk. Hahaha ... kita lihat saja, sampai mana kamu akan menyombongka diri, Nana? setelah kamu jatuh dalam genggamanku, aku akan langsung menghancurkanmu sampai menjadi butiran debu." batin Aline.

__ADS_1


__ADS_2