Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Ada Apa Suamiku?


__ADS_3


Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi. Tapi aku bisa melihat emosi suamiku yang memuncak. Tapi aku sadar jika istri bisa menjadi air untuk memadamkan apa yang sedang membuatnya begitu marah. ~Jessica Alexzandra Caroline~


****


Hari mulai beranjak sore. Banyak kendaraan yang berlalu-lalang untuk kembali menuju rumah masing-masing setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. 


Di dalam mobil yang sedang bergerak kembali ke rumah. Hanya ada kesunyian di dalamnya. Baik Rey maupun Jessi sama-sama diam entah apa yang dipikirkan. Jessica bisa melihat dari sudut matanya jika mata sang suami masih menatap tajam ke depan. Dadanya naik turun serta nafasnya terdengar memburu. 


Sungguh dirinya tak tahu apa yang membuat suaminya ini begitu emosi. Tapi tetap saja Jessi mencoba menahannya sampai di rumah. Bagaimanapun, sebuah pertengkaran dalam rumah tangga harus diselesaikan di dalam rumah. Karena apa? Jika kita mengumbarnya di luar maka bukan penyelesaian yang akan mereka dapat melainkan akan terus ada masalah baru yang memperkeruh keadaan mereka. 


Tak beberapa lama, mobil yang dikendarai oleh Rey akhirnya mulai memasuki halaman rumahnya. Dengan pelan, Jessi mengambil tas yang disampirkan ke pundaknya lalu segera turun untuk mengejar sang suami. 


"Sayang," panggil Jessica sambil berjalan sedikit kencang.


Namun, Rey masih bungkam. Dia tak memperdulikan sang istri karena hatinya masih tak karuan. Bukan karena dia jatuh cinta pada Marlena. Sedikitpun tak ada rasa apapun untuk perempuan seliar itu. 


Rey hanya merasa kesal yang memuncak dan ingin sekali mencekik atau menarik tangan gadis itu. Dengan beraninya dia memegang tubuh seksi Rey tanpa meminta izin.


"Kalau cowok, sudah aku pukul sejak tadi," seru Rey pelan dengan langkah terus bergerak. 


Jessica yang berada di belakang pun tak mengendur sama sekali. Dia terus berjalan sampai berada di pintu kamar yang tertutup.


"Ya Tuhan. Kamu kenapa sih!" keluh Jessi sambil memijat pelipisnya. 


Sungguh ia tak mengerti mengapa sang suami seperti ini. Membuka pintunya secara perlahan, Jessi segera masuk ke dalam.


Helaan nafas terdengar dari mulutnya ketika melihat jam tangan, jas dan kemeja sang suami berserakan. Sungguh ini bukan karakter Rey biasanya. Memunguti semua barang yang berantakan, segera dia meletakkan ke tempat semestinya. 


Jessica akan menunggu Rey yang masih berada di dalam kamar mandi. Tak lupa, ia juga menyiapkan pakaian santai untuk dipakai suaminya itu.

__ADS_1


Suara pintu terbuka membuat Jessi menoleh. Dia mendekat ke arah Rey dan menarik handuk kecil yang digunakan suaminya itu untuk mengusap rambutnya. Tak ada yang bersuara, Jessi masih mengeringkan rambut Rey dan segera menyerahkan pakaian itu padanya.


Tanpa kata, Jessi juga menuju ke kamar mandi untuk menenangkan pikirannya. Dia tak boleh ikut terbawa emosi. Dimana jika salah satu mereka sedang terbakar api, maka yang satu harus menjadi air. Itulah yang selalu diingat dari nasihat sang Daddy.


****


Taman indah dan gemericik air menjadi lagu menenangkan bagi pikirannya yang sedang membumbung naik. Pria yang memakai kaos hitam mencetak bentuk tubuhnya itu, memilih keluar dari kamar dan menuju taman belakang rumahnya.


Seorang Rey tak mau jika emosi yang ia bawa dari luar harus berdampak pada sang istri. Apalagi, bagaimana dia harus menjelaskan pada Jessi atas tindakan tak senonoh sahabatnya itu. 


Menggeser tubuhnya untuk lebih rileks. Rey memilih memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sungguh cuaca dan pemandangan di sore hari menuju petang ini begitu memanjakan mata dan pikiran. Hingga membuat emosi yang tadinya memuncak perlahan mereda.


Sesaat tercium bau wangi khas sang istri yang masuk memenuhi lubang hidungnya. Rey tersenyum dalam hati, dia tak menyangka sang istri akan terus mendekatinya sampai menyusulnya ke sini.


Tiba-tiba Rey merasakan sebuah benda yang sangat dia hafal mendarat di keningnya dengan lembut. 


"Apa aku ada salah, Sayang? Sampai kamu tega diemin aku?" suara lirih Jessi entah kenapa mampu membuat Rey yang sedang asyik memejamkan matanya langsung terbuka. 


"Maafkan aku," ujar Rey lembut sambil menyembunyikan kepalanya di ceruk leher sang istri. "Kamu gak salah, Sayang." Lanjutnya hingga membuat Jessi terdiam.


Dirinya tahu jika sang suami tak berbohong. Lalu apa yang membuat Rey bisa emosi sebegitu besarnya. Selama beberapa bulan mengenal, dirinya tahu betul bagaimana sikap pria itu serta emosinya. Lalu sekarang, Jessi bisa menebak jika ada seseorang yang mengusik ketenangan sang suami.


Menjulurkan tangannya ke samping. Jessi mengusap rambut sang suami yang asyik menciumi lehernya hingga membuatnya harus menahan geli. 


"Terus apa yang buat kamu marah?" tanyanya begitu lembut.


Perlahan Rey menjauhkan wajahnya dari tempat favoritnya itu. Lalu dia menatap mata sang istri yang seperti meminta jawaban atas apa yang dia tanyakan. 


Rey membayangkan bagaimana ekspresi Jessi jika dia mengatakan semuanya dengan jujur. Apakah istrinya itu akan percaya? Apakah sang istri akan mengira dirinya berbohong? Apakah istrinya itu akan bersedih setelah mengetahui itu semua?


Bisa Rey tebak pasti istrinya akan merasa kalut. Ditambah persahabatan dengan gadis liar itu begitu lama. Rey mencoba menebak bagaimana istrinya ini bersikap. 

__ADS_1


Ah memikirkan istrinya menangis dan keduanya marah. Rey lebih memilih menyimpannya sendiri. Semoga gadis liar itu segera pergi dari Indonesia dan tak melakukan hal lebih dari tadi sore kepadanya.


Tanpa Rey sadari. Dari sinilah semua akan berawal. Entah apa yang akan terjadi kedepannya. Namun Rey hanya berharap semoga sang istri tak mengetahui tingkah busuk sahabatnya itu. 


"Aku hanya kecapekan aja, Sayang. Jadi maaf yah, kalau aku maksa kamu pulang." 


Jessica mencari kebenaran di mata Rey. Tapi melihat suaminya berkata dengan yakin akhirnya Jessi mengangguk mempercayai. 


"Kalau kamu capek. Lebih baik sekarang istirahat! Biar nanti waktu makan malam aku bangunin kamu," ujarnya dengan pelan dan hendak berdiri.


Tapi Rey tak membebaskan sang istri dari posisinya. Dia menyeringai dengan mata berkabut dan membuat istrinya menelan ludah paham akan maksud sang suami. 


"Sayang," panggilnya pelan dengan menatap wajah sang suami yang sudah begitu bergairah.


"Hmm," Rey berdehem. Dia baru menyadari jika istrinya hanya memakai baju daster dengan tali spaghetti yang begitu menggoda iman.


"Mau apa?" 


"Mau makan kamu."


Tak mau memberikan celah Rey segera melahap habis bibir manis sang istri. Dia menciptakan suasana lembut hingga membuat Jessica bergerak sendiri memutar tubuhnya hingga duduk berhadapan dengan sang suami. 


Suasana yang mendukung membuat Rey semakin tak tahan. Tapi naluri posesifnya masih muncul dan tak mengizinkan siapapun dapat melihat tubuh sang istri selain dirinya. 


Perlahan, dia menggendong sang istri seperti koala dan berjalan memasuki rumah dengan bibir yang tak berhenti bergulat. Untung saja, para pelayan sudah masuk ke dalam rumah samping karena baik Rey dan Jessi hanya mengijinkan pelayan masuk ke rumah utama di jam 6 pagi sampai 5 sore. Tapi jika ada hal yang mendesak maka peraturan itu bisa dirubah oleh sang Tuan Rumah.


~Bersambung~


Yey maaf yah, jam tayangnya masih berantakan. Karena keadaanku masih belum sehat betul. Jadi aku juga ngetiknya setelah merasa badanku enakan buat diajak Ngetik.


Jangan lupa like yah karena aku liat di atas ada yang kelupaan likenya. hiks.

__ADS_1



__ADS_2