
Apapun yang kamu pakai. Pasti akan terlihat jauh lebih sempurna ketika membalut tubuh indahmu, Sayang. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Setelah mendapatkan cincin yang dicari. Segera Rey membawa Jessica ke butik langganan Mamanya. Disana, mereka juga sudah janjian dengan Mama Ria untuk mencari gaun pernikahan.
Memang Rey sengaja mencari dihari yang sama, karena dia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum pernikahan. Dua perusahaan yang dia kerjakan sendiri, membuat Rey harus bisa bekerja dengan waktu yang terbagi
Stevent memang sudah memberikan anak perusahaan yang diolah oleh Rey untuk calon menantunya itu. Dia ingin anak perusahaannya berdiri di kaki Rey seorang. Kehilangan satu perusahaan pun, tak membuat Stevent jatuh miskin.
Dengan senyuman mengembang dan mata berbinar, Rey menggandeng tangan calon istrinya memasuki butik yang mereka tuju. Para pelayan yang melihat kedatangan keduanya pun segera memberi hormat. Saat melihat ada Mama Ria isana, Jessica berjalan terlebih dahulu dan memeluk wanita yang sudah melahirkan pria yang dicintainya itu.
"Mama sudah lama?" tanya Jessi saat pelukan mereka terlepas.
Mama Ria menengok jam sambil menggeleng, "ternyata mama nungguin cuma 5 menit doang."
"Syukurlah, Ma."
Rey yang melihat interaksi keduanya pun ikut tersenyum. Setidaknya pilihannya kali ini mampu diterima dan membuat Mamanya bahagia. Rey mendekat lalu mencium punggung tangan Mama Ria.
"Mama sudah makan?"
"Belum, Rey. Mama pengen makan bareng kalian berdua," ucap Mama Ria sambil menatap putranya penuh harap.
"Tentu saja, Ma. Kita akan makan bersama," jawab rey dan menatap calon istrinya. "Iya, 'kan Sayang?"
Jessica mengangguk. Lalu segera Mama Ria mengajak menantunya itu masuk ke dalam ruangan pemilik butik.
"Ya Tuhan ternyata kamu, Ri," ujar sang pemilik butik dengan beranjak dari duduknya.
Dua wanita paruh baya itu saling memeluk untuk melampiaskan kerinduan yang sudah lama menumpuk. Sang pemilik butik yang tak lain bernama Rose adalah sahabat dari Mama Ria saat kuliah dulu. Tentu saja, bertemu kembali setelah sekian lama membuat keduanya begitu senang. Apalagi, baru kali ini Mama Ria bisa bertemu dengan pemilik butik langganan yang ternyata adalah sahabatnya sendiri.
"Berhentilah bercerita, Rose. Aku kesini mengantar calon istri putraku," ujar Mama Ria memperkenalkan Jessica yang sedari tadi diam tersenyum melihat calon mertuanya begitu bahagia.
"Oh ya ampun, Ri. Cantik banget calon menantumu." Puji Rose dengan mengusap pipi Jessi.
Tentu hal itu membuat Jessi merasa canggung. Namun dia tetap memaksakan senyumnya agar tak menyakiti hati pemilik butik.
Mama Ria hanya tertawa mendengar pujian sahabatnya itu. Lalu dengan semangat Rose membawa keduanya ke sebuah ruangan yang ditutup dengan sebuah pintu coklat besar. Dibukanya pintu itu perlahan lalu segera didorongnya dan terpampanglah banyaknya barisan mannequin yang memakai gaun pernikahan begitu indah.
Melihat ruangan itu seperti melihat surganya gaun pengantin. Jessica sampai terkagum-kagum dan tak sadar jika dia sudah keliling melihat bagaimana model gaun yang dipajang di sana.
"Ya ampun, bagus banget," gumam Jessi dengan tangan bergerak melihat model gaun yang ada disana.
Tak lama, Rose membawa sebuah mannequin yang memakai gaun pernikahan berwarna putih dengan model begitu indah. Bahkan di luarnya dilapisi oleh permata asli yang membuat gaun itu semakin terlihat cantik.
__ADS_1
"Itu bagus, Ma." Tiba-tiba Rey datang dan menatap kagum ke arah gaun yang dibawa oleh wanita yang dirinya tebak sebagai pemilik butik.
"Tentu saja, Tampan. Ini adalah gaun terbaik rancanganku tahun ini. Hanya ada satu di seluruh dunia."
Rey mendekat. Dia memutari gaun itu dan mengangkat jempolnya ke arah Rose.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Mama Ria pada Jessica yang sedari tadi terdiam.
"Sempurna, Ma," sahut Jessi tanpa sadar.
Sungguh matanya begitu dimanjakan oleh gaun dengan yang memperlihatkan pundak dan punggungnya. Gaun ini cocok sekali dipakai saat resepsi pernikahan. Begitu cantik dan memanjakan matanya.
"Apalagi jika kau yang memakainya. Pasti lebih sempurna." Bisik Rey di telinga sang istri.
Entah sejak kapan Rey bergerak dan pindah. Tiba-tiba dia sudah berada di samping calon istrinya itu. Mendengar bisikan Rey, spontan membuat pipi gadis itu merona merah. Dia baru sadar jika kekasihnya ini sangat pandai dalam hal menggombal dan memuji.
Baru tau aja lu, Jess. Dari jaman Adel mah, si Rey memang begini. Hahaha.
****
Seperti pembicaraan mereka sebelumnya. Akhirnya ketiga orang itu sudah sampai di sebuah Restaurant yang tak jauh dari Butik milik Rose.
Perut yang sudah keroncongan, membuat mereka sudah tak punya kekuatan menuju Restaurant langganan Mama Ria dan Rey. Segera mereka memesan makanan pada pelayan yang menghampiri meja mereka.
Setelah semua pesanan mereka dicatat. Pelayan itu mulai undur diri untuk membuat pesanan yang sudah dia catat.
"Iya, Ma. Aku juga kasihan sama dia. Sepertinya Bima lebih banyak fokus kerja daripada cari pasangan," sahut Rey dengan membenarkan posisi duduknya.
Saat Jessica menatap ke sekeliling Restaurant yang baru dia datangi. Tiba-tiba matanya tak sengaja menangkap sosok familiar yang sangat dia kenal betul.
"Ma," panggil Jessi pelan sampai Mama Ria menoleh. "Bukannya itu Bima yah?" tunjuk Jessi pada sebuah meja yang terhalang oleh sekat dinding kaca.
"Oh iya, Ma. Itu Bima," celetuk Rey saat dia mengikuti arah pandang calon istrinya.
Tanpa banyak kata, Rey berjalan menuju posisi Bima hingga membuat Jessi bisa melihat dengan jelas. Dia bisa menangkap disana, Rey sedang berkenalan dan berbicara sebentar hingga kemudian Rey kembali ke mejanya bersama Bima.
"Sedang apa kau disana, Nak?" tanya Mama Ria setelah Bima mencium punggung tangannya.
"Aku selesai melakukan meeting bersama klien."
"Oh." Mama Ria mengangguk.
"Pesanlah, Bim! Kita makan bersama," ujar Rey meminta rekannya itu untuk makan bersama.
"Tapi aku kenyang, Bos. Sudah makan tadi."
"Pesanlah makanan ringan saja."
__ADS_1
Akhirnya Bima mengalah. Dia memilih kentang goreng untuk menu makanannya kali ini dengan segelas jus jeruk.
Setelah beberapa menit menunggu. Semua menu masakan mulai tertata rapi di meja makan. Dengan lahap empat orang itu mulai memakan makanannya dengan lahap. Sepertinya memang Rey, Jessi dan Mama Ria benar-benar lapar. Hingga tak perlu waktu lama, semua makanan itu sudah berpindah ke perut mereka.
"Bagaimana pekerjaan beberapa hari kedepan, Bim?" tanya Rey setelah piring bekas mereka dibersihkan oleh pihak Restaurant.
"Jadwal anda full sampai menjelang pernikahan," sahut Bima mengingat jadwal Rey yang tertunda.
"Baiklah. Mulai besok tolong atur kembali jadwalku dan semoga h-3 semuanya sudah selesai." Rey berharap betul sebelum pernikahannya semua pekerjaan yang menumpuk selesai dengan cepat.
Dirinya juga ingin merayakan honeymoon bersama sang istri. Tapi melihat jadwal itu, jika belum selesai maka harapannya tak akan terwujud.
"Siap, Tuan."
Jika mode begini. Maka ya seperti inilah mereka. Berlaku formal dan sopan seperti majikan dan bawahannya.
"Yang penting kalian berdua jangan terllau diforsir bekerja." Nasehat Mama Ria, "apalagi kamu Bim. Cari pasangan secepatnya, yah!"
"Untuk apa, Nyo…Ma?" tanya Bima gugup ketika melihat ibu dari majikannya itu melotot ketika mengetahui dirinya memanggil Nyonya.
"Untuk teman kencanmu di pernikahan Rey."
"Itu tidak perlu, Ma. Aku kan bisa sendiri."
"Tak ada penolakan," celetuk Jessi menahan senyum.
Bima terdiam. Dia bingung jika sudah begini. Hendak mengajak siapa dirinya untuk teman kencan ke pernikahan bosnya itu. Tapi, tiba-tiba wajah gadis yang beberapa hari ini mengusik hatinya muncul hingga membuat Bima bingung dan gundah.
~Bersambung~
Aduh Bang. Sini sama aku aja datangnya. Biar ada temen buat gandengan.
Yang gak ada pasangan jan dateng seh. Takut ntar malah gandengan sama dinding hahaha.
Part selanjutnya khusus Abang Bima cari pasangan hahaha. Besok partnya kawin eh nikah, hahaha. Terus TAMAT DEH, UPSSS.
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1