
Owen yang semakin penasaran pun semakin ingin mengorek isi pikiran dan hati putranya. Ia lantas memancing beberapa pertanyaan terkait Aline pada putranya.
Setelah mendengar semua jawaban putranya, Owen barulah tahu kalau putranya sangat menyukai wanita berama Aline Michaela. Menganggap Aline sebagai sosok penolong baik hati bak peri.
"Apa yang sudah wanita itu lakukan pada Maximilian? bagaimana bisa dia membuat putraku seperti ini?" batin Owen.
"Pa ... Papa ... " panggil Maximilian menarik lengan kemeja Papanya.
Owen menatap Maximilian, "Ya, sayang. Ada apa?" tanya Owen.
"Papa mau kan menjadikan Bibi Aline menjadi Sekretaris Papa?" tanya Maximilian.
"Umm, Max ... soal itu Papa akan pikirkan dulu, ok. Papa tidak bisa langsung memetuskan karena ada beberapa calon lain selain Bibi Aline yang juga harus dipertimbangkan." jawab Owen menjelaskan.
Maximilian langsung menunduk. Ia terlihat kecewa. Owen merasa bersalah, tapi ia tidak bisa begitu saja asal mengiakan apa yang diminta putranya. Ia memang harus memikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan.
Setelah mendengar jawaban dari Papanya, Maximilian hanya terus diam dan karena bosan ia pun meminta untuk dipanggilkan supir karena ingin pulang. Bahkan saat pulang, Maximilian hanya berpamitan singkat seolah menunjukkan rasa kesalnya pada Owen.
***
Sesampainya di rumah, Maximilian hanya mengurung diri di kamar. Bibi pelayan datang memanggil Maximilian untuk makan, tetapi Maximilian berkata tidak mau makan. Bibi pelayan bahkan sampai membujuk dan meminta Tuan mudanya untuk mengatakan apa yang ingin dimakan.
"Tidak mau makan!" seru Maximilian kesal.
Bibi pelayan tidak tahu, kenapa Tuan mudanya tampak kesal. Mungkin karena itu juga yang membuatnya sampai tak mau makan. Bibi pelayan pun pergi, dan berkata akan datang lagi nanti. Meminta Tuan Mudanya memanggil kalau ingin atau butuh sesuatu. Maximilian tidak menjawab. Ia terus diam.
Sampai tiba malam hari. Bibi pelayan yang khawatir pun terus membujuk Maximilian untuk keluar dari kamar.
"Tuan Muda ... bisakah Anda tidak boleh seperti ini." kata Bibi pelayan mengetuk pintu.
Mendengar keributan, Owen pun langsung menghampiri dan bertanya apa yang terjadi pada pelayan rumahnya. Pelayan menjelaskan, ia memberitahu Owen kalau Maximilian tidak mau makan sejak siang tadi. Bahkan tiba-tiba mengunci pintu dan tidak bersuara.
Owen mengerutkan dahi, ia meminta pelayan menyiapkan makanan saja. Owen sendiri yang akan menangani Maximilian.
__ADS_1
Owen mencoba membuka pintu, tapi pintu dikunci dari dalam oleh Maximilian. Ia mengetuk pintu kamar dan memanggil-manggil Maximilian.
Di dalam kamar Maximilian hanya diam menatap ke arah pintu. Ia mendengar suara ketukan dan mengabaikannya. Sampai ia mendengar suara sang Papa yang memanggilnya.
"Max ... " panggil Owen.
"Max, buka pintunya. Max ... " panggil Owen lagi.
Maximilian memajukan bibirnya dan bergumam, ia tidak senang dan tidak ingin bertemu Papanya.
"Papa jahat," gumam Maximilian.
"Max ... Papa tahu kamu sedang marah. Bisa buka pintunya dulu? Ayo, kita bicara." kata Owen membujuk.
Tidak tahan karena pintu kamarnya terus diketuk. Max pun menjawab panggilan Papanya dan mengatakan kalau ia tidak mau bicara dengan Papanya.
"Tidak mau. Papa jahat!" kata Maximilian berteriak.
Maximilian langsung berbaring dan masuk ke dalam selimut. Ia benar-banar marah pada Owen.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau buka pintu, maka Papa akan menghubungi Bibi Aline dan mengatakan kalau kamu meneriaki Papa. Coba pikirkan, apakah Bibi Aline akan senang dengan anak yang seperti itu?" kata Owen.
Karena tidak ada cara lain dan dibujuk pun sulit, maka Owen memanfaatkan rasa suka Maximilian pada Aline. Mengatakan akan mengadukam Maximilian pada Aline.
Tidak lama pintu terbuka, Maximilian mengintip dan meminta Papanya untuk tidak mengatakan hal buruk tentangnya pada Aline. Owen ingin tertawa, tapi ia menahannya. Ia merasa putranya mudah sekali luluh hanya dengan nama Aline.
Owen mengiakan permintaan Maximilian dengan syarat Maximilian harus mau bicara dengannya dulu. Maximilian pun mempersilakan Owen masuk ke kamarnya.
Owen menatap putranya, "Apa kamu marah pada Papa?" tanya Owen.
Maximilian tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya. Owen lantas meminta maaf. Ia mengatakan kalau ia tak bermasud jahat pada Maximilian. Owen hanya ingin Maximilian tahu, kalau Papanya tidak bisa mengambil keputusan secara terburu-buru. Dan setelah panjang lebar memberi penjelasan, akhirnya Maximilian pun mau mengerti.
"Apa Maximilian masih marah?" tanya Owen.
__ADS_1
"Sedikit," jawab Maximilian singkat sambil membuang muka.
"Lantas Papa harus apa, agar putra Papa ini tidak marah?" tanya Owen.
"Aku mau bertemu Bibi Aline setiap hari. Apa Papa bisa menganbulkannya?" tanya Maximilian.
Owen terkejut. Ia melebarkan matanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Setiap hari? Itu hal yang tidak mungkin. Apa mungkin Bibi Aline mau bertemu setiap hati tanpa alasan?" jawab Owen bingung.
"Aku tidak mau tahu. Papa harus membawa Bibi Aline menemuiku setiap hari. Kalau tidak, maka aku akan terus marah dan tidak mau memaafkan Papa." kata Maximilian.
Owen menarik napas, lalu menghela napas. Seketika kepalanya langsung sakit. Ia pun duduk bersandar di sofa dan memijat lembut pangkal hidungnya. Ia tidak mengerti kenapa Maximilian sekeras kepala itu sampai membuatny tidak bisa berkata-kata.
"Apa yang harus aku lakukan kalau seperti ini?" batin Owen.
Owen memikirkan cara agar bisa membawa putranya bertemu Aline, tapi ia tidak tahu harus membuat alasan yang seperti apa? Tidak mungkin baginya hanya mengatakan kalau Maximilian ingin bertemu, itu terdengar seperti hanya alasan. Bagaimanapun harus ada suatu alasan.
Cukup lama Owen berpikir dan akhirnya ia memutuskan untuk menjadikan Aline sebagai Sekretarisnya. Dengan begitu putranya bisa menemui Aline di kantor, atau di rumah kalau ia membawa Aline ke rumahnya.
"Pada akhirnya aku tetap tak berdaya dihadapan putraku sendiri," batin Owen.
"Max ... ayo akhiri ini. Jangan buat Papa sedih," kata Owen.
Maximilian menatap Papanya, "Papa bisa mengabulkan keinginanku?" tanya Maximilian.
"Ya, Papa bisa. Papa akan menjadikam Bibi Alin Sekretaris Papa. Kamu bisa menemui Bibi Aline sepuasmu. Apa dengan begini kamu sudah tidak marah lagi?" tanya Owen menatap Maximilian.
Maximilian langsung senang. Ia berdiri dari duduknya dan berlari memeluk Papanya.
"Papa janji, ya." Kata Maximilian.
"Ya, Papa janji." jawab Owen.
__ADS_1
Owen mengusap punggung Maximilian. Ia memang paling tidak bisa melihat putranya kesal dan marah padanya. Ia pasti merasa sudah menjadi Ayah yang buruk.
Maximilian melepas pelukan. Owen mencium pipi Maximilian dan mengatakan kalau ia sangat sayang pada putranya itu. Maximilian mencium pipi Papanya, ia berkata kalau ia juga sangat sayang pada Papanya.