
Semenggoda apapun dirinya, tak akan mampu menandingi istriku yang cantik. Gairah dan tubuhku hanya akan merespon sentuhan dari pemilik hatiku yaitu Jessica Alexzandra Caroline. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Senyum bergambar jelas di bibir keduanya. Dengan perasaan membuncah, Rey serta Jessica mendatangi semua keluarga yang datang dengan saling bergandengan tangan. Memang saat ini adalah saat dimana keluarga besar berkumpul bersama.
Setelah acara akad selesai. Keduanya memiliki waktu istirahat sampai pukul 1 siang sebelum acara resepsi dilaksanakan. Maka dari itu, karena waktu masih menunjukkan pukul setengah 10 pagi, akhirnya Jessi dan Rey lebih memilih bercengkrama dengan beberapa keluarga agar lebih dekat lagi.
Mereka berbicara bahasa inggris.
"Kenalin, Rey. Ini saudaranya Daddy. Namanya Om Marko."
"Halo, Rey. Salam kenal."
"Salam kenal balik, Om. Semoga Om menikmati pesta kami."
"Tentu saja, Rey. Pestamu begitu megah dan mewah. Tapi terkesan nyaman dan cantik," puji Marko dengan tersenyum.
"Pastilah, Om. Kan aku yang minta."
"Oh ponakan Om yang minta, yah? Jelas aja kelihatan bagus banget."
Jessica pura-pura tersipu malu. Semua keluarga besar Jessica sudah tahu, jika sifat antara Stevent dan Marko bertolak belakang. Meski mereka berdua saudara kandung, tapi sifat Marko jauh lebih baik daripada Ayah Jessi.
Marko orangnya lebih welcome, lebih hangat dan gampang bergaul. Maka dari itu, dia tak mengalami kesulitan sekali saat berhadapan dengan orang baru seperti suami dari ponakannya itu.
Saat melihat sang suami sedang asyik mengobrol dengan omnya. Jessi mengedarkan pandangannya. Dia ingin mencari seseorang yang sangat dia kenal betul.
"Itu dia!"
Jessica perlahan meninggalkan sang suami dan berjalan menuju seseorang yang ternyata menyadari kehadirannya. Saling memeluk secara bergantian tak lupa dengan kecupan di pipi kanan dan kiri.
"Hello, Darling."
__ADS_1
"Hey, Baby. Bagaimana kabarmu?" tanya Jessi setelah dia melepas pelukan mereka.
Gadis bule cantik dengan gaun terbuka bagian punggung serta bibir yang dipoles dengan lipstik merah itu terkesan seksi. Siapa lagi jika bukan, Marlena. Salah satu sahabat Jessi yang begitu dekat dengannya.
"Tentu saja aku baik, Sayang," sahutnya dengan memberikan kerlingan mata pada Jessi.
Sikap dan tingkah laku Marlena sudah menjadi hal biasa untuk Jessi sendiri. Sahabatnya ini memang memiliki sikap genit dan juga playgirl kelas kakap. Tahu sendiri, 'kan? Bagaimana kehidupan di luar negeri? Bebas dan tak ada halangan. Ya begitulah dengan sikap Marlena. Dia sering kali bergonta-ganti pasangan tapi hal itu tak membuat Jessi risih.
Dia menerima Marlena menjadi sahabatnya karena memang sikap gadis itu baik padanya. Keduanya juga tak pernah memiliki masalah apapun. Tampilan mereka saat kuliah pun sering dibilang menjadi anak kembar. Dimana Jessica punya maka Marlena harus punya. Maka dari itu, Jessu begitu senang ketika tahu sahabatnya itu datang.
Beralih di sampingnya, Jessi tersenyum melihat satu lagi temannya bernama Catherine. Gadis dengan pakaian lebih tertutup dengan riasan lebih tipis itu tersenyum hangat ke arah Jessica.
"Selamat atas pernikahanmu, Baby. Semoga kau selalu bahagia."
"Aamiin."
Persahabatan ketiganya memang tak memandang perbedaan agama antara yang satu dengan yang lain. Murni ketiganya berteman atas dasar hatinya sendiri. Berlagak seperti saudara kandung, Jessi, Catherine dan Marlena tak pernah berpisah ataupun bertengkar. Apapun jika yang satu punya maka yang lain harus memilikinya juga. Entah itu apapun pasti mereka punya sama.
Saat ketiganya asyik mengobrol, tiba-tiba sebuah tangan memegang pinggang Jessi hingga membuat gadis itu memekik terkejut.
"Benarkah?" goda Rey dengan mata dibuat selucu mungkin.
Jessica yang melihatnya pun hanya tersipu malu. Lalu dia mulai berdiri tegak dengan Rey yang tak mau melepas tangannya dari pinggangnya sendiri hendak mengenalkan suaminya itu pada dua sahabatnya.
"Oh ya, Rey. Kenalin yang ini Catherin." Tunjuk Rey pada Cate hingga membuat keduanya bersalaman dengan Cate yang merasa canggung.
Bergantian, Jessi menatap Marlena yang ternyata sedang menatap suaminya tanpa kedip.
"Kedip dong, Baby." Goda Jessi dengan meniup mata Marlena.
"Astaga, ih ngeselin sih." Kesal Marlena lalu dia menatap suami dari sahabatnya juga.
Entah apa yang merasuki gadis itu, segera Marlena mengulurkan tangannya dengan pandangan mata begitu kagum pada Rey. Namun, Jessica yang tak pernah berpacaran tak tahu arti dari tatapan Marlena. Dia hanya menyenggol sang suami untuk menerima uluran tangan sahabatnya itu.
"Rey," ucapnya sambil menerima uluran tangan gadis yang sungguh membuatnya risih.
__ADS_1
Rey bisa melihat jika gadis di depannya ini begitu berbeda dengan sahabat istrinya yang tadi. Tapi karena paksaan sang istri, dirinya menerima uluran tangan Marlena dengan terpaksa. Hingga akhirnya, aoa yang dia pikirkan benar terjadi. Saat Rey hendak menariknya secara pelan, Marlena menahannya bahkan dengan berani mengelus tangan Rey dengan ibu jari.
Sontak hal itu membuat nafas Rey memburu. Bukan karena gairah, tapi dirinya marah ketika ada seseorang yang menyentuhnya dengan lancang. Tak ingin membuat sang istri yang sedang bercanda dengan Catherine curiga. Rey segera melepaskan jabat tangan mereka dengan paksa lalu menggenggam tangan sang istri.
"Ayo kita ke saudara yang lain!" ajak Rey hingga membuat Jessi bingung.
Tak ingin membuat suaminya minta lagi, segera dia berpamitan pada dua sahabatnya dan berjalan bersama Rey yang bertingkah laku aneh.
"Stop, Rey." Jessica menahan tangan sang suami ketika mereka berhenti di dekat pintu.
Dengan pelan, dia mengajak Rey keluar dan mencari tempat yang sedikit lebih lenggang. Sepertinya ada yang berbeda dari sang suami setelah bertemu dengan sahabatnya.
"Kenapa, Rey? Kamu kayaknya lagi marah?" tanya Jessi bingung sambil mengusap keringat di dahi sang suami.
Melihat tatapan penuh kekhawatiran dari mata sang istri. Membuat Rey tersadar, dia tak boleh seperti ini. Menarik nafas dan membuangnya, dia mencoba untuk menetralkan amarahnya yang memuncak dan memaksakan senyumannya pada sang istri.
"Aku baik-baik saja, Sayang."
Ah panggilan itu selalu mampu membuat pipi Jessica memerah. Gadis itu terlihat lebih menggemaskan untuk Rey dan ingin sekali dia mencium sang istri namun menahannya. Dirinya takut akan merusak riasan wajah Jessi dan membuatnya kesal.
"Baiklah. Kalau begitu lebih baik kita masuk kembali, Rey. Masih banyak saudara yang harus kita temui saat ini."
Rey mengangguk, segera mereka berdua kembali ke dalam rumah dengan menebar senyuman yang indah. Rey tak akan menceritakan hal yang terjadi, karena dirinya takut jika Jessi lebih percaya pada sahabatnya. Dia juga tak mau membuat sang istri menangis dan sakit hati di hari pernikahan mereka.
Dalam hati, Rey berjanji dia tak akan pernah meninggalkan sang istri, Jessica. Lalu dirinya akan selalu berada di dekat gadis itu hingga nanti Tuhan lah yang akan memisahkan mereka berdua. Biarlah, manusia atau apapun mencoba menjadi perusak mereka. Namun, Rey akan selalu lebih berjuang untuk kebahagiaan rumah tangga yang baru saja mereka rintis.
~Bersambung~
Duh duh hmmm ada yang udah mikir sesuatu gak?
Bab ekstra part juga bakalan aku isi kisah cinta Bima sampai tamat, hehehe.
Jadi kalau mau aku up lagi, Yok di like bab ini yah. Like nya harus sama kayak diatas lebih 50 like oke.
Thankyuu aku siapin bab selanjutnya yah.
__ADS_1