
Berada di situasi sulit seperti ini sungguh membuatku bingung. Dimana aku harus menjaga kebaikan hubunganku dengan sang istri dari wanita ular itu atau menuruti permintaan wanita yang sudah melahirkanku. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Suasana kantor terlihat tenang. Hanya ada bunyi ketikan keyboard serta gesekan sepatu karyawan dengan lantai ketika berjalan. Tak ada yang bersuara memang jika waktu bekerja dimulai, karena peraturan perusahaan begitu ketat dan semakin diperbaiki oleh Rey serta Bima.
Tak lama, sebuah mobil hitam berhenti di depan pintu perusahaan. Kemudian sepasang kaki mulai turun dan membuat satpam yang berjaga mendekat ketika begitu mengenali wajah seorang wanita yang baru saja keluar.
"Selamat datang, Nyonya besar."
Melepas kacamatanya. Mama Ria tersenyum ke arah satpam yang membungkukkan tubuhnya itu.
"Terima kasih." Setelah mengatakan itu, segera wanita yang masih terlihat cantik meski umurnya semakin berlanjut memasuki perusahaan dengan tenang.
Kehadirannya disini memang tanpa sepengetahuan putra dan menantunya. Dia mendadak kesini karena ada sesuatu yang membuat ingin bertanya langsung pada anaknya itu.
Bima yang saat itu tengah mengerjakan berkas di depan ruangan Rey. Seketika berdiri ketika melihat kehadiran wanita yang sudah dianggap seperti ibunya ini.
"Selamat datang, Nyonya."
"Rey ada dimana, Bim?" tanya Mama Ria tak banyak protes. Dirinya sudah tahu jika Bima akan bersikap formal ketika berada di perusahaan. Karena memang dia adalah seorang pria yang begitu bertanggung jawab dan berdedikasi.
Diputarnya gagang pintu itu hingga terbuka. Lalu ia dorong sehingga bisa melihat sang putra yang sedang duduk di kursi yang dulu suaminya duduki itu. Senyumnya makin mengembang setiap kali memasuki ruangan ini.
Kenangan bersama suaminya dulu selalu melekat dalam hati dan jiwanya. Hingga membuatnya ingin sekali menangis jika sudah berada di sini.
"Mama," panggil Rey dengan beranjak berdiri. "Ada apa?" tanya Rey setelah menghadiahi sebuah kecupan di dahi sang Mama dan menggiringnya untuk duduk di sofa.
"Mama ingin berbicara denganmu, Nak," ucapnya sambil meletakkan tas yang dia bawa ke atas meja.
Rey hanya mengangguk. Dia duduk disamping sang Mama dan menunggu apa yang akan dibicarakan oleh wanita paruh baya yang begitu dia sayangi itu.
"Kenapa kau belum bekerja sama dengan Perusahaan Tuan Sanoci, Rey?" tanya Mama Ria dengan menatap mata sang putra yang sama menatapnya. "Mama tau kemarin ketika beliau menemui Mama."
Hah ketakutan yang disimpan akhirnya terungkap. Menghembuskan nafas berat, Rey memilih menyandarkan punggungnya dan menutup mata. Bayangan gadis gila itu terbayang dan membuat kedua tangannya spontan mengepal.
Sungguh Rey tak tahu harus mengatakan apa. Tapi, dia yakin Mamanya tak akan pergi sebelum dirinya menjawab pertanyaannya ini.
"Ya, Rey? Kenapa?" tuntut Mama Ria sambil memegang kedua tangannya.
__ADS_1
Rey menoleh. Dia sungguh ragu harus mengatakan apa. Tapi menahannya pun itu tak baik. Dia takut jika Mamanya lah yang akan salah paham kepadanya dan membuat semuanya kacau berantakan.
"Sebenarnya anak dari Tuan Sanoci yang menemuiku kemarin adalah sahabatnya Jessica, Ma," ujar Rey membuat Mama Ria masih diam menyimak.
"Sahabatnya Jessica? Ya enak dong kalian bisa klop gitu," ucapnya dengan enteng.
Rey menggeleng, lalu dia meriah tangan orang yang melahirkannya itu. "Sayangnya wanita itu tak sebaik covernya, Ma. Dia beberapa kali menggodaku hingga membuatku marah."
"Hah!" Mama Ria tersentak. Dia melihat kedua mata sang putra dan mencari-cari kebohongan. Tapi memang keyakinan dan kejujuran yang dikatakan oleh sang putra. Hingga membuat dirinya bingung.
"Dia memegang tanganku, Ma. Menggesek kakiku secara sembunyi-sembunyi. Meski ada Jessica dia gak takut dan nekad, Ma."
Mendengar penjelasan sang putera membuat kepalanya berdenyut sakit. Jika seperti ini apa yang harus dia lakukan. Tapi mengingat pertemuannya dengan temannya itu dia merasakan sebuah harapan dalam perkataan kawan lamanya itu.
Terbayang di pikiran Mama Ria saat pertemuannya dengan Sanoci di sebuah Restaurant yang tak jauh dari rumahnya. Beberapa menit yang lalu Mama Ria memang mendapatkan panggilan untuk bertemu dan dirinya langsung menyanggupi.
"Hay. Sudah lama menunggu?" sapa Mama Ria dengan tawa kecil.
Keduanya duduk berhadapan dengan nyaman. Mama Ria bisa melihat wajah pria bule didepannya ini masih terlihat begitu cerah, awet muda dan tampan seperti dulu.
Tapi sayang. Tak ada rasa kagum sama sekali. Dia hanya menganggap Sanoci adalah temannya sejak dulu. Karena memang perkenalan mereka begitu jelas ketika Mama Ria membutuhkan tumpangan dulu.
"Tidak, Ri. Aku aja baru datang," ujar Sanoci dengan Bahasa Indoneaia yang kaku. "Pesanlah sesuatu!"
Perlahan keduanya saling bertukar kabar dan bercerita kehidupan masing-masing. Sanoci memang masih menunggu sampai pelayan mengantarkan minumannya.
Terlihat sekali raut wajah bahagia dan diselingi canda tawa di meja keduanya. Mereka sedang mengingat kenangan lucu di masa lalu hingga membuat keduanya tak henti-hentinya tertawa.
Tak lama pelayan mulai datang dan memberikan gelas berisi jus itu. Sepeninggal pelayan, Mama Ria mulai menyedot minumannya sedikit dan kembali menatap kawannya ini.
"Oh iya. Apa yang ingin kau katakan padaku, San? Aku begitu penasaran sekali," ucap Mama Ria dengan membenarkan duduknya.
"Sebenarnya aku hanya ingin bertanya. Kenapa anakmu tak mau bekerja sama dengan Perusahaanku?" tanya Sanoci dengan wajah serius.
"Bukannya putraku sudah menemui kalian?"
"Entahlah. Tapi putriku bilang putramu rey menolaknya."
"Astaga."
"Maka dari itu aku bingung, Ri. Aku berharap semoga perusahaan kita bisa bekerja sama dan aku bisa menetap disini untuk beberapa waktu."
__ADS_1
Mama Ria meringis tak enak hati. Dia tak tahu harus mengatakan apa karena tak mengerti alasan apa yang membuat putranya bisa menolak tentang kerja sama itu.
"Aku mewakili putraku ingin meminta maaf, San. Biarkan aku berbicara dengannya agar semua ini menjadi jelas."
Sanoci mengangguk, "semoga kau memberikan kabar baik yah. Aku berharap kerjasama ini bisa membuat pertemanan kita semakin kuat dan sering bertemu."
Lamunanya seketika buyar saat Rey mengecek suhu tubuh Mamanya itu.
"Mama kenapa diam? Apa ada yang sakit?" tanya Rey khawatir.
Mama Ria menggeleng. Dia menghirup udara agar sesak di dadanya menghilang. Dia berada di posisi bingung. Tapi bagaimanapun bukankah profesional selalu berada diatas segalanya.
"Mama berharap kamu masih bisa profesional, Sayang. Tuan Sanoci begitu berharap dengan kerjasama ini," tuturnya pelan dengan mengelus wajah sang putra.
Wajah sang anak yang dulu dilahirkannya semakin mirip dengan sang suami. Melihat Rey sama saja mengobati rindunya dengan almarhum sang suami. Dia hanya ingin putranya berpikir baik dan profesional dan banyak hal.
"Tapi, Ma. Aku tak mau hubungan aku dan Jessi rusak hanya karena dia."
"Mama yakin ia hanya kagum padamu, Rey. Dirinya tak akan bisa merusak kalian karena mama tahu antara kau dan Jessica sudah terikat kuat," ucap Mama Ria menatap mata sang putra.
"Lakukan semuanya dengan profesional, Nak. Ajak Bima setiap kali kalian bertemu dan terbukalah pada istrimu agar tak ada kejadian di masa depan yang tak mengenakkan."
~Bersambung~
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1