Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Kau Harus Mati!


__ADS_3


Aku sudah berjanji untuk membawamu pulang. Maka dari itu meski nyawa sekalipun aku akan pertaruhkan agar menantuku bisa berkumpul dengan putriku kembali. ~Stevent Alexzandra~


****


Dengan gerakan cepat dia melangkahkan kakinya namun naas. Marlena yang mengetahui hal itu langsung melesatkan pistolnya dan,


Dor!


Aghhhh!


"Daddy!"


"Tuan!"


Teriak Rey dan Jack bersamaan. Stevent mengerang hingga dirinya terduduk di lantai. Ternyata Marlena menembak bagian pahanya hingga membuatnya tak mampu berdiri.


"Aku bilang diam kenapa bergerak!" serunya menatap marah ke arah ayah dari sahabatnya itu. "Ingat! Aku tak akan main-main sekarang."


Sungguh kejadian yang baru saja terjadi membuat Mario shock bukan main. Dia tak menyangka obsesi seseorang mampu membutakan mata hati setiap manusia. Pria itu begitu tahu bagaimana sikap Stevent pada adiknya. 


Setiap kali Marlena bermain ke rumah Stevent dan Jessica. Pria paruh baya itu menyambutnya dengan suka cita. Bahkan dirinya sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri. Namun Mario tak mampu mengatakan apa-apa.


Dia sudah yakin untuk menyelamatkan semuanya dan membawa sang adik yang sepertinya memang sudah gila. Obsesi berlebihan itu tak baik, apalagi sampai membuat semua orang berada dalam keadaan bahaya.


"Diam!" seru Marlena menatap Jack yang ingin menghampiri Daddy Stevent.


Jack menggeram marah. Matanya memerah menahan emosi yang ingin membeludak. Tangannya mencengkeram pistol itu untuk menembak gadis yang menurutnya begitu tidak waras. Tapi saat Jack hendak melayangkan tembakan, Marlena sudah melesatkan pelurunya hingga pistol itu terjatuh beberapa langkah darinya.


"Aghh," erang Jack memegangi tangan kanannya. 


"Aku sudah menyuruhmu diam, 'kan? Tapi kau tak mau diam," ujarnya sambil meniup moncong pistol yang ia pegang. 

__ADS_1


Dia segera berjalan menuju Stevent yang sedang memegangi pahanya. Darah segar terus keluar dari sana karena tak ada sesuatu untuk menyumbat agar cairan merah itu berhenti mengalir.


Marlena berjongkok. Dia menatap wajah pria paruh baya di depannya ini dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Karena putrimu aku harus menembakmu, Daddy," ujarnya menatap Stevent tajam. 


Stevent mendongak. Dia tersenyum lembut ke arah gadis itu. Memang ada sedikit benci dan marah padanya tapi mengingat siapapun tak dapat mengendalikan perasaannya pada orang lain membuat Stevent paham akan situasi ini.


"Ini hanya masalah keadaan saja, Nak," ucapnya begitu lembut. "Hanya masalah waktu saja semua masalah yang kau hadapi."


"Apa maksudmu, Dad?" seru Marlena dengan nada suara yang dinaikkan.


"Kau menyukai Rey tak ada yang salah, Nak. Semua orang berhak saling mencintai tetapi perlu kau ingat satu hal. Tak selamanya cinta itu bisa kita miliki," ucap Stevent sambil memaksakan senyumnya. 


Sungguh sakit di pahanya semakin menjadi. Bahkan darah yang keluar semakin banyak. Tubuhnya juga sudah mulai merasa lemas namun ia tahan. Dirinya ingin berbicara empat mata dengan Marlena untuk menyadarkan gadis itu.


"Tapi aku sangat ingin memiliki Rey, Daddy. Dia harus menjadi milikku," seru Marlena yang mulai gelap mata.


Tak ada lagi yang dia inginkan sekarang. Maka Marlena sudah bertekad siapapun yang menghalanginya itu tandanya dia berhak mati. 


"Cinta yang sesungguhnya ketika kamu merelakan cintamu bahagia meski dia tak bahagia bersamamu, Nak. Di luar sana masih banyak pria lain yang mau membahagiakan kamu."


Marlena berdiri. Dia menggeleng kuat dengan nafas menderu. 


"Aku tak peduli apa yang kau katakan. Aku hanya ingin cintaku. Aku hanya ingin Rey dan siapapun yang menghalangi maka dia berhak mati." 


Deg.


Jantung semua orang berdetak kencang bahkan mata Jack, Bima, Mario mulai melotot tak percaya ketika melihat Marlena menodongkan senjatanya pada Stevent yang saat ini sudah tak berdaya di lantai.


Terlihat sekali wajah ayah dari Jessica itu mulai pucat pasi. Bahkan dia hanya menatap pasrah ke arah Marlena untuk takdir yang akan terjadi berikutnya. Dalam hati, Stevent menguntai banyak doa dan maaf untuk putrinya. 


Karena apa?

__ADS_1


Jika memang ini adalah takdirnya maka dia tak bisa pulang dengan selamat. 


"Kau pantas mati, Stevent Alexzandra!"


Dor!


~Bersambung~


Ampunnn kaborrr.


Mau lagi gak up?


Ayo like dulu.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)


__ADS_1


__ADS_2