Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Mulai Membaik


__ADS_3


Tugas manusia di bumi ini banyak. Salah satunya saling membantu sesama. Ingatlah, manusia hidup sebagai makhluk sosial. Mereka tak bisa berdiri sendiri dan menyelesaikan semuanya sendiri. ~Khadijah Haura~


****


Haura benar-benar membuktikan ucapannya. Tanpa Lelah, gadis itu mendatangi satu persatu orang yang sudah ia catat sejak awal. Pertemuan dengan kesan mendalam, mampu menggores dan menusuk hati lawannya. Haura kejam? Tentu saja tidak.


Dia hanya sedang mengetuk hati seorang pemimpin yang tertutup mata oleh limpahan uang haram. Apa yang akan dibanggakan dari selembar uang haram? Tak ada. Melainkan, dari selembar itu akan menjadi penyakit di tubuhnya dan menggerogoti hingga akhirat.


Haura hanya berdoa. Mungkin saja, lewat dirinya, mereka bisa sadar dan kembali seperti semula. Ia tak ingin bermimpi muluk-muluk, menyampaikan kebenaran dan mengubah persepsi mereka saja sudah cukup. Tak ada yang ingin ia andalkan dari mereka, untuk apa juga?


Haura sudah mengambil keputusan. Dia akan menanamkan investasi, bekerja sama dengan Perusahaan Pratama dan mulai membangun kembali dengan menutupi kerugian perusahaan ini.


"Semoga apa yang kulakukan menjadi berkah bagi semua orang," ucap Haura dengan tersenyum.


Segera gadis itu meraih ponselnya dan mendekatkan benda pipih itu di telinganya.


"Assalamualaikum." 


"Waalaikumsalam. Ya, Haura?" suara bariton dan tegas dari seberang telepon membuat senyum terbit di wajah cantiknya.


"Apa boleh, Kak?" hanya tiga kata saja, sudah bisa mewakili apa yang akan ia maksud. 


Di seberang sana, tak ada suara apapun. Hanya helaan nafas sang Kakak yang tidak bisa ditebak oleh dirinya. Mengepalkan telapak tangannya yang lain. Haura hanya bisa memejamkan mata dan berdoa.


Mungkin, dia harus mengeluarkan banyak uang untuk ini. Namun, Haura hanya memahami satu. Jika dia menolong sesama, maka suatu hari nanti pasti akan ada orang yang akan berbaik hari membantu tangannya ketika dia terjatuh.


"Kau sudah yakin?" tanya Khali dengan nada suara serius.


"Yakin, Kak. Aku sedang tidak bercanda." 


"Baiklah. Kakak akan menyiapkan semuanya. Tapi, kau hanya perlu melanjutkan kerjasama kalian, biarkan Kakak yang berinvestasi di sana." 


"Kakak serius?" tanya Haura dengan mata berbinar. 


"Ya." 


"Baiklah. Terima kasih banyak, Kak. Allah menyertaimu."


Setelah panggilan terputus. Haura segera menatap berkas yang terbuka di depannya ini.


"Mari berjuang dan bekerja!" Semangatnya untuk dirinya sendiri. 


Saat hendak meletakkan ponsel miliknya ke atas meja. Gadis itu menepuk kening saat melupakan sesuatu hal penting untuk dibicarakan dengan kakaknya. Akhirnya, gadis itu lebih memilih mengirimkan pesan singkat dan langsung dikirimkan pada sang kakak di Brunei. 

__ADS_1


****


Ternyata benar pepatah mengatakan 'usaha tidak akan menghianati hasil.' Keesokan harinya, 10 orang yang baru saja kemarin ditemui oleh Haura, langsung datang ke Perusahaan Pratama dengan membawa berkas dan tujuannya benarnya.


Haura bahagia? Tentu saja. Menurutnya ini adalah nikmat yang patut disyukuri. Jika begini, maka keadaan Perusahaan akan kembali seperti semula. Tanpa bantuan sang Kakak pun, perusahaan ini mampu berdiri kembali seperti sedia kala.


"Terima kasih, Tuan Wijaya. Keputusan anda ternyata sangat tepat," ucap Haura saat Wijaya selesai menandatangani lembar putih kerja sama keduanya. 


"Saya yang harusnya berterima kasih. Karena anda saya menjadi sadar sebelum dosa itu menggerogoti saya." 


Haura tersenyum. "Itu sudah menjadi kewajiban kita untuk menasehati orang yang salah jalan.


"Sekali lagi, terima kasih. Semoga kerjasama kita berjalan lancar."


"Aamiin." 


Haura, Bima dan Haki kembali ke ruangan Rey. Wajah lelah mereka tertutupi dengan rasa bahagia. Tak ada yang mampu menggambarkan bagaimana perasaan mereka bertiga saat ini. Yang pasti, salah satunya adalah lega. Mampu menyelamatkan aset penting milik orang yang sangat mereka sayangi. Hingga menjaganya dari tangan orang jahat yang ingin meruntuhkan.


"Haki!" panggilnya pada Asisten yang sedang duduk disamping Bima.


"Ya, Putri?" 


"Atur jadwal temuku dengan dia. Aku ingin sekali menyapanya untuk pertama kali." 


"Anda yakin, Putri?" 


"Memang siapa yang ingin Nona Haura temui?" tanya Bima penasaran.


Lelaki itu menjadi bingung. Pasalnya siapa yang sedang dibahas oleh partner kerjanya ini. Namun, melihat senyuman Haura yang tak seperti biasanya. Membuat Bima akhirnya memilih diam dan hanya terjebak dengan pikiran keponya.


"Jangan lupa, sebarkan ke media tentang kerjasama kita dengan Perusahaan Pratama. Dunia perlu tahu, agar si perusuh menjadi lebih geram."


Seperti kemauan Haura. Dalam sekejap, berita Perusahaan Pratama yang kembali normal bahkan melebihi sedia kala menjadi trending topik kembali. 


Banyak wartawan yang datang untuk mencari tahu, apa yang tengah terjadi di Perusahaan besar ini? Namun seperti sudah direncanakan, tak ada karyawan yang berani membuka suara. Karena apa? ketiga orang itu sendiri yang akan menjawab pertanyaan dari para wartawan yang sudah disiapkan. 


Haura sudah menyiapkan semuanya. Bahkan jauh sebelum Rey yang meminta. Dirinya hanya ingin bermain-main kecil dengan perusuh kecil itu sebelum mereka akan bertemu.


Pertama kali kakinya menginjak memasuki aula Perusahaan. Cahaya blitz sudah mulai menerpa dirinya sepanjang jalan menuju mimbar. Haura hanya bisa menunduk dengan wajah yang sudah dilapisi dengan cadar.


Tentu saja tak segampang itu, wajah cantik parasnya terpampang di majalah atau koran. Biarkan dia menggunakan cadar untuk proses hijrahnya yang sedang belajar meski masih buka tutup cadar. 


Berdiri di depan orang banyak adalah kekuasaan mental yang utama. Haura dan Khali sudah diajarkan untuk memiliki tingkat percaya diri berbicara di depan semua orang. Hingga ya seperti sekarang, tak ada kata malu atau deg degan di atas sini. Bahkan Haura hanya mengangguk untuk membalas sapaan dari banyaknya orang.


"Baiklah, sesi pertanyaan kami buka."

__ADS_1


Saat sang MC sudah mulai membuka suara. Banyak para wartawan yang mengangkat tangannya dan diterima tentu saja. 


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Perusahaan Pratama kemarin. Kenapa tiba-tiba hampir bangkrut?" 


Haura menjawabnya sambil tersenyum di balik cadarnya, "hanya ada tikus kecil yang ingin bermain-main dengan perusahaan saudara saya."


"Apakah betul, anda adalah Putri dari Kerajaan Brunei?" tanya Wartawan yang membawa kamera di tangannya.


"Betul," jawab Haura tegas.


"Apa anda ada hubungan khusus dengan CEO, Tuan Reynaldi Johan Pratama."


"Tidak ada. Saya hanya menganggapnya sebagai Kakak saya sendiri. Hubungan khusus Kakak saya Rey sudah ada dengan gadis luar.


"Jadi betul berita di luar mengatakan, Tuan Rey memiliki kekasih berwajah Bule?" 


Takut pertanyaan-pertanyaan itu kemana-mana. Akhirnya pihak Haura memutuskan menutup sesi wawancara ini dan segera keluar dari ruangan.


Ternyata saat Haura baru saja kembali ingin ke ruangan Rey. Disana, sudah ada Mama Ria yang menangis menatapnya. Wanita paruh baya itu berdiri dan berjalan menuju Haura.


Segera Mama Ria memeluk dan mencium pucuk kepala gadis muda di pelukannya ini. 


"Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak sudah membantu Rey menjaga perusahaan ini."


"Sama-sama, Tante. Ini sudah menjadi kewajiban kami untuk saling membantu."


Jelas sekali terlihat, jika Mama Ria begitu menyayangi Haura ini. Namun, perlu digaris bawahi. Wanita paruh baya itu menyayangi Haura hanya karena ia sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri. Bukan untuk menjodohkan dengan Rey atau hal buruk apapun.


~Bersambung~


Akhirnya, membaik. Tapi aku penasaran gimana pertemuan si perusuh sama Haura yah. hihihi


ada yang penasaran juga gak?


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di nome)

__ADS_1



__ADS_2