
Bagaimana aku bisa bosan? Jika pasti ada saja hal-hal yang membuatku tertawa dan bahagia ketika bersamamu. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Hari yang ditunggu-tunggu Jessi pun tiba. Hari ini juga, dirinya akan kembali bekerja di kantor. Sedari bangun tidur, tak henti-hentinya Jessica bersenandung kecil untuk melampiaskan kebahagiaan yang membuat hatinya berbunga-bunga.
Setelah mandi, Jessica segera menuju walk in closet dengan selembar handuk yang menutupi tubuhnya. Sungguh dirinya bingung harus memakai pakaian yang mana. Mengobrak abrik lemari berwarna hitam itu, Jessica mencari kemeja apa yang cocok untuknya. Karena terlalu bingung, Jessi sampai tak menyadari jika beberapa pakaian sudah jatuh di lantai di dekat kakinya.
Rey yang baru selesai mandi, ikut menyusul ke ruang ganti. Pikirnya, sang istri sudah ada di bawah menyediakan makanan. Tapi, matanya terbelalak kaget saat melihat kekacauan yang diciptakan istrinya itu.
Rey begitu tahu istrinya adalah wanita rapi. Tapi, melihatnya kalang kabut seperti ini kenapa lucu sekali. Tanpa berniat mengganggu, pria yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi kejantanannya itu lebih memilih menyandarkan tubuhnya pada dinding dekat pintu dengan tangan bersidekap dada.
"Seksi," gumam Rey melihat istrinya yang sepertinya santai-santai saja bergerak dengan bertelanjang kaki.
Jessica terus saja membuka lipatan kemeja dan menempelkan pada tubuhnya di depan cermin. Dia mencari hingga akhirnya pilihannya jatuh pada kemeja berwarna putih dan jas berwarna abu tua.
"Akhirnya selesai juga," gumamnya dengan pelan lalu berbalik dari hadapan lemari.
"Aaaaa," teriaknya saat melihat pakaian yang dia ambil berserakan di lantai.
Bibirnya meringis saat melihat bagaimana berantakannya ruangan yang selalu dia rapikan ini. Sepertinya gadis itu juga belum menyadari kehadiran sang suami yang menatapnya sedari tadi.
"Kenapa aku bisa se bar-bar ini?" lirihnya dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apakah sudah selesai, Honey?" Suara Rey membuat Jessi terlonjak kaget dan dia segera menoleh.
"Eh… Sayang," ujar Jessi dengan tergagap.
Melihat reaksi istrinya itu, sungguh Rey ingin sekali tertawa terbahak. Ia tahu jika Jessica pasti canggung dan salah tingkah. Tapi kenapa istrinya seperti itu membuatnya semakin menggemaskan.
Jika tak ingin bahwa mereka harus ke perusahaan. Sudah bisa dipastikan keduanya akan berakhir dalam jeritan kenikmatan yang tiada tara itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan, Sayang? Lihatlah! Semuanya berantakan," ujar Rey menunjuk pakaian itu hingga membuat Jessica semakin salah tingkah.
Merasa dirinya bersalah. Jessi memilih diam dan menunduk. Dirinya juga tak sadar telah membuang pakaian tiap pakaian yang tidak cocok ke belakang punggungnya hingga akhirnya seperti ini.
Rey mulai menegakkan tubuhnya. Dia berjalan menuju posisi sang istri yang hanya terdiam dengan kaki digerakkan pertanda bahwa gadis itu itu sedang gelisah.
"Hey hey, Sayang." Rey mendongakkan kepala istrinya sampai keduanya berhadapan.
"Tidak perlu khawatir. Biarkan aku menyuruh pelayan yang merapikannya," ucap Rey dengan diiringi bibir yang tersenyum.
"Aku tak mau," ujar Jessi sambil menggeleng. "Aku paling gak suka pelayan masuk ke dalam kamar aku, Sayang."
Rey menghela nafas pelan. Dia baru ingat jika istrinya itu paling tidak suka melihat orang lain di dalam kamarnya. Jika begini ya pria itu bisa menebak siapa gerangan yang akan membersihkan dan merapikan semua kekacauan ini.
__ADS_1
"Lalu ini?"
"Biarkan aku yang akan merapikannya nanti, Suamiku. Sepulang dari kantor yah."
Rey mengangguk. "Ya udah. Kalau kamu selesai cepet keluar. Lalu lihat meja makan, istriku."
"Siap, Suamiku."
Sebelum meninggalkan walk in closet, Jessi mendekat dan tiba-tiba mencium pipi Rey dengan lembut.
"I love you."
Rey terpana. Dirinya selalu dibuat speachless dengan tingkah Jessi yang tak terduga. Pipinya merona dengan tubuh yang bergerak pertanda salah tingkah.
"Love you too, Sayang."
Dia geleng-geleng kepala merasa hampir gila setiap berhadapan dengan sang istri. Setiap hari, pasti ada tingkah absurd, tingkah kejutan yang dibuat Jessi untuk membuatnya bahagia.
Pernah saat pernikahan mereka menginjak dua minggu. Jessica membahagiakannya dengan permainan ranjang yang super panas. Bahkan gadis itu berani menjadi penari di depan sang suami untuk menaikkan gairah Rey yang saat itu tak bisa disalurkan karena tangannya digerakkan.
Menurutnya, hari itu adalah awal dari semua gaya bercinta mereka yang selalu gila dan kasar. Keduanya menjadi tak pernah dipisahkan jika sudah berada di dalam kamar hingga antara satu dengan yang lain saling menjadi candu bagi pasangannya.
****
Gadis yang memakai kemeja putih dengan rok abu tua serta jas berwarna senada itu terlihat duduk dengan gelisah di kursi penumpang. Beberapa kali dirinya mencari posisi yang nyaman hingga membuat Rey yang berada di sampingnya menyadari akan tingkah sang istri.
Ditariknya tubuh Jessica dan didudukkan di atas paha hingga kedua tangan Rey melingkar di pinggangnya.
Ditambah, dalam mobil itu juga bukan hanya mereka berdua. Melainkan ada Bima serta sopir yang bertingkah laku seperti robot tak peduli akan apa yang terjadi dengan dua majikannya.
"Diam disini," titah Rey dengan menatap wajah cantik istrinya. "Kenapa kamu gelisah banget?"
"Hehehe aku takut dan gugup, Suamiku. Bukankah ini hari pertama aju kembali ke perusahaan?"
"Tapi kamu juga, 'kan? Pernah bekerja disana," ujar Rey dengan tangan yang mula merambat pada paha sang istri.
"Ini jangan nakal." Jessi memukul tangan sang suami yang sudah menjelajah ingin masuk ke dalam rok yang dia pakai.
"Hahaha baiklah." Rey menarik tangannya dan melingkarkannya lagi di pinggang ramping sang istri.
"Lalu apa yang membuatmu gelisah?"
"Aku takut semua karyawan akan berpikiran buruk padaku."
"Itu tidak akan pernah, Honey."
"Bagaimana bisa?" tanya Jessi mengusap wajah sang suami yang sangat dia cintai ini.
__ADS_1
"Karena aku akan membungkam bibir siapapun yang berani membicarakanmu."
"Jangan terlalu kejam," nasehat Jessi dengan meletakkan kepalanya di ceruk leher sang suami.
"Untukmu semua akan kulakukan, Sayang."
"Baiklah."
Jessica mengalah. Dia mengerti apa yang dilakukan sang suami hanya untuk menjaganya. Diam-diam dalam hati dirinya bersyukur. Memiliki suami yang begitu mencintainya serta menerima dia apa adanya.
Rey adalah pria yang tak pernah menuntutnya untuk melakukan segala hal. Malahan kebanyakan pria itu lebih menyuruhnya diam tak usah melakukan pekerjaan rumah. Hanya Jessica sendiri yang selalu membangkang dan memakai jurus ampuh ingin menjadi istri yang baik agar suaminya itu mengijinkannya.
Tak beberapa lama, mobil yang ditumpangi Rey dan Jessi mulai memasuki halaman perusahaan. Dari balik jendela, Jessi bisa melihat banyak karyawan yang berjajar di sana seperti menunggu seseorang.
"Kenapa ramai sekali, Sayang?" tanya Jessi saat merapikan penampilannya di dalam mobil.
"Sepertinya mereka ingin memberikanmu kejutan, Nyonya Pratama," sindir Rey yang membuat Jessi tertawa geli.
"Baiklah, Tuan Pratama. Mari kita berjalan bersama," ajak Jessica dengan senyuman menggoda membuat Rey yang gemas mencium bibirnya tanpa kata.
"Astaga, Tuan. Apa kau tidak melihatku disini yang seperti patung." Batin Bima saat dirinya tak sengaja menoleh ke belakang untuk memberikan instruksi pada bosnya itu.
"Sudah cukup, Sayang." Jessi mendorong dada sang suami dengan bibir cemberut.
"Kamu merusak riasanku, Suamiku."
"Seperti itu lebih baik. Agar tak ada yang berani melihat bibir seksi milikku ini."
~Bersambung~
Duh posesifnya abang. Kasihan Bima juga liat orang ciuman, hahaha.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di nome)