
Entah kenapa ada perasaan berbeda dalam diriku ketika melihat beberapa makan yang lewat di depan mataku. Seperti ada beberapa hal yang membuat rasa keinginanku menaik dan ingin segera mencicipi. ~Jessica Alexzandra Caroline~
****
Seperti pesan dari Nona besar. Bima benar-benar membawa pakaian ganti untuk Tuannya itu. Saat sudah sampai di dekat meja sang kekasih. Rey menoleh sejenak ke arah Amanda yang sedang fokus mengerjakan pekerjaannya.
Amanda yang sedang duduk pun menjadi mendongak. Ketika melihat atasan sekaligus pemilik hatinya itu hanya berdiri diam di tempatnya.
"Apa Tuan Rey ada di dalam?" tanya Bima mendadak bodoh di hadapan sang kekasih.
"Iya, Tuan." Amanda mengangguk.
Bagaimanapun jika masa kerja. Bima tetap bertindak formal pada sang kekasih. Jiwa profesionalnya masih melekat dalam tubuh sehingga membuatnya begitu bisa membedakan mana saat yang tepat untuk bekerja dan berpacaran.
"Kenapa Anda tidak masuk?" tanya Amanda bingung.
"Takut mengganggu." Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Apa yang dikatakannya memang benar. Dia takut kena semprot kembali disaat waktu yang tak tepat. Hingga membuatnya saat ini harus berpikiran ulang sebelum di depak oleh sahabatnya itu.
"Biar saya yang mengetuk," tawar Amanda lalu beranjak berdiri.
Tok tok tok.
"Nona," panggil Amanda sambil tangannya mengetuk pintu.
Keduanya sama-sama menunggu dengan sabar di depan pintu. Mereka saling berpandangan mengisyaratkan kenapa membuka pintu saja lama. Tapi buru-buru mereka menjaga jarak dan menunduk ketika melihat pintu itu mulai bergerak dan sedikit terbuka.
"Ada apa, Man?" tanya Jessi tanpa basa basi.
"Itu Tuan Rey membawakan pesanan Anda, Nona," ucap Amanda sambil menunduk.
Jessi mengangguk. Dia hanya mengulurkan tangannya dan segera bIma memberikan. Tak ada percakapan lagi lalu pintu itu kembali tertutup.
Banyak pertanyaan bersarang di kepala Bima dan Amanda tentang apa yang sedang terjadi. Kenapa temannya itu terlihat begitu berkeringat hingga tak mau membuka pintu. Tak ingin semakin menjurus lebih dalam, Amanda segera berpamitan pada Bima dan duduk kembali ke mejanya karena banyak pekerjaan yang menantinya.
****
Di dalam Ruangan Jessica.
"Untung saja mereka gak banyak tanya," ucap Jessi mengelus dada.
Dia segera menghampiri sang suami yang berada di kamar pribadinya. Membawa tentengan paper bag, dia segera masuk dan duduk di samping Rey yang masih bergelung di atas ranjang kenikmatan mereka.
"Sudah dapat?" tanya Rey dengan memindahkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Sudah, Sayang. Tuh!" tunjuknya ke arah paper bag warna coklat.
Rey hanya mengangguk. Dia lebih suka membenamkan wajahnya di perut sang istri hingga membuat gadis itu begitu geli.
Bagaimana tak merasa geli. Kemeja yang dia pakai diangkat oleh Rey dan dia langsung menempelkan wajahnya pada kulit perut. Hal itu tentu saja membuat perutnya sedikit merasa geli. Tapi, dari semua itu dia merasa nyaman dan ada perasaan yang tak bisa digambarkan.
Entah kenapa Rey seperti merasakan perasaan hangat saat seperti ini. Dia juga memiliki kebiasaan baru yaitu menciumi perut istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Sayang sebentar. Aku ingin ke kamar mandi dulu," pamit Jessi memindahkan kepala sang suami.
"Ke kamar mandi lagi?" tanya Rey saat kepalanya sudah ada di atas bantal.
"Iya, Sayang. Bentar." Jessica segera menuju kamar mandi. Hingga membuat Rey menatap kepergiannya dengan kening berkerut.
Sungguh jika dihitung selama mereka berhubungan intim tadi. Istrinya selalu pamit ke kamar mandi. Sudah tak terhitung berapa kali Jessica buang air kecil tapi membuat hal mengganjal dalam diri Rey menyeruak.
Tak lama, istrinya sudah kembali dengan bibir mengerucut hingga membuat Rey menarik tangannya dan mendudukkan di atas pangkuannya.
"Kenapa cemberut?" tanya Rey pelan sambil mengecup pipi sang istri.
"Celana dalamku basah, Sayang," adu Jessi dengan mata berkaca-kaca. "Terus gimana dong?"
"Aku lihat-lihat kamu sering buang air kecil ya, Sayang?"
Jessica mengangguk cepat. "Aku juga merasakan hal itu. Aneh kali padahal aku minum seperti biasanya tapi gak tau kenapa rasanya aku gak mau jauh dari kamar mandi."
"Apa kamu periksa saja?" tawar Rey dengan menatap mata sang istri penuh cinta.
"Tidak perlu, Suamiku. Bukankah ini hal bagus jika aku buang air kecil dengan lancar?"
"Iya juga sih." Rey mengangguk membenarkan, "tapi jika ada yang sakit tolong bilang sama aku yah!"
"Iya, Suamiku tersayang."
****
Perlahan langit yang terang mulai berganti dengan datangnya sinar senja. Para karyawan mulai keluar dari perusahaan untuk pulang ke rumahnya. Begitu pula dengan Jessica dan Amanda.
Dua gadis itu saling berjalan bersama menuju lift dan menunggu pintu besi itu terbuka.
"Iya dong, Bu Boss. Saya kan karyawan baik," ucap Amanda sambil mencolek dagu sahabatnya itu dengan centil.
"Ishhh." Jessi menepis tangan sang sahabat lalu gelak tawa pun mulai terdengar. "Kamu pulang sama si, Kulkas?"
Amanda spontan menggeleng, "dia sama Pak Bos, 'kan?"
Menepuk kening. Jessica hampir saja melupakan itu. Bagaimana dirinya bisa lupa jika kekasih dari sahabatnya ini selalu menempel pada suaminya.
Bima sudah seperti pilar penjaga untuk Rey. Keduanya selalu keluar bersama sampai tak mencari seorang asisten hanya untuk bekerja berdua saja. Tapi tak diragukan lagi jika kerja sama antara Bima dan Rey begitu menghasilkan dan memuaskan.
"Hampir lupa. Ya sudah entar lagi aku usahain kamu bakal pulang sama dia," goda Jessica dengan senyum mengembang.
Tak lama, lift mulai terbuka dan mata kedua gadis itu membulat. Bagaimana bisa pria yang mereka tunggu sudah ada di depannya. Apalagi dengan senyuman menawan sang suami membuat Jessi lupa akan keadaan dan segera menghambur ke pelukan suaminya itu.
"Kenapa gak bilang kalau mau jemput?" tanya Jessi tanpa melepas pelukannya.
Hal itu tentu saja menjadi hati sepasang kekasih itu iri. Segera Bima menekan tombol lift dan perlahan besi itu bergerak.
"Karena aku ingat kalau kamu gak pakai…." jeda Rey lalu mendekatkan bibirnya pada telinga kiri sang istri. "Daleman."
Jessica meringis malu. Memang jika boleh jujur dia tak memakai ****** ***** karena efek dirinya selalu ke kamar mandi. Tapi entah kenapa dia merasa sedikit senang karena tak perlu buka lepas lagi ketika ke kamar mandi.
Setelah menunggu akhirnya pintu lift terbuka dan keempatnya segera keluar dari ruangan besi itu.
__ADS_1
"Kamu langsung antar sahabatku saja, Asisten Bima."
"Tapi, Nona…"
"Sayang," rayu Jessi dengan merajuk.
"Jangan khawatirkan aku, Bim. Aku akan mengendarai mobilku sendiri dan kamu pakai saja mobilku yang berada di kantor."
"Baiklah, Tuan. Terima kasih."
Jessica segera melambaikan tangannya setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Perlahan, Rey melajukan kendaraan itu dan meninggalkan sepasang kekasih yang saling canggung itu di depan kantor.
"Kamu sengaja ya, Sayang?"
"Hehehe biar mereka lebih dekat, Sayang. Lalu Asistenmu itu segera menikahi temanku," ucap Jessi dengan lembut.
Tak ada pembicaraan lagi di dalam mobil. Jessica menikmati jalanan di sore hari dengan mata tak berhenti menatap penjual kaki lima yang berada di pinggir jalan.
Entah kenapa ada perasaan berbeda dalam dirinya yang merasa seperti menginginkan sesuatu. Hingga tak sengaja matanya menatap banner sebuah Warung Bubur dengan mata berbinar.
"Sayang berhenti!"
"Hah!" kaget Rey yang langsung menoleh.
"Menepi, Honey!"
Tak ada penolakan. Segera pria itu menepikan mobilnya di pinggir jalan dan masih menatap penuh tanya pada istrinya itu.
"Kenapa kamu minta berhenti disini?" tanya Rey yang menatap pada sang istri.
"Aku...aku…" jeda Jessi yang menunduk seperti ragu akan mengatakan keinginannya itu.
"Ada apa, Sayang? Katakan saja!" suara Rey melembut. Dia begitu tahu jika sang istri takut jika dirinya marah karena meminta berhenti mendadak seperti tadi.
"Aku pengen makan bubur itu, Sayang."
~Bersambung~
Emang Buk Bos ini mulai aneh-aneh bae.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️ Vote seikhlasnya yah
▶️ Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di ****)