Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Welcome Zigot JesRey


__ADS_3


Kehadiran seorang anak tentu saja menjadi hal terindah untuk sepasang pengantin suami istri. Sebuah bonus terindah dari tuhan yang harus mereka jaga hingga nanti lahir di dunia. ~JBlack~


****


Kedatangan orang berpengaruh di rumah sakit tentu saja menjadi sorotan bagi khalayak ramai. Namun itu semua tak membuat mereka terusik dan terganggu. Segera sepasang pengantin itu berjalan bergandengan tangan dengan senyum tercetak jelas di kedua sudut bibirnya. 


Keduanya menaruh harapan dan banyak doa atas ucapan sang Mama kemarin malam. Semoga apa yang dikatakan mertua dan ibu kandungnya adalah kebenaran. Mungkin ini masih bisa dikatakan perkiraan, tapi melihat perubahan dari sang istri yang sering buang air kecil. Membuat sedikit menaruh harapan di sudut hati Rey.


Pria itu memang tak pernah membayangkan memiliki anak saat usia pernikahan mereka masih dini. Tapi bukankah seorang anak adalah bonus dari Tuhan. Yang menjadi pertanda bahwa Allah mempercayakan mereka berdua untuk mengurusnya. Maka dari itu dengan semangat, Rey membawa istrinya sepagi ini untuk periksa. 


Kehadiran mereka yang sudah terjadwal sejak semalam membuat Rey dan Jessica tak perlu menunggu lama. Semua hanya dengan jentikan jari maka bisa dilakukan dengan cepat. Saling berdoa dan memanjatkan segala hal yang ada dipikiran. Mereka saling mengeratkan pegangan tangannya.


"Semoga memang benar jika sudah ada Rey junior disini, Sayang," ucap Jessica sambil mengelus perutnya yang berada dibalik dress yang dipakai.


"Aamiin." 


Beberapa menit akhirnya mereka segera masuk ke dalam setelah dipanggil oleh suster yang berjaga di depan.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya Pratama," sambut Dokter wanita yang terlihat sudah berusia lebih tua dari mereka.


Rey maupun Jessica membalas jabat tangan Dokter tersebut dan segera duduk di depan wanita berjas putih itu. 


"Ada keluhan apa, Nyonya?" tanya Dokter itu ramah. 


Jessica menoleh. Dia menatap mata sang suami dan Rey membalasnya dengan mengangguk. Tangan mereka masih bergandengan dan saling menguatkan untuk menerima hasil apapun yang keluar beberapa menit kemudian.


"Beberapa hari ini saya sering buang air kecil, Dokter. Lalu saya juga sudah lama tak halangan." 


"Terakhir kapan, Nyonya?" 


"Seingat saya sebelum saya menikah." 


Dokter itu mengangguk. Dia menyiapkan buku bersampul pink dan diletakkan di depannya. Lalu segera meminta Nyonya dari Pebisnis kaya ini untuk berbaring.


Jessica menatap beberapa alat yang berada didepan dan di sampingnya. Sebuah layar serta ada benda berbentuk seperti laptop yang sedang diutak atik oleh Dokter tersebut. Lalu tak lama datanglah seorang perawat yang membantunya untuk menaikkan sedikit dress yang ia pakai ke atas.

__ADS_1


"Baiklah rileks saja, Nyonya," ucap Dokter itu saat melihat wajah Jessi yang tegang.


Gadis itu memaksakan senyumannya dan segera melihat apa yang sedang dilakukan oleh Dokter tersebut. Jessica merasakan sebuah cairan gel sudah menempel di kulit perutnya dan kemudian tak lama ada sebuah alat yang bergerak diatasnya.


Mata Jessica beralih ke arah sebuah alat persegi panjang. Dia melihat pergerakan disana dengan kening berkerut. Wajar saja jika sepasang pengantin itu saling bingung. Karena memang ini adalah pertama kalinya mereka berdua datang kesini.


Senyum Dokter bername tag Amanah itu mengembang saat melihat sebuah kantong kecil yang terlihat begitu jelas disana.


"Itu apa, Dokter?" tanya Rey yang ternyata ikut jeli menatap layar yang bergerak. 


"Selamat Tuan Pratama. Anda akan menjadi ayah dalam 9 bulan lagi. Titik itu adalah calon bayi anda." 


Terharu? Tentu saja. Bahkan air mata Jessica sudah mengalir deras. Dia tak menyangka Tuhan begitu berbaik hati padanya dengan memberikan anak dalam pernikahan mereka yang seumur jagung.


Begitu pula dengan Rey. Mata pria itu sudah berkaca-kaca. Dia menatap penuh sayang ke arah layar itu lalu beralih ke wajah sang istri.


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak sudah mau mengandung anakku, anak kita," ucap Rey sambil menghadiahi banyak kecupan di seluruh wajah sang istri.


Jessica hanya mampu mengangguk. Dirinya masih terharu dan hanya bisa memeluk leher sang suami ketika Rey memeluknya dengan posisi masih berbaring. Dokter Amanah dan suster yang melihat pun ikut bahagia. 


Pemandangan ini selalu menjadi hal terindah untuk mereka. Merasakan kebahagiaan sepasang suami istri yang mendapatkan hadiah terindah dari Allah merupakan sebuah keajaiban. Tak ada yang mampu mengira, mengatur ataupun menolak ketika Allah sudah memilih dan mempercayakan sebuah janin pada hubungan setiap suami istri.


"Berarti masih kecil ya, Dok?" 


"Iya, Tuan. Dalam trimester ini adalah trimester awal yang rawan akan keguguran. Saya minta tolong jaga pikiran istri Anda dan bahagiakan dia." 


"Tentu saja, Dokter."


"Saya sudah mencatat vitamin dan asam folat untuk Nyonya. Diminum sampai habis yah." 


Setelah mengatakan terima kasih segera keduanya keluar dari ruangan itu dengan senyum yang tercetak jelas di bibir keduanya. Tak ada hal yang membahagiakan lagi untuk mereka selain titipin Tuhan yang begitu indah ini.


Tak henti-hentinya Rey mengelus perut sang istri yang masih rata sambil membisikkan kata-kata cinta di telinga sang istri dengan mesra. Harapan keduanya hanya satu saat ini. Bisa bersama merawat dan menjaga antara satu dengan yang lain. Keduanya berharap semoga adanya anak semakin memperkuat hubungan mereka berdua. 


Rey tanpa bantuan asistennya lebih memilih mengantri sendiri obat untuk sang istri. Dia rela menunggu berdiri seperti calon ayah pada umumnya. Bahkan senyumnya tak lepas di bibirnya sampai dia kembali ke posisi sang istri.


Mereka segera masuk ke dalam mobil dan ingin menyampaikan kabar bahagia ini. Dengan penuh kehati-hatian Rey melajukan mobilnya dengan pelan-pelan. Jessica yang melihatnya pun menjadi gemas sendiri.

__ADS_1


Dia mencubit pipi sang suami hingga membuat Rey mengaduh. 


"Kenapa dicubit?" 


"Kamu jalannya pelan banget. Kapan kita sampainya?" ucap Jessi dengan cemberut.


"Jangan cemberut, Sayang. Aku kan hati-hati karena ada Rey junior disini," sahut Rey berkilah.


Tentu saja jiwa ayah-ayah muda ini masih terlalu labil dan takut. Mereka pasti menjadi calon suami siaga dan takut jika sudah ditingkat ini. Karena apa? Perhatian mereka sekarang sudah terbagi. Bukan hanya untuk istri melainkan untuk calon anak mereka.


Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang lumayan memakan waktu. Mobil yang dikendarai Rey sudah terparkir rapi di halaman rumah mereka. Segera kedua calon orang tua muda itu turun dan saling bergandengan tangan untuk masuk ke dalam rumah. 


Saat pintu terbuka, mata mereka pertama kali melihat Mama Ria, Daddy Stevent sedang duduk menunggu kedatangan mereka. Segera kedua paruh baya tersebut menghampiri anak dan menantunya dengan pikiran dan doa yang sama dengan mereka saat ingin memasuki ruang kandungan.


"Bagaimana, Nak?" tanya Mama Ria dan Daddy Stevent bersamaan.


Jessica menatap mertua dan ayahnya ini dengan mata berkaca-kaca. Dia begitu tak menyangka jika kehamilannya begitu ditunggu oleh orang yang mereka sayangi. Dengan menahan isak tangisnya Jessica mengangguk sambil berkata dengan pelan. 


"Berkat doa Mama sama Daddy. Sebentar lagi kita akan kedatangan anggota baru diantara kita."


~Bersambung~


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di ****)



__ADS_2