
Karena aku sudah bilang, 'kan. Jika kamu sudah menjadi milikku, maka dimanapun kamu. Aku pasti akan menemukannya. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Perjalanan menuju Las Vegas ternyata membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam. Lebih tepatnya 5 jam 50 menit untuk sampai ke Bandar Udara Internasional McCarran. Setelah sampai di rumah sang nenek, segera Jessica berjalan menuju kamar yang selalu ditempati sejak kecil.
Tanpa melepaskan jaket berbulu serta topi rajutnya. Jessica segera beranjak ke ranjang setelah melepaskan sepatu boot miliknya. Menarik selimut tebal untuk membalut tubuh yang mulai merasakan hawa dingin. Tak butuh waktu lama, mata lentik itu mulai menutup dan terbuai alam mimpi.
Suara ramai di ruang tamu bawah, membuat tidur Jessica terusik. Gadis itu paling kesal jika tidurnya terganggu. Hingga akhirnya, dia menyibak selimut dan mulai berjalan tanpa melihat bagaimana penampilannya saat ini.
Tak henti-hentinya mulut menggerutu dengan tangan menggosok matanya karena merasa dirinya belum sadar betul. Dengan hati-hati tangan kirinya memegang pinggiran tangga. Lalu segera berjalan dengan langkah cepat saat pandangannya mulai jelas.
"Rame banget, sih. Bikin pusing aja," serunya kesal.
Setelah sampai di lantai bawah, segera gadis itu berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya dan tak segan mulutnya berkomat-kamit entah apa yang dibicarakan.
Hampir saja mulutnya mengeluarkan semburan sumpah serapah. Ternyata seketika dirinya mematung. Matanya terbelalak lebar tak percaya menatap sosok orang yang dia rindukan sedang berdiri di depannya.
Wajah yang selalu muncul di pikirannya. Aroma maskulin yang selalu menjadi candu untuknya, serta sikap menyebalkan yang selalu ingin dilihat kembali, saat ini berdiri kokoh di depannya.
"Sayang," lirihnya tak kuasa menahan air mata.
Segera gadis itu berlari dan menabrak dada bidang yang selalu menjadi tempat ternyamannya. Memeluknya erat seperti enggan untuk dilepaskan. Serta air mata yang sudah mengalir terus karena merasa ini semua seperti mimpi.
Segera gadis itu menjauhkan tubuhnya dan meraba permukaan wajah sang kekasih. Ya, dia di depannya adalah Reynaldi Johan Pratama. Cintanya itu benar-benar asli berada disini, di rumahnya.
"Kamu beneran disini?" tanyanya kembali memeluk tubuh itu dengan erat. Menghirup aroma yang begitu nyaman hingga membuatnya lupa jika disana masih ada sang nenek yang senyum-senyum sendiri melihat bagaimana keduanya berpelukan.
"Ehem." Deheman Maria membuat keduanya melepas pelukan dan salah tingkah.
"Ingat, disini masih ada nenek. Masak iya langsung peluk-peluk," sahut Maria pura-pura marah.
Jessica cengengesan dan berjalan mendekat sang nenek, "hehehe, maaf ya, Nek."
"Kalau kalian begitu lagi. Nenek langsung nikahkan kalian berdua," ancam Maria dengan mata melotot ke arah Rey.
Namun ternyata jawaban keduanya membuat Nenek tercengang.
"Mauuu."
"Dasar, anak muda gila." Nenek Maria geleng-geleng kepala lalu mengambil biskuit yang berada di atas meja.
__ADS_1
Jessica duduk di depan Rey dengan tersenyum malu. Begitu pula dengan Rey, dia ingin sekali tertawa terbahak melihat penampilan Jessi yang begitu amburadul. Namun, dirinya mencoba menahan agar gadisnya tak marah.
"Bagaimana bisa dia ada di rumah, Nek?" tanya Jessica penasaran sambil memeluk pinggang neneknya.
"Astaga." Nenek menepuk jidatnya.
"Ada apa, Nek?" tanya Jessi panik.
"Kamu baru bangun tidur?" Jessi dengan polosnya mengangguk.
"Lihat penampilan kamu sekarang. Jelek banget," cibir Oma Maria dengan tertawa mengejek.
Spontan gadis itu meraba rambut dan pakaiannya. "Aaaa." Jessi lekas berlari hingga kakinya terkantuk meja.
"Aduhh."
Rey yang khawatir mendekat. Namun, segera Jessi menggeleng dan bergegas ke kamarnya. Sungguh malu bukan kepalang. Penampilan acak-acakan di depan calon imamnya begitu membuat pamor dirinya menurun, batin Jessi.
"Bodoh banget sih." Jessi memukul kepalanya saat masuk ke kamar.
Dia segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian agar terlihat cantik di depan kekasihnya.
Berbeda dengan di kamar. Di ruang keluarga, Rey dan Oma Maria sama-sama terbahak mengingat tingkah konyol cucu dan kekasihnya itu.
"Kenapa nenek bilang?"
"Tapi tetep cantik loh, Nek."
"Modus. Sama aja kayak putraku, Stevent."
"Ehhh iya, Nek?"
"Ya. Stevent itu bucin parah dengan mamanya Jessi. Hingga menantuku meninggal, putraku tak mau menikah lagi," terang Maria dengan tersenyum menatap kekasih cucunya itu.
Rey tersenyum. Dia memiliki satu info lagi dari seorang ayah kekasihnya itu. Ternyata Stevent bukan hanya kejam dan tegas. Melainkan, dia juga termasuk lelaki bucin yang cinta mati pada sang istri. Hal itu membuat Rey tersenyum dan bersumpah agar dirinya mengikuti jejak Stevent di masa depannya.
Dia juga mengingat bahwa perjuangan dan pengorbanannya mendapatkan hasil. Dirinya tak cuma-cuma untuk bisa masuk ke rumah ini. Rey harus memakai pakaian tukang listrik dan membawa peralatan untuk mengecoh banyaknya bodyguard dan mata-mata yang dikirim oleh Stevent.
Oleh karena itulah. Oma Maria begitu hati-hati dalam bertindak dan dia juga memutar otak tuanya agar bisa membantu cucu dan kekasihnya itu.
****
Brunei Darussalam.
__ADS_1
Sebuah rumah mewah menyambutnya datang untuk pertama kalinya disini. Keramahan pelayan dan satpam sungguh membuat hati wanita paruh baya itu terkesan. Rumah besar dengan cat putih dan silver mampu membuat matanya menatap kagum ke arah bangunan itu.
Wanita yang tak lain adalah Mama Ria, datang kesini untuk memenuhi sebuah tujuannya. Berjalan dengan diantar oleh pelayan. Mereka segera menuju ke sebuah ruangan yang sedikit luas dengan banyak sofa dan meja.
Matanya tak henti-henti menatap kagum interior ruang tamu seorang calon putra raja itu. Mama Ria juga tak menyangka jika gadis yang dulu begitu dia tak suka, saat ini mau menerima bantuannya.
Tak lama, ketukan sepatu dan lantai membuatnya menatap dan mencari ke asal sumber suara.
"Assalamualaikum," salam dari kedua gadis cantik yang mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Mama Ria menahan tangis dan menyodorkan tangan yang langsung diterima keduanya. "Waalaikumsalam," sahut Mama Ria dengan suara bergetar.
Aqila menerima kehadiran Mama Ria dengan tangan terbuka. Bahkan gadis itu tak sungkan untuk memeluk wanita yang dulu tak menyukainya. Jujur dia juga masih merasa bingung, apa yang harus dilakukan untuk wanita di depannya. Karena memang pada saat itu, Mama Ria hanya mengatakan untuk menolongnya.
Tak lama, Khali yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya ikut bergabung. Dia segera duduk di samping sang istri setelah memberikan salam. Setelah itu, pelayan juga perlahan datang dan meletakkan semua cemilan serta minuman di meja ruang tamu.
"Maaf yah, Tante ngerepotin kalian."
"Tidak apa-apa, Tante. Gak ngerepotin kok," ucap Aqila ramah.
"Khali boleh tau, tante memang butuh bantuan apa?" tanya Khali langsung.
Dia juga penasaran sejak panggilan berakhir. Namun, keduanya tak mau menanyakan hal apapun hanya lewat telpon. Maka dari itu, sekarang adalah waktu yang pas untuk mereka mengatakan secara bebas dan luas.
Mama Ria mulai menjelaskan semuanya. Pertemuan anaknya dengan Jessi. Lalu bagaimana sikap Jessi hingga Rey luluh. Sungguh Aqila bersyukur dalam hatinya jika lelaki itu bisa move on. Selama ini, dia memang mendoakan keselamatan dan panjang umur temannya. Dia juga menyelipkan doa untuk Rey agar bisa menemukan kebahagiaannya. Lalu sekarang, ternyata Allah sudah mengabulkan permintaannya.
"Terus, Tante ingin saya melakukan apa?"
"Tolong bantu Tante untuk bisa bertemu dengan Stevent Alexzandra."
~Bersambung~
Wewewe mulai panas eh panas. Canda panas, hahahahha.
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di nome)