Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Ikatan Batin Yang Kuat


__ADS_3


Jarak memang memisahkan mereka tetapi, dimanapun mereka berada, jika memiliki ikatan batin yang kuat maka akan saling terhubung. ~Jblack~


****


New York, 08.25 pagi.


Bau minyak kayu putih yang menyengat membuat Jessica mengerjapkan matanya. Hal pertama yang dirasakan adalah pusing, pandangan buram dan sakit di kepalanya. Dia memegang pelipis miliknya dan memijat secara perlahan.


"Cucuku sudah bangun?" Suara khas Maria terdengar menggema di kamar bernuansa putih emas itu.


Tentu saja Jessica reflek menoleh, "Oma," ucapnya bahagia.


Segera cucu dan nenek itu saling berpelukan melepas rindu yang menjerat. 


"Oma sangat merindukanmu." 


"Aku juga, Oma." Jessica mempererat pelukannya pada sosok yang sudah dianggap seperti mamanya sendiri.


Tiba-tiba, sekelebat wajah Rey yang sedang terduduk di lepas landas kembali terngiang. Tanpa sadar, Jessi kembali meneteskan air mata hingga membuat Maria heran.


Wanita paruh baya yang sedang mengenakan dress cantik berwarna navy, segera melepaskan pelukan mereka.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Maria sambil menghapus air matanya.


Jessi menggeleng. Dia lebih memilih menyembunyikan semua ini dari sang Oma. Karena bisa ia tebak, jika Maria mengetahuinya. Maka, semua akan semakin runyam.


"Please, Honey. Bilang sama Oma. What Happen?" 


Jessi mendongakkan kepalanya perlahan. Dia menatap wajah sang Oma lalu mulai mengumpulkan keberaniannya. Memang sejak dulu, Maria adalah tempat curhatnya setelah sang Mama meninggal. Namun, hal ini berbeda dari topik biasanya. Ini perkara hati, Jessi takut jika sang Oma akan menolak atau ikut seperti sang Papa tak merestui mereka.


Maria bisa melihat keraguan di mata cucunya ini. Dia mengusap kepala Jessi dengan lembut, "kau bisa percaya pada, Oma." 


Menghela nafas pelan, Jessi mulai menceritakan semuanya. Kehidupannya selama di Indonesia. Sata dirinya melamar pekerjaan. Tinggal di sebuah kossan kecil. Makan dengan makanan pinggiran dan sederhana. Bahkan, berbagi dengan anak panti semua dia ceritakan. Tak ada raut sedih disana, melainkan wajah bahagia yang begitu kentara dilihat oleh Maria. 


"Setelah itu?" tanya Maria saat Jessi terdiam beberapa detik.


"Kemudian, aku juga bertemu dengan seorang Pria, Oma." 


"Wahh, tampan?" 


"Tentu saja. Bahkan menurutku dia sangat tampan." Jessi tersenyum membayangkan wajah kekasih yang saat ini dia rindukan.

__ADS_1


"Terus….terus?" 


Kemudian gadis itu kembali menceritakan bagaimana dia mengejar pria itu. Berkorban menjadi gadis yang awalnya rumahan harus terlihat berani. Bahkan perilaku yang kocak hingga membuat pria itu terbahak selalu dia lakukan. Maria dapat melihat binar cinta yang begitu jelas dari kata tiap kata yang dilontarkan cucunya sambil membayangkan pria tercintanya itu. 


"Lalu, apa yang membuat cucu Oma sedih?" 


Bagian inilah yang langsung membuat wajah yang tadinya berbinar cerah seperti matahari. Lekas berubah seperti awan mendung. Jessi menerawang ke depan dengan mata yang mulai tergenangi air mata.


"Daddy tak merestui kami, Oma." 


"Bagaimana bisa?" 


"Saat Daddy menjemputku, dia melihatku sedang bersamanya. Lalu ketika kita mencoba berbicara, Daddy membahas status Rey jika dia hanya lelaki duda," lirih dengan menghapus air mata yang jatuh.


Hati nenek mana yang tak sedih. Meski hubungan mereka hanya sebagai nenek dan cucu. Namun, tak ada yang mampu mengalahkan ikatan mereka meski Stevent sendiri. Sedari Mamanya meninggal, Jessi selalu tinggal bersama neneknya. Bahkan dia selalu berjalan-jalan, tidur bersama dan curhat apapun kepada Maria. Karena itulah, yang membuat dua wanita berbeda umur memiliki ikatan yang sangat kuat. 


Maria menghapus air mata cucunya yang tak mau berhenti. Dia tersenyum dan menatap wajah cantik yang begitu mirip dengan Stevent Alexzandra. "Kau mencintainya?" tanya Maria langsung.


Sontak saja pertanyaan neneknya itu membuatnya menganggukkan kepalanya. "Sangat, Oma. Pertama kali aku mengenal cinta saat bertemu dengannya." 


"Oma akan membantumu."


****


Hari semakin larut. Namun, hal itu tak membuat seorang lelaki beristirahat. Dia hanya bekerja, bekerja dan bekerja di ruang kerjanya.


Tadi pagi, Rey sendiri hanya berdiam diri di rumah. Dia merenungi nasibnya dan hanya mendekam di dalam kamar. Segala bujuk rayuan telah Mama Ria lakukan agar sang putra mau keluar dan makan. Namun, tetap saja semua hal itu tak membuat Rey keluar kamar.


Hingga akhirnya, senjata andalan hanya satu yang Mama Ria yakin akan berhasil. Dia mengancam putranya, jika ia akan dijodohkan dengan putri temannya kalau pria itu tak mau keluar dan makan.


Berhasil.


30 menit kemudian, Rey akhirnya keluar dengan penampilan yang sudah segar. Meski tak ada rona bahagia, Mama Ria masih bersyukur putranya mau makan.


Dengan penuh sayang, Mama Ria mengambilkan makanan untuk sang putranya dan menyemangati pria itu.


"Mama yakin kamu bisa melewati ini semua, Rey." 


Itulah kalimat yang selalu menjadi penguat dirinya sampai malam ini. Mematikan laptop yang berada di pangkuannya, Rey segera memindahkan benda itu di meja. 


Setelah memastikan laptopnya aman, segera pria itu beranjak dari duduknya dan kembali  ke kamarnya. Satu kata yang dapat dia rasakan yaitu sepi. Biasanya, jika malam begini dia akan melakukan panggilan video dengan Jessica hingga Rey terlelap.


Akan tetapi sekarang? Dia hanya bisa menatap layar ponselnya tanpa adanya notif satupun dari gadisnya itu. Rey segera menggeser layar itu dan mencari wajah pemilik sepenuh hatinya.

__ADS_1


"Apa kabar kamu di sana?" lirihnya memandangi wajah Jessica yang sedang tersenyum.


Dia belai layar hidup itu membayangkan jika didepannya benar-benar wajah sang kekasih. Perlahan, matanya mulai tertutup dan dikalahkan oleh rasa kantuk yang membuatnya dengan cepat terpejam.


****


Keesokan harinya.


Mama Ria yang hendak membangunkan putranya, dikejutkan dengan keadaan Rey yang demam. Dia segera mengambil kain dan baskom untuk mengompres dahi putranya.


Tak lupa, Mama Ria menyuruh pelayan di rumahnya untuk menghubungi Dokter Keluarga Pratama agar datang ke rumah.


"Kenapa kamu bisa sakit, Nak?" gumam Mama Ria sambil meneteskan air mata. 


Berulang kali dia mengganti kain di dahi Rey jika sudah terasa panas. Mama Ria hanya bisa berdoa semoga putranya segera menerima keadaan meski membuat hatinya sakit. 


Tak lama, Dokter mulai datang dan segera memeriksa Rey yang sudah terlihat menggigil. Mama Ria sudah terlihat begitu khawatir dengan keadaan putranya. 


"Bagaimana, Dok?"


"Tuan Muda kelelahan, Nyonya. Beliau juga sepertinya telat makan dan kurang istirahat," ucap Dokter sambil merapikan peralatannya.


"Saya akan menyuruh Asisten saya datang dan memasang infus agar keadaan Tuan Muda menjadi lebih sehat dan bertenaga." Lanjutnya.


"Baik, Dok. Lakukan yang terbaik untuk Putra saya."


"Pasti, Nyonya. Saya pamit ke depan menunggu Asisten saya yah." 


Selepas kepergian Dokter. Mama Ria mendekat dan duduk di samping tubuh Rey yang lemah. Ibu mana yang tak sakit melihat anaknya seperti ini. Mama Ria menjadi semakin bersalah dan karena dia, putranya tak mendapatkan restu dari Ayah Jessica. 


Mama Ria hanya bisa berdoa. Semoga apa yang direncanakan akan terwujud dan dapat membantu putranya ini, Aamiin.


Suara rintihan dan gumaman Rey menyadarkan Mama Ria yang saat ini sedang melamun. Hatinya semakin sakit melihat putranya sampai menyebut nama 'Jessica' di dalam tidurnya.


~Bersambung~


Ya namanya kali jodoh, 'kan. Mangkanya mereka punya ikatan kuat, huhuhu.


Cepet sembuh Abang Rey sama Si Bule Jessica. Sabar yah, kalian harus kuat dong.


Jangan lupa geng di like oke. Tekan like karena like itu gratis hehehe.


Kalau mau dukung author dengan cara tekan vote atau beri hadiah berupa koin atau poin. Terima kasih.

__ADS_1



__ADS_2