
[Aline]
Hari pertama aku bekerja di GoodFood. Rasanya seperti mimpi. Sungguh aku masih tidak percaya, kalau aku akan sedekat ini dengan pria idamanku. Sesuai kesepakatan antara Aku, Papa dan dua Kakak kembarku, aku akan mulai mengejar duda tampan yang saat ini ada hadapanku.
"Apa ada sesuatu yang sulit?"
Aku terkejut ketika mendengar suara itu. Owen berjalan mendekatiku yang sedang belajar menyusun jadwal.
"Ti-tidak, Pak. Saya akan segera menyelesaikanya. Silakan Anda periksa setelah selesai," jawabku.
Aku buru-buru mengetik. Aku tahu Owen masih memerhatikanku, tapi aku pura-pura tak peduli. Biar kutunjukan seberapa hebat kemampuan seorang Aline Michaela.
Beberapa saat kemudian, aku selesai membuat jadwal dan menunjukkan pada Owen. Owen mendekat, ia melihat dengan seksama hasil kerjaku di hari pertama masuk kerja.
Jarak antara aku dengannya begitu dekat. Jangungku pun berdegup kencang tak karuan. Pria ini selalu membuatku terguncang. Selalu membuatku memikirkannya dan selalu membuatku menggila. Kalau dipikirkan lagi, aneh juga ya. Kenapa dia tak menikah lagi? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang membuatku semakin penasan dan ingin tahu.
"Kerja bagus. Kamu menulisnya dengan bagus tanpa kesalahan." puji Owen padaku. Pria itu menatapku.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak." jawabku.
Aku sudah tahu hasilnya pasti akan bagus. Pekerjaan seperti ini sudah sering aku lakukan dulu saat aku masih jadi anak magang di kantor dan masih ingusan. Apa pri ini benar-benar hanya akan memberiku pekerjaan seperti ini? dia tidak berpikir apa yang tertulis di riwayat pendidikanku adalah sesuatu yang kudapat secara instan, kan?
Begini-begini aku ini selalu mengutamakan sekolah dan belajar dibandingkan bermain, atau bersenang-senang dengan teman seusiaku. Karena aku jyga tak pernah main-main, maka nilaiku selalu bagus. Aku mendapatkan semuanya dengen kerja keras dan kemampuanku. Tidak dengan car instan yang kotor.
"Apa ada hal lain yang bisa saya lakukan, Pak?" tanyaku pada Pak Boss Duda di hadapanku.
"Tidak ada. Kamu bisa lanjut baca laporan bulanan saja di mejamu. Oh, ya. Mulai besok kamulah yang akan memberitahuku semua jadwal-jadwalku. Karena Hans akan aku berika tugas lain," kata Owen.
"Baik, Pak." jawabku yang langsung berdiri dari dudukku. Aku berpamitan dan langsung pergi dari ruangan Owen.
Aku tak mengerti, apakah aku harus berseteru dengan wanita ini? memangnya aku punya salah apa padanya? dan kenapa juga dia membuat gara-gara denganku?
Langkahku terhenti di samping Nana. Aku menyapa wanita jahat itu dengan ramah dan tersenyum saat wanita itu menatapku. Aku juga harus sopan pada seniorku, kan. Kalau tidak dia akan mengataiku sebagai junior tak beretika.
"Oh, kamu datang. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Apa yang kamu lalukan di dalam ruangan Pak CEO? Apa kamu juga seperti yang lain, yang aka mengganggu Pak CEO dengan tubuhmu?" katanya tersenyum sinis.
__ADS_1
Hah? apa-apaan wanita ini. Dia pikir aku wanita murahan seperti apa yang akan menggoda pria dengan tubuh. Dia juga salah. Aku tidak mengganggu Owen, tapi berniat mengejar. Dasar!
"Maaf? apa maksud Anda, Bu kepala?" tanyaku baik-baik.
Jujur aku penasaran, karena dia berkata "Seperti yang lain" yang artinya ada orang lain yang mengganggu Owen. Siapa, ya?
"Jangan lupa tempatmu dan jangan bermimpi, Aline. Kamu itu kan hanya seorsng Sekretaris. Di sini juga dilarang untuk menjalin hubungan dengan rekan sekantor. Kamu sudah tahu aturan itu?" katanya lagi.
Sabar, Aline. Sabar! aku tidak tahu lagi harus menjawab apa selain mengangguk dan menunduk. Wanita ini mulai memancing emosiku dan berharap aku marah-marah terprovokasi. Tidak boleh ada hubungan dengan rekan sekantor? apa benar begitu, atau itu hanya omong kosongmu. Aku tahu diri! Jadi tidak perlu menatapku seolah bola matamu akan keluar, ok. Kalau bisa aku mengatainya sudah aku kata-katai dengan kata-kata paling lembut dan sopan.
"Aku sudah baca dokumenmu. Riwayat pekerjaan dan riwayat pekerjaanmu biasa saja, ya. Tak ada yang menarik sama sekali. Dan kamu tinggal di tempat murah. Jangan bilang pakaian yang kamu kenakan ini hanya pakaian tiruan? Opss ... maaf, bukan aku mengejekmu. Hahaha ... " kata Nana mengataiku lagi.
Ya, tidak apa-apa. Silakan saja kamu mengataiku sepuasnya. Aku memang sengaja mengaturnya begitu agar tidak ketauan siapa-siapa. Meski Hans dan Owen sudah tahu karena Victor salah memasukkan dokumen. Tadi aku buru-buru bicara pada Owen dan meminta berkasku yang sebelumnya. Saat aku tanya siapa saja yang membaca berkasku? Owen berkata hanya dia dan Hans. Jadi aku mengambil, lalu menukar dengan yang sudah aku siapkan. Aku meminta pada Owen dan Hans untuk merahasiakan identitasku di sini, karena aku merasa tak nyaman. Jadi dia lihat berkasku yang baru, kan? riwayat pendidikan yang biasa. Hmm ... ya, memang sangat biasa. Pengalaman kerja biasa, itu sesuai pegalaman kerjaku tapi hanya sebagian saja sampai aku menjadi asisten Manager. Soal rumah yang murahan, itu juga hanyalah rumah kosong yang aku beli karena suatu hal secara mendadak dua tahun lalu. Soal pakaianku, kalau dia memang punya mata seharusnya dia bisa tahu. Oh ... setelah aku amati, yang pakaiannya tiruan bukannnya dia? Pakaian ini kan buatan designer Elizabeth dan hanya ada dua. Satu kubeli dan kuberikan pada Yuna, dan satu lagi seorang aktris. Hahaha ... ternyata begini caramu? ok, aku akan ikuti permaiananmu, Nana. Setidaknya Aku bersyukur, dia percaya begitu saja dengan apa yang dibacanya dan tidak curiga.
"Anda benar. Pakaian saya hanyalah pakaian tiruan, bahkan tas dan sepatu saya pun saya beli dengan harga yang murah. Tidak seperti pakaian Anda yang mewah ini. Bukankah ini pakaian racangan Designer Elizabeth?" tanyaku. Aku ingin tahu seperti apa tanggapannya.
Mata Nana sedikit melebar, "Oh, kamu tahu juga tentang pakaian, ya. Benar ini adalah pakaian edisi khusus yang hanya ada satu. Dan dieancang oleh Elizabeth. Aku punya beberapa pakaian, apa kamu mau? bukankah pakaianku lebih bagus daripada milikmu yang palsu?" jawabnya yang langsung menyindirku.
__ADS_1
Aku tersenyum lebar dan langsung menolak. Aku biarkan dia tersenyum bahagia sebelum nantinya menangis meraung-raung. Dia berkat pakaiannya lebih bagus? ya, seperti yang kamu pikir sajalah. Aku tidak peduli denganmu juga tak tertarik tentang pakaianmu. Karena aku hanya percaya dengan apa yang terlihat oleh mata. Dan saat aku menatap ke bawah, ternyata dia menggenakan sepatu edisi khusus tahun kemarin. Oh, maksudku sepatu tiruan edisi khusus. Hahaha ... dia mengataiku seolah aku ini pembeli barang tiruan. Dia tidak bercermin, ya.