Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (24)


__ADS_3

Vivi menceritakan apa yang diketahuinya dari sang Nenek. Terkadang dalam mimpi pun Neneknya mengingau dan menyebut-nyebut nama Nana. Vivi pernah bertemua Nana hanya satu kali, itupun saat Vivi sedang menyapu halaman depan rumah bersama salah seorang pelayan lain. Vivi awalnya tidak tahu kalau tamu yang datang adalah Nana, baru setelah Tuannya marah dan membentak, tersebutlah nama Nana secara tak langsung.


"Hm, begitu ya. Lantas, apa kamu dengar Owen berkata apa?" tanya Aline.


"Tuan saat itu marah dan mengusirnya begitu saja. Perempuan itu diseret Tuan ke teras depan dan di dorong jatuh hingga ke halaman. Tuan berkata 'Aku tak akan pernah membiarkanmu hidup tenang, Nana!' Begitu, Nyonya." jawab Vivi meniru Owen yang saat itu sedang marah.


Aline menghentikan langkahnya. Ia memanggil Vivi dan minta pada Vivi untuk dipertemukan dengan Nenek Vivi. Aline berkata, itu jika Vivi memperbolehkan. Aline mengatakan lagi, jika ada sesuatu hal yang ingin ia sampaikan dan juga ia tanyakan langsung pada Nenek Vivi.


"Begini, Vivi ... sebenarnya aku sedang melakukan penyelidikan pada Nana. Aku melihat gerak-gerik mencurigakan. Karena Nenek adalah orang yang kemungkinan kenal atau bahkan pernah berkomunikasi dengan Nana, makadari itu aku ingin berbincang dengan beliau. Semoga kamu mengerti apa maksudku." kata Aline menjelaskan.


Vivi tersenyum, ia lantas mengiakan permintaan Aline. Vivi berkata, besok adalah jadwal liburnya. Ia bertanya, apakah Aline mau ikut ke rumahnya? dengan senang hati Aline menerima. Aline senang dan juga berterima kasih karena Vivi mengizinkannya bertemu Nenek Vivi.


Keduanya berbincang cukup lama. Aline mengajak Vivi masuk dan menyuruh Vivi tidur. Aline meminta maaf, kerena membuat Vivi tidur larut malam. Vivi tidak keberatan, senang bisa dekat dan bicara santai dengan Aline. Vivi pun pergi meninggalkan Aline sendirian di dapur. Sedangkan Aline diam melalum. Ia berpikir tentang Nenek Vivi dan Nana. Tiba-tiba saja id dikejutka oleh Owen yang menepuk bahunya tiba-tiba.


"Sedang apa di sini?" tanya Owen.


Aline kaget dan segera berbalik, "Oh, kamu sudah selesai mandi? aku baru minum," jawab Aline.


"Oh, begitu. Aku sudah selesai mandi. Mandilah, jika ingin mandi." kata Owen.


Aline menganggukkan kepala. Is segera pergi meninggalkan Owen. Ia menuju kamar Owen untuk mandi. Owen terdiam di dapur, ia melihat sekeliling dan tidak menemukan siapa-siapa. Owen berpikir, apa yang sedang lamunkan Aline, mengingat di dapur tak ada lawan bicara. Owen lantas mendekati lemari pendingin, ia mengambil botol berisi air mineral dari dalam sana. Ia membawa botol air itu bersamanya ke ruang kerja, karena masih ada sedikit hal yang harus ia lakukan terkait pekerjaan.


***

__ADS_1


Keesokan harinya ....


Aline izin libur pada Owen karena ingin mengantar Maximilian dan Vivi. Aline juga beralasan ada urusan keluarga yang harus ia urus mewakili Papanya. Aline terpaksa berbohong, ia tidak mau sampai penyelidikannya digagalkan Owen dengab alasan apapun. Ia juga sudah meminta Vivi tutup mulut terkait niatanya bertemu Nenek Vivi. Untungnya Owen tak curiga dan mengiakan permintaan Aline.


Aline mengantar Maximilian ke sekolah. Di parkiran saat ia hendak pergi bersama Vivi, ia bertemu Kakak iparnya, yakni Sarah. Yang juga baru saja mengantar si kembar Yurika dan Yeriko. Sarah bertanya kabar Aline, ia melihat Vivi dan bertanya siapa Vivi? Aline mengenalkan singkat, Aline juga menjelaskan keberadaan Vivi di sampingnya.


"Kamu tampak terburu-buru. Baiklah, lain waktu kita bicara panjang, ya. Dahhh ... " kata Sarah berpamitan dan langsung pergi.


"Dahh, Kak. Lain waktu aku traktir minum kopi," kata Aline.


Sarah berbalik dan melambaikan tangan sebagai jawaban atas perkataan Aline. Aline tersenyum senang, ternyata Kakak iparnya sangat peka. Aline lantas mengajak Vivi untuk segera naik ke dalam mobil. Keduanya naik, dan Aline mengemudikan mobil pergi menuju alamat rumah yang Vivi tunjukkan.


***


"Nyonya, tadi pagi Anda pergi ke mana pagi-pagi sekali?" tanya Vivi tiba-tiba.


"Oh, itu ... aku pulang ke rumah untuk mengambil mobil. Kalau tak pakai mobil bagaimana bisa aku mengantar Max dan mengantarmu?" jawab Aline.


"Kenapa harus sampai pulang ambil mobil. Di rumah kan Tuan punya dua mobil lain, selain yang biasa Tuan pakai ke kantor." sahut Vivi.


Aline tersenyum, "Bukan masalah itu, Vivi. Lagipula aku ada hal yang harus aku bicarakan dengan Papaku. Nanti kalau aku sudah jadi Nyonya rumah, aku akan kuasai semua milik Tuanmu. Tunggu saja, Hahaha ... " kata Aline bergurau. Ia sengaja menggoda Vivi.


"Saya setuju, Nyonya. Ambil saja semua milik Tuan. Hehehe ..." sahut Vivi kegirangan.

__ADS_1


Sepanjang jalan Vivi dan Aline bercakap-cakap. Perjalan jadi tak membosankan karena Vivi bisa diajak bicara tentang segala topik. Aline jadi semangat dan tidak suntuk.


***


Setelah menemupuh kira-kira satu jam perjalanan. Akhirnya Aline dan Vivi sampai tujuan. Vivi segera turun dari mobil, Aline mengikuti Vivi, turun dari mobil dan melihat sekeliling. Tanpa ditanya, Vivi menceritakan tentang kehidupannya di sana. Tentang lingkungan dan tetangga-tetangganya. Beruntung Vivi punya tetangga yang baik hati, yang sudi membantunya mengawasi Neneknya. Meski Vivi telah menyewa seorang perawat untuk Neneknya, tetap saja ia merasa Neneknya butuh pengawasan.


"Apa Nenekmu melakukan perawatan rutin?" tanya Aline.


Vivi meganggukkan kepala, "Ya, Nyonya. Meskipun gai saya hanya tersisa sedikit untuk saya pribadi, saya puas karena perawatan dan kebutuhan Nenek terpenuhi. Saya makan enak dan tidur nyaman di kediaman Tuan, saya tidak ingin Nenek saya tidak nyaman bahkan dirumahnya sendiri." jawab Vivi.


Vivi membuka pintu utama rumahnya dan mempersilakan Aline masuk. Aline menganggukkan kepala, ia masuk dan berjalan mengikuti Vivi. Aline melihat sekeliling rumah Vivi. Meski rumah Vivi tak semewah rumahnya dan hanya satu lantai, tapi rumah Vivi cukup luas ke belakang.


"Nenek ... aku pulang." kata Vivi.


Vivi langsung berlari menuju halamam belakang yang teryata di sana Neneknya sedang duduk memandangi kolam ikan. Vivi memeluk Neneknya, ia berbisik sesuatu dan Neneknya pun memalingkan pandangan ke arah Aline. Melihat Nenek Vivi tersenyum padanya, Aline pun tersenyum dan berjalan mendekati Vivi dan Neneknya. Aline tersenyum menyapa Nenek Vivi.


"Hallo, Nek." sapa Aline.


"Hallo, Nyonya. Senang bertemu Anda." kata Nenek Vivi berbicara formal.


"Tolong bicara santai pada saya, Nek. Anggap saja saya teman Vivi yang datang berkunjung," kata Aline.


"Mana bisa seperti itu. Anda kam majikan cucu saya," kata Nenek.

__ADS_1


Aline kaget. Ia lantas menjelaskan kalau ia bukan majikan, melainkan kekasih dari majikan Aline, yakni Owen. Nenek Vivi puj bersikeras, kalau itu sama saja. Kekasih majikan adalah majikan baginya. Dan Vivi pun setuju akan hal itu tanpa ragu-ragu.


__ADS_2