
Beberapa hari setelah kejadian tak menyenangkan itu, Owen datang mengunjungin kediaman Aline untuk bertemu Aiden, Papa Aline. Alwin dan Alvin juga istri dan anak-anak meraka ternyata juga datang berkunjung. Alwin dan Alvin kaget, karena mereka tak menyangka akan ada tamu pentihg datang ke rumah Papa mereka. Aiden juga kaget, ia tidak tahu kalau Owen akan mengunjunginya.
Semua orang duduk di ruang tengah, kecuali istri Alwin dan Alvin. Mereka bersama anak-anak mereka ada di teras belakang. Aline dan Maximilian juga di sana. Di ruang tengah hanya ada Aiden, Alwin, Alvin dan Owen. Dan tanpa mengulur waktu lagi, Owen langsung menyampaikan niatannya untuk mempersunting Aline sebagai istrinya, dan Ibu bagi Maximilian. Owen berharap Aiden mau menerimanya sebagai menantu, meski memiliki banyak kekurangan.
Aiden mengatakan, kalau dimatanya Owen bukanlah pria yang bayak kekurangan. Juatru banyak kelebihan. Aiden dengan senang hati menerima, karena Aline sebelumnya memang bicara padanya, juga Kakak-kakaknya kalau ia sangat ingin menikah dengan Owen. Owen kaget, ia tidak tahu Aline telah lebih dulu mengutarakan maksudnya menjadi istrinya.
"Sa-saya cukup terkejut," kata Owen. Ia menganbil cangkir teh dan meminumnya sedikit untuk menghilangkan rasa terkejutnya.
"Begitulah putriku. Ia terduga dan kadang tak terduga. Namun, jika menyangkut keinginan dan harapannya, ia akan langsung bicara tanpa ragu pada kami." kata Aiden.
"Ehemm ... (berdehem) jadi Adik ipar, kapan acara pernikahan kalian?" tanya Alwin.
Owen kaget, "Apa? Ah ... i-itu ... " kata-kata Owen terpotong oleh Aline yang berjalan mendekati Papanya.
"Secepatnya. Lebih cepat lebih baik. Bukan begitu, sayang?" sahut Aline.
"Ya ... begitu juga bisa." jawab Owen.
"Kapanpun itu kalian silakan putuskan sendiri. Nanti kami bantu untuk mempersipakannya. Kebetulan menantu keduaku punya kenalan perencana pernikahan. Kalian bisa pakai jasa mereka saja." kata Aiden.
"Itu terserah Aline saja. Saya akan mengikuti apa kata calon istri." jawab Owen.
Alwin dan Alvin kaget. Keduanya saling bertatapan dan mengerutkan alis. Seolah di mata mereka, Owen adalah sosok yang berbeda dari Owen yang mereka jumpai saat di rumah sakit. Owen yang saat ini terlihat sangat hangat dan lembut.
Mendengar perkataan Owen, Aline senang bukan main. Ia tahu Owen pasti berkata seperti itu, karena ia adalah kesayang Owen. Aline lantas mengumumkan kalau dua Kakaknya harus membantunya mempersiapkan pernikaha impiannya. Alwin dan Alvin menerima permintaan Aline dengan senang hati. Mereka bersedia membantu dari awal sampai akhir, karena bagi Alwin dan Alvin, Aline adalah adik mereka satu-satunya.
***
__ADS_1
Hari pernikahan pun tiba. Di sebuah taman di villa mewah. pernikahan Owen dan Aline digelar. Aline mengadakan pesta pernikahan di luar ruangan agar suasana menjadi lebih seru. Berbeda dengan pernikahan dua Kakaknya dulu, yang diselenggarakan di Hotel. Suasana begitu ramai. Banyak tamu undangan dari kedua belah pihak yang diundang. Mereka bergantian mengucapkan selamat dan memberikan doa terbaik. Acara berjalan lancar dari awal sampai akhir. Dan acara itu benar-banar membuat Aline tersenyum sepanjang hari.
Malam harinya ....
Alinemenemani Maximilian tidur. Aline bertanya, bagaimana persaan Maximilian sudah memiliki Mama? Dan Maximilian menjawab, jika ia sangat senang sambil mencium pipi Aline.
"Apa Mama akan terus mengantar dan menjemputku sekolah?" tanya Maximilian.
"Ya, tentu saja. Kamu kan punya Mama serba bisa sekarang. Mama akan menemanimu jalan, makan dan bermain juga. Jangan khawatirkan apapun, fokuslah belajar dan bermain dengan senang bersama teman-temanmu." kata Aline.
Maximilian memejamkan mata memeluk Aline. Aline mengusap pelan pungung Anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Aline merasa senang, sekarang ia bisa bermain dan bersama anaknya sepuasnya. Melakukan apa saja yang ia inginkan tanpa rasa khawatir. Ia juga bisa melindungi Maximilian karena ia adalah Ibu dari Maximilian.
"Selamat tidur, putraku sayang. Mimpilah yang indah." kata Aline mengecup kening Maximilian.
Setelah Maximilian terlelap tidur, Aline keluar dari kamar dan pergi ke kamar tidurnya. Di dalam kamar, terlihat Owen yang sedang membaca buku di atas tempat tidur. Melihat istrinya masuk kamar, Owen menyambut dengan senyuman.
"Apa Max sudah tidur?" tanya Owen.
Owen mendekat, memijat bahu Aline dengan lembut. Owen mencium pipi Aline dan berterima kasih sudah bekerja keras sejak pagi.
"Apa kita tunda saja perjalanan bulan madu kita?" tanya Owen.
"Kenapa?" tanya Aline.
"Kamu terlihat sangat lelah. Kalau besok kamu paksakan pergi, aku takut kamu malah akan sakit saat tiba ditujuan kita." jawab Owen khawatir.
Aline memalingkan kepala menatap Owen. Ia berkata, lelahny tidak separah itu sampai harus menunda bulan madu. Bahkan Aline masih sanggup berlari keliling lapangan puluhan kali kalau ingin. Owen mengerutkan dahinya mendengar jawaban Aline.
__ADS_1
Owen mendekatkan wajahnya ke wajah Aline, "Kalau begitu, aku tidak perlu menunda malam pertama kita." kata Owen.
Aline kaget. Ia baru sadar kalau malam itu adalah malam pertamanya dengan Owen. Wajah Aline langsung memerah karena malu. Melihat wajah istrinya yang merona, Owen semakin ingin menggoda Aline. Owen mengusap wajah Aline dengan lembut, lalu mencium kening Aline. Ciuman Owen turun ke hidung, lalu ke dua pipi. Owen mencium dagu, kemudian mencium bibir Aline.
Ciuman itu begitu lembut dan menghanyutkan. Aline terbuai, ia mengalungkan tangannya ke leher Owen, dan membalas ciuman Owen. Ciuman pun mulai memanas. Owen perlahan menanggalkan pakaian tidur Aline menyisakan gaun malam. Owen melepas ciuman, ia menciumi leher dan bahu Aline.
"Umhhh .... "
Perlahan Owen menyusupkan tangannya ke gaun malam Aline, mengusap paha dan semakin naik mengusap perut Aline. Mendapatkan serangan tak terduga seperti itu membuat Aline terkejut dan setengah malu. Meski ia kenal banyak pria dan beberapa kali menjalin hubungan. Ia bahkan tak pernah berciuma sekalipun dengan mentan-mantan kekasihnya. Aline lebih memilih memutuskan hubungan daripada kontak fisik.
Owen langsung menanggalkan gaun malam Aline. Aline yang malu, menutupi tubuh bagian depannya dengan dua tangannya. Owen tersenyum, ia segera membaringkan sang Istri ke atas tempat tidur. Owen kembali menyerang Aline, ia menciumi setiap inci kulit tubuh Aline. Di beberapa tempat Owen meninggalkan jejak ciuman. Aline terus melengkuh dan menggeliat-liat. Ia merasa suhu tubuhnya semakin lama semakin panas.
"Cu-cukup! bi-bisakah kita lanjut saja?" kata Aline dengan wajah memohon dan napas terengah-enggah.
"Dengan senang hati kalau itu permintaanmu, sayang." jawab Owen.
Owen langsung menanggalkan pakaian tidurnya. Ia mendekatkan wajahnya dan kembali mencium bibir Aline. Ciumannya turun, turun dan semakin turun. Owen menatap Aline dan bertanya kalau ia akan mulai permainanya. Aline menganggukkan kepala, ia menantikan permainan panas yang akan ia mainkan dengan Owen.
"Mmmhhh .... hhhh .... "
Aline mencengkram kuat sprei saat permainan dimulai. Owen sedikit kesulitan, tapi akhirnya bisa menguasai permainan. Semakin Owen bergerak, maka Aline menggeliat dan melengkuh. Keduanya bermain panas saling memuaskan sampai tengah malam. Owen membatasi diri, ia tidak mau membuat Aline terkapar tak berdaya di tempat tidur karena mereka harus pergi keesoakan harinya.
Aline menatap Owen, "Apa kamu tahu? aku sangat senang sampai tidak tahu harus berkata apa. Aku mencintaimu, Owen." kata Aline.
Owen mencium kening Aline, "Aku juga mencintaimu, sayang. Aku tidak sangka, kamu sejak awal sudah berniat menikah denganku. Dan kamu sudah mengatakan itu pada Papa juga dua Kakakmu. Kalau ingat cerita Papamu, aku jadi malu." kata Owen.
"Ah, soal itu ... bukankah aku sudah katakan sejak awal mengukaimu. Karena aku ingin nendekatimu, aku bahkan melamar pekerjaan di perusahaanmu dan akhirnya aku bisa menyatakan perasaanku langsung. Bicara soal ini, aku ingin berterima kasih padamu karena sudah memberiku kesempatan mengejarmu." kata Aline.
__ADS_1
Aline mengusap wajah Owen dan mencium bibir Owen dengan lembut. Owen memeluk Aline, membalas ciuman Aline. Keduanya berciuman mesra dan mereka tidur dengan saling berpelukan.
~Tamat~