Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (15)


__ADS_3

Aline awalnya diam saja, saat ditanya. Ia takut kalau jawabannya salah dan membuat Owen marah. Akan tetapi akhirya Aline menceritakan apa yang sudah dilakukannya dan memohon maaf atas kelancangannya.


"Maafkan saya, Pak." kata Aline.


Owen terkejut mendengar penjelasan Aline. Tidak disangka Aline akan langsung menggunakan kekuasaannya dan menggerakkan orang-orangnya. Owen merasa lega, ternyata Aline bisa menangani Nana lebih baik dari dugaannya.


Aline menatap Owen yang diam. Ia berpikir Owen sedang marah karena sembarangan mengekuarkan berkas dokumen milik kator ke luar dan sampai memperlihatkannya pada orang luar.


"Pak CEO tidak perlu khawatir. Tim saya adalah orang yang berpengalaman dan sangat, sangat kompeten. Mereka akan merahasiakan ini, Pak. Saya hanya meminta mereka meringkas saja, bukan menyalin isinya apalagi melakukan hal-hal aneh dengan dokumen-dokumen ini." jelas Aline ingin menyakinkan Owen.


Owen tertawa dalam hatinya. Ia merasa Aline sangatlah menarik. Owen teryata sadar kalau ia sudah membuat Aline salah paham padanya.


"Ehemmm ... (berdehem) kali ini aku akan percaya padamu, Aline. Tolong lain kali kamu bicara dulu denganku. Kamu bisa bilang padaku kalau Nana mengganggumu." kata Owen.


"Ya? apa maksudnya? apa Anda sudah tahu kalau saya diganggu oleh Nana?" tanya Aline langsung.


Owen terkejut. Ia tidak sadar sudah kelepasan bicara. Owen pun mengerutkan dahinya dan cepat-cepat memutar otak untuk mengganti kata-katanya.


"Umh, itu ... maksudku ... sebelum kamu, Sekretarisku suka mengeluh diganggu Nana. Makadari itu kalau Nana mengganggumu, katakan langsung padaku. Kamu mengerti?" kata Owen.


Aline menganggukkan kepalanya. Ia mengiakan kata-kata Owen.


Ponsel Owen berdering. Owen mendapatkan panggilan dari pelayan rumahnya. Maximilian jatuh sakit. Suhu tubuhnya meninggat dan mengigau memanggil nama "Bibi Aline". Owen kaget, seketika pandangan matanya tertuju pada Aline. Owen khawatir, padahal saat ia berangkat kerja Maximilian baik-baik saja, bahkan putranya itu juga sempat pergi ke sekolah.


"Aku akan segera pulang dan membawanya ke rumah sakit," kata Owen, yang langsung mengakhiri panggilan.


Aline menatap Owen, "Apa ada sesuatu? apa Maximilian sakit?" tanya Aline cemas.


"Ya, dia tiba-tiba saja demam dan Bibi pelayan bilang dia mengigau." kata Owen.

__ADS_1


Aline mengerutkan dahi, "Pak, apa boleh saya melihatnya? maaf, saya tidak bermaksud apa-apa. Hany saja saya selalu khawatir kalau ada anak demam. Keponakan saya juga terkadang demam dan membuat saya sampai berjaga semalaman." kata Aline.


Owen mengiakan pemintaan Aline. Sebelum pergi Aline ingin mengatar kotak pada Nana lebih dulu. Owen langsung menghubungi seseorang dilantai bawah untuk segera naik. Setelah menunggu-nunggu seseorang datang dan orang itu adalah orang yang tadi mengatar kotak berisikan dokumen pada Aline dan yang menyampaikan pesan dari Nana.


"Kamu, tolong antar ini ke ruangan Kepala Sekretaris. Katakan padanya kalau aku tidak suka dengan permainannya yang kekanakan!" kata Owen dengan nada suara dingin.


"Ba-baik, Pak. Saya akan antar dan sampaikan." kata seseorang itu tampak ketakutan.


Seseorang itu mengambil kotak dan langsung buru-buru pergi. Owen menatap Aline, lalu mengajak Aline pergi.


***


Di parkiran ....


Aline masuk ke dalam mobil Owen. Aline senang bisa bersama Owen dalam satu mobil. Ada gunanaya juga dia tidak bawa mobil.


"Ya, meskipun kita akan ke rumahnya. Dan bukan rumahku.  Setidaknya aku selangkah lebih maju untuk mendekatinya. Kira-kira seperti apa ya rumahnya. Aku jadi penasaran," batin Aline.


Aline sesekali melirik menatap Owen. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Owen. Sama seperti saat Papanya mengomelinya di rumah sakit. Kata-kata Papanya benar, orang tua mana yang bisa tenang melihat anaknya sakit, apalagi sampai terluka.


"Pak, minta pelayan mengukur suhu tubuhnya dan megompres menggunakan air hangat. Jagam pakaikan selimut dan juga jangan nyalakan pendingin ruangan." kata Aline.


"Oh, i-iya ... akan aku sampaiakan." Kata Owen.


Owen segera menghubungi pelayan rumahnya dan meminta pelayan melakukan sesuai yang Aline katakan padanya. Panggilan pun langsung diakhiri oleh Owen.


"Apa di rumah Anda ada obat? Obat penurun demam?" tanya Aline.


"Tidak ada. Kalau sakit kami akan langsung pergi ke Dokter, tapi kami termasuk jarang sekali sakit." kata Owen.

__ADS_1


"Tolong berhenti di toko obat sebentar, Pak. Ada yang mau saya beli." Pinta Aline.


Owen melihat toko obat dan menepikan mobilnya. Mobil pun berhenti dan tak lama Aline turun dan berjalan cepat masuk ke dalam toko obat. Tidak beberapa lama Aline keluar dengan membawa kantung belanja dalam pelukannya. Aline masuk ke dalam mobil dan mobil pun kembali melaju pergi.


Owen tidak bertanya apa yang dibeli Aline dan Aline pun tidak mengatakan apa-apa. Keduanya hanya saling diam sampai tujuan.


***


Aline diajak Owen masuk ke dalam rumah. Pelayan menyambut dan menceritakan detail apa yang terjadi. Owen dan Aline segera pergi menuju kamar Maximilian.


Pintu kamar dibuka, Owen dan Aline masuk ke dalam kamar diikuti pelayan. Melihat Aline datang, Maximilian langsung bangun dan menangis. Aline pun segera menghampiri Maximilian. Duduk di tepi tempat tidur dan memeluk Maximilian.


"Bibi ..." rengek Maximilian.


"Ya, sayang. Bibi di sini. Tidak apa-apa, jangan menangis, ya."  kata Aline.


Aline meraba pakaian yang dikenakan Maximilian basah. Dan melihat sprei juga dan batal Maximilian juga basah. Aline merasakan udara sejuk mengarah ke dingin.


Aline menatap pelayan rumah, "Apa tadi sebelum mendapat telepon, pendingin udara dinyalakan?" tanya Aline.


Pelayan rumah tersentak, "I-iya. Saya menyalakan karena Tuan muda terlihat tidak nyaman. Saya berpikir dengan ruangan yang sejuk Tuan muda akan ..." kata pelayan.


"Apa kamu bahkan tidak tahu, kalau dingin dan angin akan memperburuk keadaan orang yang demam? Kamu bahkan membiarkannya tidur dengan pakaian dan sprei yang basah. Apa-apaan ini? Pergilah! Aku yang akan mengurusnya." kata Aline kesal.


Owen bingung, kenapa Aline tiba-tiba kesal dan marah pada pelayan. Owen menatap pelayan dan meminta pelayan pergi. Pelayan pun pergi meninggalkan kamar Maximilian. Aline berdiri, langsung menggendong Owen ke sofa.


"Tunggu sebentar, ya. Bibi akan ganti pakaianmu dan juga ganti alas tempat tidurmu." kata Aline.


Tak leluasa bergerak karena ia mengenakan blazer, Aline pun melepas blazernya dan hanya mengenakan pakaian dalaman yang ketat dan mini. Owen kaget, saat melihat Aline yang hanya mengenakan pakaian seperti itu, karena pakaian yang dikenakan Aline sangat ketat dan sangat minim. Panjangnya saja sebatas dada dan memperlihatkan perut rata berotot milik Aline.

__ADS_1


"A-apa yang dia lakukan?" batin Owen dengan wajah memerah.


Aline menatap Owen, "Pak, maaf atas ketidaksopanan saya pada pelayan Anda. Saya akan jelaskan nanti, setelah saya mengganti pakaian Maximilian dan alas tempat tidur." Kata Aline.


__ADS_2