
Keesokan harinya ....
Nana datang bersama Victor menemui teman Victor yang berpura-pura menjadi pembeli saham milik Nana mewakili perusahaan. Ya, seseorang itu adalah Sekretaris pribadi Aline, yanki Gisella. Setelah bertegur sapa dan saling mengenalkan, Gisella kembali bertanya apakah Nana sungguh berniat menjual saham milik Nana pada perusahaan? Nana tanpa ragu mengiakan. Gisella menatap Victor dan meminta dokumen yang kemarin ia berikan (yang diberikan Aline di hari sebelumnya) Gisella sudah diminta Aline untuk berakting dan ia harus bisa menjalankan perannya dengan baik. Jadi, dalam transaksi jual-beli itu tidak boleh tersebut nama Aline apapun yang terjadi.
Giselle melihat Nana dan Victor sudah tanda tangan, lalu ia juga langsung tanda tangan dan menempelkan stempelnya. Giselle mengeluarkan satu dokumen tambahan dan meminta Nana tanda tangan. Itu adalah surat penyataan, jika memang Nana melakukan penjualan tanpa pemaksaan dan atas kehendak pribadi. Sehingga Nana tak akan menuntut apa-apa dikemudian hari terkait pemindahan kepemilikan saham. Nana segera menandatangani, dan Gisella pun langsung memberikan selembar cek pembayaran atas pemindahtanganan saham dari tangan Nana ke perusahaannya. Jumlah nominal sudah disepakati melalui telepon, sebelum Nana dan Victor datang menemui Gisella.
"Terima kasih, Nona." kata Gisella.
"Sama-sama," jawab Nana.
"Kalau tidak ada hal lain, saya pamit undur diri karena masih ada keperluan lain. Permisi," pamit Gisella.
"Oh, sikalakan. Kami juga akan pergi," kata Nana.
Gisella pun pergi, ia berjalan meninggalkan Caffe menuju parkiran. Nana dan Victor juga pergi. Mereka berjalan menuju parkir di depan toko dessert. Victor sengaja memarkir mobil Nana di depan toko dessert, karena Aline sedang menunggu di parkiran Caffe.
***
Di perkiran ....
Di dalam mobil Gisella. Aline duduk menunggu di bangku penumpang. Ia harap-harap cemas menunggu datangnya Gisella. Melihat Gisella keluar dari Caffe, Aline tampak senang. Beberapa saat kemudian Aline langsung menunduk, karena melihat Nana dan Victor. Ia tajut terlihat oleh Nana, karrna Nana sempat menatap ke arah mobil Gisella. Setelah Nana dan Victor pergi ke arah lain, barulah Aline bisa bernapas lega.
Gisella masuk ke dalam mobil. Ia langsung memberikan dua dokumen pada Aline. Itu adalah bukti pembayaran dan surat pernyataan yang sudah ditandatagani oleh Nana. Aline membuka satu persatu dokumen, lalu memeriksanya. Ia lantas tersenyum dan memuji kinerja Gisella.
__ADS_1
"Kerja bagus, Gisella. Nanti aku akan transfer bonusmu. Aku pergi dulu. Oh, ya ... terima kasih untuk bantuanmu." kata Aline tersenyum cerah.
"Sama-sama, Bu. Saya senang bisa membantu Anda." jawab Gisella.
Aline langsung membuka pintu dan turun dari mobil. Ia segera menghampiri mobilnya yang parkir persis di samping mobil Gisella. Ia membuka pintu mobilnya dan langsung masuk ke dalamnya. Aline meletakkan dokumen di samping tasnya di bangku sisi kemudi. Ia lantas menutup pintu. Aline mengambil ponsel, lalu segera mentransfer sejumlah uang pada Gisella. Aline mengirim pesan pada Gisella, ia mengucapkan terima kasih. Gisella langsung membalas pesan Aline. Gisella juga mengucapkan terima kasih.
Aline menatap ke luar kaca mobilnya, ia melihat mobil Gisella pergi meninggalkan parkiran. Aline segera mengenakan sabuk pengamannya dan menyalakan mesin mobilnya. Tiba-tiba ia mendapatkan panggilan dari Kakaknya, Alwin. Aline langsung mematikan mesin mobil, dan menerima panggilan dari Alwin.
Alwin bertanya, bagaimana perkembangan misi Aline mendapatkan cinta Pak duda? Aline baru sadar, jika sejal saat itu ia sama sekali tak pernah membahas apa-apa pada dua Kakaknya terkait taruhan. Padahal sejak hari pertama ia bekerja, ia sudah langsung mendapatkan hati Owen. Yang artinya sejak awal Aline sudah menang taruhan. Hanya saja ia memang belum memberitahu siapapun, baik itu Papanya atau dua Kakaknya.
Aline menjelaskan, jika semua berjalan lancar. Hubungannya dengan Owen baik, komunikasi mereka juga lancar. Tidak ada masalah apapun. Aline berkata, ia pasti akan memenangkan taruhan dan menikah dengan Owen. Ia meminta Kakaknya menyiapkan hadiah terbaik untuk pernikahannya nanti.
Alwin ragu, apakah ucapan Aline sungguhan atau hanya bualan. Pasalnya sudah sebulan berlalu, dan tidak ada kabar yang terdengar olehnya, Papa atau saudara kembarnya. Alwin bahkan meminta Aline berhenti, kalau memang sulit mendapatkan Owen. Jika memang Aline ingin cepat menikah, maka Alwin akan mencarikan pasangan yang setara dan jauh lebih baik dari Owen.
"Semua baik-baik saja, Kak. Jangan khawatir," kata Aline.
"Aku tidak bergurau, Aline. Berhenti saja kalau menurutmu mendapatkan pria itu sulit. Aku akan langsung membuka seleksi pencarian Adik ipar untukmu." kata Alwin.
"Tidak perlu. Pria yang ingin aku nikahi hanyalah Owen. Bukan pria lain," jawab Aline.
Aline menambahkan, jika ia harus segera pergi karena ia sedang di jalan. Aline kembali meminta Kakaknya tak berlebihan padanya. Ia bukanlah anak-anak lagi. Hanya saja Aline merasa senang dan berterima kasih karena Alwin sudah mencemaskannya. Alwin akhirnya mengalah. Ia mengiakan perkataan sang Adik, dan meminta Adiknya berhati-hati. Panggilan pun diakhiri oleh Aline, ia segera meletakkan ponsel di atas dokumen dan menyalakan mesin mobil. Ia mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan parkiran Caffe.
***
__ADS_1
Malam harinya ....
Selesai menidurkan Maximilian, Aline mendatangi Owen di ruang kerja. Aline membawa dua dokumen yang didapatkannya dari Gisella, juga dokumen yang diberikan Victor sehari sebelumnya. Ia berniat memberikan itu pada Owen.
Aline mengetuk pintu, lalu membuka pintu. Ia mengintip dan melihat Owen sedang fokus menatap komputer. Melihat kesayangannya sibuk bekerja, Aline segera masuk dan menutup pintu. Ia berjalan menghampiri Owen di meja kerjanya. Aline meletakkan dokumen yang dibawanya di atas meja, ia memeluk Owen dari belakang, lalu mencium pipi Owen.
"Belum selesai?" tanya Aline.
"Baru selesai. Max sudah tidur?" tanya Owen.
"Ya, sudah. Sayang, kalau sudah selesai kerja, boleh kita bicara?" tanya Aline.
Owen langsung memalingkan pandangannya kepada Aline. Ia bertanya, hal apa yang ingin Aline bicarakan? Aline mengetuk dokumen yang sebelumnya ia bawa dan ia letakkan di atas meja. Aline berkata, ia berhasil mengembalikan milik Owen yang hilang. Owe tak paham maksud Aline. Ia lantas mengambil satu dokumen dan dibukanya. Owen kaget, itu adalah dokumen kepemilikan saham milik Nana.
"Itu bukan lagi milik Nana," kata Aline.
Aline meminta Owen melihat dua dokumen lain yang dibawanya. Aline sudah membeli saham Nana dengan mengatasnamakan perusahaan. Itu ia lakukan agar bisa dengan mudah bertransaksi dengan Nana.
Owen mengabil satu lagi dokumen dan dibuka. Ia melihat bukti pemindahtanganan kepemilikam saham lengkap dengan tanda tangan pemilik saham, penjual dan pembeli. Dokumen terakhir, Owen melihat surat penyataan yang juga terdapat tanda tangan Nana. Owen bertanya bagaimana bisa Aline melakukan itu?
Aline tersenyum, "Jangan tanya bagaimana, bertanya saja apa aku mau menikah denganmu atau tidak?" kata Aline menggoda Owen.
Owen kegat, lalu tersenyum. Ia meraih tangan Aline, dan mencium bergantian kedua punggung tangan Aline. Owen mengikuti perkataan Aline, bertanya apakah ia mau menikah dengannya atau tidak? Aline menganggukkan kepala dan langsung memeluk Owen.
__ADS_1