
Baru kali ini aku merasakan debaran kembali setelah sekian lama tak merasakannya. ~Mario Sanoci~
****
Seorang pria berdiri tegak di dekat jendela yang menjadi pembatas antara dirinya dengan sosok pahlawan dalam hidupnya. Matanya menatap ke dalam ruangan yang terlihat begitu steril. Pandangannya terpaku pada tubuh sang Papa yang tergolek lemah tak berdaya di atas brankar.
Matanya berkaca-kaca, sungguh dia tak sanggup untuk menceritakan hal ini pada mamanya. Tapi jika ia menutupi terlalu lama maka yang ada dirinya akan membuat sang mama khawatir.
"Apa yang harus Mario lakukan, Pa?" ucapnya pelan menatap ke arah papanya. "Aku tak sanggup mengatakan pada mama kalau Papa sakit."
Mario menundukkan wajahnya karena merasa air mata yang menggenang di matanya sudah tak kuat untuk ia tahan. Tak lama bahunya berguncang menunjukkan betapa lemahnya dirinay sekarang.
Jangan karena seorang pria dia harus terus terlihat kuat. Terkadang akan ada masanya dimana seorang anak begitu lemah ketika melihat ayah atau ibunya sakit. Hal itulah yang saat ini Mario rasakan. Kedekatan dengan Papanya, mengetahui seluk beluk sikap nakal sang Papa namun tak pernah menyurutkan kasih sayang Mario untuk Sanoci.
Dia benar-benar sayang pada papanya itu. Melihat bagaimana sang adik menembak bahkan tubuh ayahnya yang bersimbah darah, membuat sekujur tubuh Rey lemah tak berdaya.
Dia tak kuasa untuk kehilangan sosok papanya sekarang. Jika boleh memilih, Mario juga ingin bertukar tempat. Biarlah dia yang merasakan segala sakit yang terpenting Papanya sehat walafiat.
Tak lama, tirai jendela ruang ICU mulai digeser. Pertanda jam untuk menjenguk pasien dari luar ruangan telah habis. Mario menghela nafas berat dan mulai melangkah meninggalkan ruangan papanya.
__ADS_1
Dia tak mau berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi mengingat bagaimana sang papa dulu begitu khawatir ketika dia jatuh dari sepeda. Bagaimana ketika dulu dirinya belajar bela diri. Perhatian dan kecemasan dalam diri Sanoci membuat Mario lemah tak berdaya.
Dia sudah begitu menyayangi papanya terlepas dengan apa yang dilakukan Sanoci dengan wanita di luaran sana. Dia tetap tak pernah merasa kecewa telah dilahirkan di tengah-tengah mereka.
Saat Mario berjalan dengan pikiran yang menyebar luas. Dari arah belakang terdapat seorang perempuan bergamis dengan masker yang menutupi wajahnya sedang berjalan tergopoh-gopoh.
Dia sepertinya terlihat tergesa-gesa hingga berjalan dengan secepatnya. Jarak keduanya yang mulai dekat. Membuat gadis yang wajahnya tidak diketahui itu tiba-tiba tersandung dan hampir meluncur ke depan.
Matanya terpejam dengan suara teriakan dan mempersiapkan diri mengingat dia sudah jatuh. Tapi, kenapa dia seperti ada yang menahan. Dengan cepat gadis itu membuka mata dan tanpa sadari kedua mata itu saling berpandangan.
"Astagfirullah." Dirinya tersadar dan segera menjauh dari tangkapan tangan Mario.
Dia berdiri dengan canggung dan menatap gamis yang ia pakai untuk menutupi rasa malunya. Jujur hal yang baru saja terjadi adalah hal pertama kali dia terlihat begitu intim dengan seorang pria selain kakak dan abinya.
Wajah mulus putih dengan rona merah di pipi. Lalu hidung mancung dan wajah blasteran arab membuat Mario terpesona. Bahkan tanpa dia sadari, gadis itu yang sedari tadi diam menjadi sedikit mendongak untuk melihat sedang apa pria itu.
Karena dirinya terburu-buru. Akhirnya wanita itu berdehem hingga membuat Mario tersentak kaget dan menggaruk kepalanya untuk menutupi rasa gugupnya.
"Saya minta maaf, Tuan. Tapi saya harus pergi sekarang," ucapnya sambil menunduk. "Assalamu'alaykum."
~Bersambung~
__ADS_1
Hayoo siapa eh siapa?
Maaf baru update yah. Aplikasi Noveltoon dari semalam eror. Jadinya upnya pada telat semua.
Semoga gak gangguan lagi. Aku update lagi nanti.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di ****)