Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Ada Apa Ini?


__ADS_3


Penyesalan itu datangnya di akhir. Oleh karena itu, sebelum melakukan suatu hal, lebih baik pikirkan terlebih dahulu akibat dan resikonya. ~Stevent Alexzandra~


****


Di dalam Ruang Kerja Rey.


Sejak kedatangan ketiga-nya di dalam ruangan. Tak ada satu orang pun yang bersuara. Baik Rey, Daddy Stevent ataupun Jack mereka hanya saling diam namun dengan tatapan mata tajam diarahkan pada Rey. 


Entah kenapa, pria itu merasa jika mertua dan asistennya itu ingin mengatakan sesuatu yang penting sehingga membuatnya begitu takut seperti ini. Rey hanya bisa menunduk sambil menunggu apa yang akan dikatakan oleh pria yang sudah dianggap sebagai ayahnya sendiri. 


"Apa kamu tak ada hal yang ingin dikatakan pada Daddy?" tanya Stevent dengan suara seperti terkesan menyindir pada menantunya itu.


Perlahan Rey mengangkat kepalanya dan menggeleng.


"Tidak ada, Dad." 


"Sungguh?" tanya Stevent lagi hingga membuat kening Rey berkerut.


"Iya, Dad. Aku serius." 


"Jack!" seru Stevent dengan kemarahan tertahan.


Pria itu ingin sekali langsung menonjok wajah menantunya saat tadi dia mendapatkan kabar dari tangan kanannya ini. Baik Jack ataupun Stevent bukanlah orang yang diam dan menerima semuanya.


Apapun yang terjadi, dua pria berbeda usia itu selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan anggota keluarganya. Maka jangan salahkan pasukan Alexzandra, jika mereka selalu tahu apapun yang mengusik keluarganya dan berencana menghancurkan mereka. 


Jack menatap tajam pria yang berstatus sebagai suami dari wanita yang dulu dia cintai. Segera ia mengambil amplop coklat dari tasnya dan melempar dihadapan Rey hingga terjatuh di pangkuan pria itu.


"Buka! Dan beri alasan pada Tuan Besar apa maksud itu semua," ucap Jack dingin dengan sorot mata tajam. 


Tanpa bertanya lagi, segera Rey membuka amplop coklat itu dan mengeluarkan isinya ke atas meja. Matanya terbelalak lebar dengan jantung berdegup kencang. Semua hal dari pelukan pertama hingga kejadian di Restaurant kedua kalinya semua ada disana. 


Rey menelan salivanya. Bukan dia takut pada mertuanya ataupun Jack. Melainkan dia takut jika alasannya ini tak diterima dan membuat dia berpisah dengan Jessica.


"Ada yang ingin kamu jelaskan? Atau ini hanya settingan begitu?" tanya Stevent dengan kemarahan yang mengumpul.

__ADS_1


Dimanapun, seorang ayah akan merasakan sakit hati dan marah jika tahu anaknya akan disakiti seperti ini. Lelaki pertama yang akan menjaga dan mempertahan kan kebahagiaan puterinya adalah ayahnya sendiri. Hanya Stevent lah yang akan menjaga Jessica jika memang benar Rey berniat menyakitinya 


"Aku bisa menjelaskan semuanya, Dad," ucap Rey tegas menatap kedua lelaki yang duduk di depannya.


Stevent hanya diam. Tapi matanya tetap menatap tajam akan gerak-gerik menantunya itu. Sesungguhnya dia sudah tahu semuanya dari mata-mata pasukan Alexzandra. Jangan lupakan, jika kekuatan dari Stevent sungguhlah besar dan dengan mudah dia bisa mendapatkan semuanya. Tapi kembali lagi, dia hanya ingin mendengar kejujuran dari bibir Rey langsung untuk mengetahui kebenarannya.


Hingga perlahan, Rey menceritakan semuanya sejak awal. Dari mamanya yang mengatakan untuk menemui temannya sebagai rekan kerja. Lalu ternyata rekan kerjanya itu yang tak lain ayah dari Marlena. Lalu sikap gadis itu sejak awal hingga kejadian terakhir kemarin yang sempat dilupakan karena kebahagiaan atas kehamilan istrinya itu. 


"Aku beneran tak ada niatan untuk menyakiti istriku, Dad. Tapi aku takut Jessica akan lebih percaya pada Marlena daripada aku," ucap Rey setelah menjelaskan semuanya dan kenapa dia menutupinya dari Jessica.


Stevent menghela nafas berat. Sebenarnya sudah dari dulu tahu siapa Marlena sebenarnya. Bahkan saat gadis itu berteman dengan putrinya, dia begitu tenang namun tetap para pengawal mampu melihat gerak-gerik keduanya. Sebuah kekuasaan dan harta mampu membutakan seseorang. Jika mereka terlena maka akan seperti Sanoci dan Marlena.


Melakukan semuanya untuk kebahagiaannya sendiri dan melakukan segala hal untuk merebutnya dari tangan orang lain. Tapi untuk sekarang, jangan harap dia kan diam saja. Ini menyangkut suami dari puterinya sendiri. Menyangkut ayah dari cucu pertamanya. Apapun itu pasti dirinya akan melakukan hal apapun. 


"Tapi yang kamu lakukan itu salah Rey. Bagaimana jika musuh memanfaatkan keadaan ini? Apalagi saat ini istrimu sedang hamil," nasihat Stevent hingga membuat Rey tertegun.


Dia merasa ada yang mencelos di hatinya. Kenapa ia tak berpikiran sampai sini. Kenapa dia melupakan hal itu. Melupakan jika sesuatu yang dilakukan secara sembunyi, suatu hari nanti akan menjadi malapetaka untuknya sendiri.


Seketika Rey hanya bisa menunduk dan meremas rambutnya karena merasa bodoh dan bingung jika semua dianggap salah paham oleh istri tercinta.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Dad?" tanya Rey menatap Stevent penuh harap.


Rey mengangguk. Dia merasa menyesal dan bersalah. Benar memang apa yang dikatakan mertuanya ini. Kenapa dirinya berpikiran jelek dulu sebelum mencoba. Jika begini dia sudah mengalami rasa takut yang mendera hingga membuat Rey hanya bisa diam.


Saat keadaan sunyi, tiba-tiba suara ponsel menyadarkan ketiganya. Jack yang merasa getaran itu dari saku celananya. Segera dia merogoh dan mengambilnya.


Matanya memicing ketika melihat jika anak buahnya yang menelpon. Tanpa kata segera dia mengangkatnya dan meletakkan di telinga nya.


Pendengarannya begitu tajam hingga tiba-tiba raut wajah tegang dan panik membuat Stevent ataupun Rey saling pandang.


"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, hah?" seru Jack dengan amarah besar dan tanpa kata segera mematikan sambungan telepon itu.


Dia beranjak berdiri dan gemetaran hingga membuat kedua pria itu bingung dan dipenuhi tanda tanya.


"Ada apa, Jack?" tanya Stevent yang ikut berdiri dan mengguncang bahu lelaki yang sudah dianggap anak olehnya.


"Jessi, Tuan. Jessi…," 

__ADS_1


Saat Jack hendak bersuara lagi. Suara teriakan dari depan ruang kerja Rey membuat ketiganya segera berjalan tergesa dan membuka pintu.


"Ada apa ini?" tanya Rey yang melihat para pelayannya kalang kabut.


"Itu, Tuan. Nona muda pingsan."


Deg.


Jantung Rey terasa cepat berdebar. Dia mendadak linglung dan hanya berdiri mematung. Kata yang ada dalam otaknya hanya Nona Muda pingsan. 


Kata itu berputar terus hingga membuat separuh jiwanya ikut melemah. Namun, merasakan remasan kuat di pundaknya membuat wajah Rey yang pucat segera menoleh. 


"Semangat, Nak. Kuatlah demi anak dan istrimu. Musuhmu kali ini adalah orang yang obsesi denganmu," ucap Stevent menatap mata menantunya dengan keyakinan yang besar. 


Sudah tak ada lagi keraguan apapun dari Stevent untuk Rey. Sejak awal, pria itu bisa melihat bagaimana sikap Rey yang kuat, tegar dan penurut. Dia juga melakukan hal tentang pemisahan dengan putrinya hanya untuk mengetes pria itu saja. Tapi dalam hati Stevent meyakini jika Rey akan berhasil membangun perusahaannya lagi. 


Lalu sekarang. Masalah ini sudah membesar hingga menarik putrinya kelingkaran ini. Tapi tetap saja, keyakinan hati seorang ayah itu tetap teguh jika Rey adalah orang yang tepat dan bisa menyelesaikan semua masalah. 


~Bersambung~


Kenapa harua begini hiks hiks.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di ****)



__ADS_2