Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Tuhan Kita Berbeda


__ADS_3


Jangan pernah kau ambil dia dari Tuhannya begitupun denganku. Jangan kau ambil aku dari Tuhanku. ~Mario Sanoci~


****


Baru saja pintu itu tertutup. Tiba-tiba perlahan terbuka kembali hingga membuat Bima yang hendak terpejam akhirnya membuka mata lagi.


"Aku kira siapa," ucapnya membuat Haura yang penasaran pun menoleh.


Seketika kedua mata itu saling memandang. Tatapan terkejut jelas terlihat dari kedua mata mereka. Tapi buru-buru Haura memutus pandangan dan beristighfar dalam hati. Dia hampir saja terpesona akan ketampanan makhluk ciptaan Tuhan yang seharusnya tak boleh ia lihat.


Tapi tetap saja. Namanya setan akan mencuri waktu dimana agar setiap manusia melakukan segala celah dosa meski setitik darah tapi dilakukan. Maka dari itu gadis itu langsung memalingkan wajahnya dan memohon ampun dalam hati. 


Sedangkan Mario. Pria itu mematung di tempat sambil menatap gadis yang mengusik pikirannya sejak tadi. Sungguh benar-benar godaan pria yang utama adalah paras cantik seorang wanita. Hal itu yang dialami Mario saat ini.


"Kenapa kau diam saja, Kak?" tanya Jessica heran. 


Dia tak melihat bagaimana ekspresi Haura disampingnya karena Jessica terfokus menatap Mario yang mematung.


Menetralkan degup jantung dan kegugupannya. Mario segera berjalan dan duduk ditempat yang tadi diduduki Jack. 


"Ah ya kenalkan, Kak. Ini Haura," ujar ya mengenalkan, "dan ini Kak Mario namanya, Ra." 


Haura menunduk dan melipat tangannya di depan dada pertanda dia memberikan salam. 


"Haura."


"Mario." 


Dari sinilah nanti akan ada jalan cerita baru di antara mereka yang akan terjadi seperti takdir Tuhan. Sebuah pertemuan tak sengaja dan menjadi sebuah awal untuk pertemuan selanjutnya hingga takdir yang akan menuntun mereka nanti. 


"Bagaimana keadaan, Papa?" tanya Jessica penasaran.


Mendadak pertanyaan Jessi membuat raut wajah Mario yang sempat bersinar berubah murung. Pria itu menunduk dan membuat gadis yang sedang hamil itu merasa bersalah. Dia menyadari jika pertanyaannya pasti menyakiti hati kakak dari sahabatnya itu. 


"Maafkan aku, Kak. Tidak perlu dijawab kalau Kakak gak sanggup," ucapnya tak enak hati.


Mario menghela nafas berat dan mendongakkan wajahnya untuk menatap gadis yang sempat mencuri hatinya itu.

__ADS_1


"Keadaan Papa masih sama." 


Jawaban Mario semakin membuat rasa bersalahnya semakin menguat. Jessica sudah tahu apa yang terjadi pada Sanoci. Kenapa pria itu bisa ditembak lalu bersimbah darah dan lemah seperti ini. Semua itu terjadi karena untuk menyelamatkan Daddynya.


Ia berhutang nyawa pada Papa Sanoci. Jessica juga sudah bertekad akan meminta maaf dan mengucapkan banyak terima kasih untuk papa dari sahabatnya itu.


"Jangan merasa bersalah, Jess. Ini sudah takdir Tuhan."


Haura hanya menjadi pendengar. Dia juga bingung dan tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Memang untuk kejadian ini Jessi belum menceritakan pada Haura karena waktunya memang tak ada. 


Percakapan mereka berhenti saat mendengar salah satu bunyi ponsel yang membuat semua orang menatap ke arah asal suara. Ternyata itu adalah milik Harua dan buru-buru gadis itu mengangkatnya ketika melihat nama abinya disana.


"Assalamualaikum, Abi," ucapnya lembut sambil menerbitkan sebuah senyuman.


"Waalaikumsalam, Nak. Apakah Haura sudah sampai?" 


"Ya, Abi. Haura sudah ada di rumah sakit. Ada apa?" 


"Alhamdulillah ya sudah. Cepat pulang." 


"Iya, Abi."


"Ada apa, Ra?" 


"Abi hanya tanya apakah aku sudah sampai."


"Ohh aku kira apa." 


Haura kembali berbicara dengan Rey dan Jessi dan melirik Mario dari ekor matanya. Dia merasa jika ada seseorang yang sedang menatapnya dan benar saja.


Mario, pria yang menatapnya sejak tadi tanpa berkedip. Bahkan pria itu sudah dengan posisi yang pas di depannya dan entah kenapa membuat Haura tak nyaman. 


Menelan ludahnya paksa. Haura memilih mencari alasan untuk keluar dari ruangan ini meski hanya sebentar. Karena berada dalam ruangan orang yang tadi dia tabrak sungguh begitu menyesakkan dadanya. 


"Aku keluar sebentar ya, Jess," pamit Haura sambil beranjak.


"Mau kemana?" tanya Jessi.


"Beli cemilan."

__ADS_1


"Aku ikut," pintanya menatap Haura penuh harap.


"Boleh. Tapi pamit dulu sama suami." 


Dengan cepat Jessica berpamitan pada sang suami dan diizinkan. Pandangan Mario terus tertuju pada dua wanita itu hingga hilang dari balik pintu ruang rawat Daddy Stevent.


"Siapa dia?" tanya Mario tiba-tiba membuat Rey yang hendak tertidur jadi bangun.


Rey terdiam. Namun melihat penglihatan Mario pada tempat duduk yang tadi diduduki oleh Haura membuatnya mengerti. 


"Dia Haura. Adik dari Pangeran Khali dari Brunei."


Mario mengangguk. Pantas saja wajahnya terdapat perpaduan arab yang menambah kesan cantiknya. Entah sejak kapan tapi pria itu menyadari jika sejak tadi wajah Haura memenuhi kepalanya. 


"Cantik," ucapnya dalam hati sambil tersenyum, "tapi sayang, Tuhan kita berbeda." 


~Bersambung~


Nah kan kan


niJANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)


__ADS_1


__ADS_2