Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
MCDT (16)


__ADS_3

Aline membuka lemari pakaian Maximilian dan mencari pakaian dengan bahan yang nyaman dikenakan. Tidak terlalu tebal, tidak juga terlalu tipis. Ia mengeluarkan kaus berlengan pendek dan celana panjang juga mengambil kaus kaki.


Aline berjalan mendekati Maximilian. Ia bertanya, apa Maximilian bisa ke kamar mandi? karena ia akan menyeka tubuh Maximilian. Owen mendekat dan menawarkan bantuan. Aline mengiakan, meminta Owen menggendong Maximilian ke kamar mandi.


Owen langsung menanggalkan jas dan dasinya. Ia membuka kancing lengan kemeja, lalu menyingsingkan lengan. Owen menggendong Maximilian ke kamar mandi, Aline mengikuti keduanya ke kamar mandi.


Di kamar mandi. Aline meminta Owen mendudukan Maximilian meja di dekat wastafel. Aline segera membuka pakaian Maximilian dan menyeka tubuh Maximilian dengan handuk hangat.


Maximiliam menatap Aline, "Apa Bibi sedang marah?" tanya Maximilian.


"Marah pada siapa? Bibi tidak marah," jawab Aline.


Aline lagsung menghentikan menyeka tubuh Maximilian dan menatap Maximilian. Ia pun bertanya, apa maksud Maximilian adalah soal ia memarahi pelayan? dan Maximilian pun menganggukkan kepala. Aline lantas menjelaskan, kalau ia tidak marah. Hanya emosi sesaat karena khawatir pada Maximilian.


"Bibi lihat pakian dan alas kasurmu basah dan pelayan itu kenapa diam saja tidak menggantinya? karena itu Bibi tadi memarahinya, agar dia tahu letak kesalahannya." jelas Aline lagi.


"Ah, begitu. Aku kira Bibi marah karena apa. Aku terkejut," jawab Maximilian.


Aline tersenyum mengusap kepala Maximilian, ia lantas meminta maaf pada Maximilian kalau sikap dan kata-katanya membuat Maximilian takut dan salah sangka. Aline selesai membasuh seluruh tubuh dan mengenakan kimono handuk, meminta Maximilian menyikat gigi, lalu membasuh wajah. Aline melihat Maximilian mengikuti perintahnya dan menggosok gigi. Aline membenarkan gerakan Maximilian dalam menggosok gigi, menjelaskan dengan sabar dan membuat Maximilian mengerti. Maximilian langsung mempraktekkan apa yang diajarkan Aline. Aline tersenyum memuji Maximilian.


Jauh di belakang Owen mengamati. Ia melihat Aline dan putranya tampak begitu akrab. Ia melihat aline dan Maximilian bercanda, sampai-sampai celana yang dikenakan Aline basah.


"Ah, maaf, Bibi ... aku tidak sengaja." kata Maximilian.


"Tidak apa-apa. Ini kan hanya air. Nanti juga kering sendiri. Ayo, ganti pakaianmu." kata Aline.


Aline membuka kimono handuk yang dikenakan Maximilian dan menyeka seluruh tubuh Maximilian dengan handuk kering. Aline langsung memakaikan pakaian pakaian dalam Maximilian dan memakaian stelan pakaian yang tadi diambilnya.


"Selesai ..." kata Aline tersenyum.

__ADS_1


"Yeahhh ... " sahut Maximilian tersenyum senang.


"Apa terasa segar?" tanya Aline.


"Ya, rasanya nyaman. Tidak seperti tadi," kata Maximilian.


Aline menatap Owen. Owen langsung bertanya apakah ia harus menggendong Maximilian lagi? Maximilian menolak, ia ingin jalan sendiri keluar dari kamar mandi.


Owen menatap Aline, "Kamu ... apa tidak sebaiknya ganti pakaian? aku akan minta Hans membelikan pakaian baru untumu," kata Owen.


"Sepertinya saya akan mati kedinginan kalau harus menunggu Hans membeli pakaian. Apa Anda tidak punya pakaian baru yang bisa saya pinjam? Kaus atau kemeja? saya akan belikan Anda dengan yang baru nanti." kata Aline.


"Kamu mau pakai pakianku?" tanya Owen.


"Memangnya kenapa, Pak? Bukankah saya bertanya untuk Anda meminjamkan kepada saya pakaian baru. Semisal tidak ada yabg baru dan Anda mau meminjamkan pakaian lain juga tidak apa-apa." kata Aline.


"Mm, ok. Aku akan ambilkan dulu." kata Owen. Yang langsung pergi meninggalka kamar Maximilian.


"Kenapa, Bi?" tanya Maximilian mendekati Aline.


"Oh, ini ... kasurnya basah. Karena seperti ini harus dikeringkan dulu. Sampai kasurnya kering, kamu tidak bisa memakainya. Bagaimana, ya?" kata Aline menjawab pertanyaam Maximilian.


"Max bisa tidur di kamarku. Atau di kamar tamu," sahut Owen yang tiba-tiba masuk.


Owen mendekat dan memberikan kemajanya pada Aline. Ia meminta Aline untuk segera ganti. Aline menerima, ia segera pergi ke kamar mandi untuk ganti pakaian.


Setelau ganti Aline pun keluar. Owen tercengang melihat Aline yang tampak cantik dan seksi mengenakan kemejanya. Wajah Owen langsung memerah.


"Untung saja aku memberikan kemeja warna hitam, bukan putih. Kalau putih pasti terlihat, kan?" batin Owen dengan pikirannya.

__ADS_1


"Max, kamu lapar, kan? ayo, Bibi akan membuatkanmu bubur dan kamu harus minum obat." kata Aline.


"Ya, Bi. Ayo ... " sahut Maximilian  semangat.


Aline menatap Owen malu-malu, "Itu, Pak. Terima kasih kemejanya. Saya akan belikan yang baru besok." Kata Aline.


Aline membawa pakaiannya dan menggandeng tangan Maximilian keluar dari kamar. Aline berjalan melewati Owen, rambutnya yang terurai menyebarkan aroma harum yang tercium oleh Owen.


Owen terdiam sesaat. Ia berpikir apa yang sedang ia lakukan? bisa-bisanya ia tergoda dan meminjamkan pakaiannnya. Meski itu adalah pakaian baru yang  belum pernah dipakainya, tetap saja terasa aneh. Owen segera keluar, ia mengikuti Aline dan Maximilian.


***


Di ruang tengah ....


Aline meminta tolong pada seorag pelayan untuk mengeringka kasur dan bantal menggunakan pengering rambut dan memasang alas kasur yang baru. Pelayan itu langsung mengerjakan apa yang diperintahkan Aline.


Aline melihat pelan yang tadi kena marah olehnya. Ia pun memanggil pelayan itu untuk mendekat.


"Ya, Nyonya ... " jawab pelayan itu.


Aline kaget saat pelayan itu memanggilnya Nyonya. Aline tidak peduli dan mengalihkan topik, ia bertanya apakah ada nasi? dan pelayan itu menjawab ada. Menawarkan apakah ingin disiapkan? Aline mengiakan dan meminta disiapkan sebanyak satu mangkuk kecil saja. Pelayan itu mengiakan, berbalik dan hendak pergi.


"Tunggu sebentar ... " kata Aline mencegah pelayan itu pergi.


"Ya?" jawab pelayan itu takut. Ia takut akan ken marah lagi.


"Maaf, soal yang tadi. Aku hanya terkejut, karena tahu pakaian Maximilian dan kasurnya basah, tapi tidak diganti. Mungkin kamu sudah membenciku yang sudah memarahimu, padahal aku bukanlah siapa-siapa di sini. Akan tetapi aku seperti ini agar kamu tahu dan mengerti letak kesalahanmu. Sekali lagi maaf," ucap Aline.


Pelayan itu kaget. Ia meminta Aline untuk tidak perlu bersikap sopan. Pelayan itu juga langsung meminta maaf. Ia mengaku ia belum berpengalaman, dan tidak tahu apa-apa soal mengurus anak dan semacamnya. Aline mengerti, ia tesenyum canti dan berterima kasih karena pelayan itu mau jujur mengakui kesalahan.

__ADS_1


Owen lagi-lagi dibuat takjub oleh Aline. Owen sampai berpikir, bagaimana bisa ada orang seperti Aline yang bisa mengambil hati orang lain dengan begitu mudah semudah membalikka halaman buku? Padahal jelas terlihat olehnya, kalau pelayan itu langsung ketakutan dan memasang wajah murung. Sekarang pelayan itu terlihat tersenyum bahkan wajahnya tampak baik-baik saja.


Aline berjalan menuju dapur. Ia menggandeng Maximilian ikut bersamanya dan mendudukan Maximilian di kursi dekat meja dapur. Ia membuka lemari pendingin, memeriksa isinya dan mengeluarkan bahan yang akan ia gunakam memasak.


__ADS_2