
Sebuah hubungan pasti butuh perjuangan dan pengorbanan untuk mencapai titik bahagia. Itulah yang saat ini aku usahakan. Semuanya aku kerjakan hanya untuk kebahagiaan kita berdua. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Baru saja dia mendapatkan kabar jika Bu Lidya akan bekerja kembali untuk sementara. Namun, sekarang dia mendadak tak bisa bernafas karena permintaan lelaki di depannya sungguh diluar dugaan.
Apa yang dikatakannya barusan? Memintanya untuk ikut menemui klien? Yang benar saja. Amanda hanya seorang sekretaris Direktur Keuangan. Lalu kenapa harus dirinya yang diajak.
Namun, melihat tatapan Bima yang tak bisa diganggu gugat akhirnya dia hanya bisa mengangguk dengan pasrah.
"Baiklah, Tuan."
"Siapkan tas kamu dan tunggu saya di parkiran!" titahnya lagi.
Amanda tak mengatakan apapun lagi. Dirinya segera keluar dari ruangan yang sudah membuatnya selalu lupa diri disertai banyak tekanan. Ingin rasanya dia mencekik pria itu, tetapi mengingat hatinya sudah terpaut dengannya. Membuat Amanda selalu menepis rasa kesalnya.
"Astagfirullah. Bu Lidya," panggil Amanda bahagia.
Segera dia mendekati wanita itu dan memberikan salam serta pelukan wanita menandakan dia bahagia dan menerima kehadiran mantan bosnya itu.
"Akhirnya Ibu disini lagi," ujarnya senang.
Bu Lidya mengangguk, "Tuan Bima ngabarin saya. Katanya Jessica sedang ada urusan. Jadinya untuk sementara saya yang akan menggantikannya."
"Kata beliau begitu?" tanya Amanda tak percaya.
Bu Lidya mengangguk, "kenapa, Man?"
"Saya dari kemarin telpon Jessica tapi gak nyambung, Bu."
"Mungkin sibuk."
"Iya mungkin, Bu."
"Ya sudah, sana kembali ke tempat kerja kamu."
"Ya Tuhan." Amanda menepuk jidatnya. Dia buru-buru keluar dari ruangan Bu Lidya dan membereskan semuanya. Setelah dirasa semua sudah di bawa, dia segera berjalan meninggalkan meja kerjanya.
Dari jauh, Amanda sudah bisa melihat Bima berdiri di sebelah mobilnya dengan tatapan marah. Dirinya sudah tahu betul jika karena dia sendiri, Bima menjadi seperti itu.
"Saya sudah bilang langsung ke parkiran. Tapi ini apa?" sentak Bima menggelegar.
Suara bentakan dan dinginnya ini mampu menghunus detak jantungnya. Menelan ludahnya paksa, dengan sedikit gemetaran. Dia memberanikan diri membungkukkan badannya sedikit.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Tadi masih ada Bu Lidya di ruangannya."
"Cepet masuk!" Bima segera masuk terlebih dahulu meninggalkan Amanda yang bingung akan sikap pria itu.
Namun, dia tak mau membuat Bima marah kembali. Segera Amanda masuk dan memakai seatbelt yang sudah membalut tubuh bagian depannya. Tak lama, mobil mulai melaju membelah jalanan menuju tempat meeting yang sudah direncanakan oleh lelaki di sampingnya.
Amanda lebih memilih menikmati indahnya jalanan yang mulai dipenuhi banyaknya mobil dan kendaraan roda dua. Inilah yang selalu dia lakukan jika sedang naik mobil. Menatap pohon yang bergerak, tiang rambu yang bergerak serta garis pinggir jalan yang bergerak cepat. Padahal jika dilihat ya memang mobil dialah yang bergerak.
Sedangkan Bima? Lelaki itu sedari tadi melirik apa yang dilakukan oleh Amanda. Sungguh detak jantungnya beradu kencang. Dia juga tak tahu kenapa mulutnya bisa dengan lancang mengatakan untuk menemaninya bertenu klien. Sampai-sampai Bima harus meminta anak buahnya menggantikan Amanda di meja kerjanya.
"Apa yang gadis itu pandang? Apakah jalanan lebih menarik dariku?" gerutunya yang sedikit keras membuat Amanda terusik dan menoleh.
"Tuan ada apa?"
"Nothing."
"Kenapa dia jadi dingin makin dingin?" gumam Amanda dalma hati.
Akhirnya dia hanya bisa mengedikkan bahunya dan kembali menatap jalanan. Tak memedulikan lelaki yang juga merasa kesal karena menurutnya, Amanda tak peka sekali dan tak mengajaknya mengobrol atau apapun.
****
Di belahan bumi yang lain, lebih tepatnya Las Vegas.
Genggaman tangan mereka saling menguat disertai senyuman indah dari bibir keduanya yang menandakan bahwa mereka sedang berbahagia. Sungguh, perjuangan sekali sata tadi mereka harus menyelinap agar bisa keluar dari rumah sang nenek.
Namun, kepandaian Maria jangan pernah diragukan. Wanita paruh baya itu begitu ikut andil dengan rencana sang cucu yang sangat ingin mengajak sang kekasih di daerah kelahirannya dulu. Akhirnya, setelah perjuangannya tadi, mereka berdua bisa berada disini.
Tak henti-hentinya Jessica mengabadikan momen indah ini dengan kamera yang menggantung di lehernya. Keduanya asyik berfoto bersama bahkan sampai berfoto bergantian. Tak ada kebahagiaan yang ingin mereka rasakan kecuali keduanya bisa bersama seperti ini.
"Kamu, lelah?" tanya Rey menatap wajah sang kekasih di depannya.
Jessica menggeleng, "aku lapar."
"Baiklah. Ayo!" Rey mengulurkan tangannya dan disambut dengan cepat oleh sang kekasih.
Mereka menatap kanan dan kirinya mencari restoran yang terdapat label halalnya juga. "Apa kau lupa, Sayang?" tanya Rey pada Jessica.
Sungguh gadis itu lupa dimana tempat makanan yang biasa dibeli dengan sang papa. Wajar saja, hampir berapa tahun dia tak kemari dan baru kali ini dia kembali menikmati The Promenade bersama sang terkasih.
"Oh itu!" tunjuknya pada sebuah restoran berwarna coklat.
Kedua orang itu saling menampilkan senyuman terbaik dan segera menuju tempat yang sudah mereka pilih itu. Tak butuh waktu lama, Rey dan Jessica segera memilih tempat duduk di bagian dekat jendela. Beberapa menit kemudian, pelayan datang dan memberikan buku menu pada pelanggannya itu.
Segera tanpa lama keduanya memilih dan dicatat dengan cepat oleh seorang wanita memakai pakaian seragam pelayan restoran itu. Sepeninggal pelayan, Rey menatap keluar jendela. Baru kali ini dia datang jauh-jauh hanya untuk mengejar cintanya.
__ADS_1
Melepaskan segala tanggung jawab dan melupakan bahwa dia seorang CEO untuk sementara. Biarlah, saat ini waktunya khusus gadis di depannya itu.
Merasakan elusan di punggung tangannya, membuat rey mengalihkan tatapannya dan tersenyum.
"Mikirin apa?" tanya Jessica penasaran.
Sejak tadi dia ingin sekali bertanya. Namun, melihat wajah Rey yang datang sambil menatap kosong ke depan membuatnya mengira apakah kekasihnya ini menyesal telah datang kesini.
Rey hanya diam, hingga membuat Jessica semakin kalut akan pertanyaan dan pemikiran yang jatuh ke buruk sangka di hatinya. "Apa kamu menyesal sudah datang kesini?"
Rey menajamkan matanya dan mengepalkan kedua tangan. Nafasnya srdikit memburu. Namun, dia menahan agar amarah tak membludak dan menguasai dirinya.
"Apa aku seburuk itu di matamu?" tanya Rey dengan mata tajamnya.
"Bukan begitu." Jesis menggeleng.
"Lalu?"
"Aku takut kamu menyesal karena sedari tadi kamu cuma diam," sahut Jessica dengan menunduk.
Bukankah wajar dia merasa takut dengan pemikirannya? Siapa lelaki yang mau jauh-jauh mengejar wanita hanya untuk meminta restu? Apalagi jarak negara dan banyaknya uang yang dikeluarkan sudah tak terhitung. Tapi apa daya? Rey tak membutuhkan semua itu saat ini. Dia hanya ingin mengejar cinta dan restu dari seorang Stevent Alexzandra. Dirinya sudah bertekad untuk tidak kalah kembali untuk urusan percintaan.
Biarlah dia harus berusaha mati-matian. Berjuang serta berkorban untuk saat ini. Namun, Rey selalu berdoa semoga apa yang dia lakukan membuahkan hasil yang maksimal.
Rey tersenyum. Dia mengambil tangan Jessica dan menggenggamnya.
"Saat ini tujuanku hanya kamu. Aku datang ke sini untuk memperjuangkan hubungan kita berdua. Karena apapun yang terjadi? Aku tak akan melepaskanmu sampai kapan pun."
~Bersambung~
Hahaha hayoo mau pilih pasangan mana?
Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.
Mampir diceritaku yang lain.
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1