Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Go to Indonesia


__ADS_3


Aku hanya minta satu kesempatan saja, Tuhan. Tolong berilah waktu yang cukup untukku membahagiakan Daddy dan membuatnya senang di masa tuanya. ~Jessica Caroline~


****


"No, Daddy." Tiba-tiba suara Jessi dari arah pintu terdengar. Gadis itu masuk sambil menggelengkan kepalanya pertanda tak setuju dengan permintaan sang Daddy. 


Kedua pria itu juga terkesiap. Bagaimana bisa Jessica langsung menyerobot dan masuk ke dalam. Ternyata, gadis itu memang sengaja menunggu dan mendengarkan obrolan kedua pria yang begitu dia sayangi itu.


Firasatnya memang sedikit tak enak. Maka dia sengaja menguping untuk kali pertama di hidupnya ini. Tentu benar bukan, bahwa akan ada ketidakberesan dibalik pembicaraan keduanya secara empat mata.


"Ikutlah dengan Rey, Princess. Bukankah kau ingin segera menikah?" tanya Stevent menatap anaknya penuh sayang.


Dirinya tak menyangka jika sang putri sudah tumbuh besar dan akan meninggalkannya. Stevent merasa jika baru kemarin dirinya menggendong Jessica kecil di pelukannya. Lalu sekarang? Sebentar lagi dirinya juga akan mengantar anak gadisnya itu berjalan menuju altar pernikahan.


"No, Dad. Aku tak mau. Aku ingin menjaga Daddy disini." Jessica duduk di samping Stevent dan memeluk tubuhnya dengan erat.


"Ikut lah, Nak! Biarlah kalian meminta restu pada calon mertuamu."


Jessica tetap menggeleng. Dia tak mau menyesal kedua kalinya dengan meninggalkan ayahnya seorang diri. Jujur saja dirinya takut. Takut ditinggalkan selama-lamanya di saat mereka berjauhan. Jessica takut jika memang benar ayahnya tak bisa menemaninya hingga masa tua. Lalu gadis itu juga, belum sanggup untuk kehilangan sosok orang yang dia sayang kedua kalinya.


"Jika Daddy memintaku ikut, berarti Daddy juga harus ikut ke Indonesia."


"Itu tidak mungkin, Princess. Daddy seperti ini." 


Jessica menatap Rey. Dia menampilkan ekspresi pengharapan agar sang kekasih mampu menyetujui permintaannya. Rey yang melihatnya pun mengerti makna tersirat yang disampaikan oleh sang kekasih.


"Bisa, Dad. Aku akan menyiapkan semuanya agar Daddy bisa ikut." Rey akhirnya bersuara. 


"Ya, kita akan menggunakan pesawat pribadi Daddy, okey?" tanya Jessica bahagia. 


Dirinya tak tahu apa yang akan dilakukan oleh Rey. Namun, Jessica sudah mempercayakan semuanya pada sang kekasih. Dia percaya betul jika pria yang dia cintai akan melakukan yang terbaik agar ayahnya bisa ikut ke Indonesia. 


****


Sebuah pesawat sudah terparkir indah di landasan pribadi Keluarga Alexzandra. Semua orang terlihat berlalu lalang menyiapkan apa yang diperintahkan oleh sang majikan.


Begitupun di dalam rumah, banyak Dokter dan perawat yang sudah diminta oleh Rey untuk menjadi Dokter pribadi calon mertuanya ini.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anda, Tuan?" tanya pria paruh baya yang memakai jas putih.


"Keadaanku sungguh jauh lebih sehat, Dokter." 


"Syukurlah. Kehadiran putri anda membuat anda tampak sangat bahagia," sahut Dokter itu dengan senyuman. 


Dirinyalah  memeriksa dan menjadi Dokter yang sudah dipercayakan untuk merawat Stevent Alexzandra selama ini. Beliaulah yang menjaga orang terkaya di negara New York itu dengan baik. Maka dari itu, jangan tanyakan berapa gaji yang sudah disiapkan oleh Rey dan Jessica saat ini. Mereka berani membayar dengan gaji besar hanya untuk keselamatan Daddynya seorang.


Jika di kamar Stevent sedang melakukan pengecekan kesehatan. Berbeda dengan di dalam kamar yang dihuni sepasang kekasih ini. 


Rey menemani sang kekasih merapikan barang bawaan yang akan dia bawa. Dia melihat Jessica yang berlalu lalang memasukkan pakaian dan barang apa saja yang dia butuhkan ke dalam koper. Pria itu hanya bisa tersenyum dalam diam. Dia tak menyangka jika hubungan mereka akan bisa diterima oleh Stevent setelah melewati hari-hati yang begitu berat. 


"Kenapa kamu senyum-senyum, Rey?" tanya Jessi yang sedari tadi melihat gelagat sang kekasih.


"Bukan apa-apa," #ahut Rey sambil menatap Jessi yang sedang duduk diatas ranjang, "selesai?" 


"Ya, sudah selesai." 


"Baiklah, ayo kita keluar!" ajak Rey bersiap berdiri.


"Kenapa begitu cepat?" tanya Jessi dengan cemberut sambil berjalan menuju ke arah prianya.


"Ya mau ngapain juga?" tanya Rey dengan kembali duduk dan menaikkan salah satu alisnya.


Rey menyeringai. Dia mengerti betul apa maksud kekasihnya ini. Tapi, ingatlah, dirinya pria yang juga haus belaian. Apalagi sudah lama dirinya belum pernah melakukan hal-hal berbau badan.


Jika sang kekasih memintanya berduaan. Maka Rey takut akan melebihi batasan tingkah mereka.


"Jangan membuat seekor macan bangun dari tidur panjangnya. Jika sudah bangun, kamu sendiri pun pasti akan kewalahan," ancam Rey dengan menahan tawa. 


Sungguh Rey ingin tertawa terbahak ketika melihat kekasihnya itu dengan spontan melepas gelayutan manjanya dan duduk memberi jarak.


"Kenapa begitu jauh, Sayang? Kemarilah?" goda Rey dengan senyum tertahan.


"No. Ayo keluar!' Jessi segera berjalan dengan terburu-buru meninggalkan Rey.


Setelah melihat punggung kekasihnya sudah melewati pintu kamar. Rey tertawa terbahak- bahak sampai memegang perutnya. Betapa menggemaskannya raut wajah Jessi tadi hingga membuatnya ingin mencium wajah gadis itu.


"Kau mengerjaiku, Rey?" teriak Jessi di depan pintu kamar.

__ADS_1


"Hahaha ampun, Sayang." 


Akhirnya Jessi mengejar Rey yangs udah berani-beraninya mengerjainya hingga dirinya merinding ketakutan. Suara canda tawa mereka tentu saja membuat pelayan yang melihat menjadi ikut bahagia. Bahkan tak jarang, ada yang sampai gigit jari melihat betapa lucu dan romantisnya majikannya itu. 


Tapi, di ruangan yang lain. Ada seorang pria yang hanya mampu memejamkan matanya mendengar semua canda tawa dari gadis yang dulu dia cintai. Jack menjadi bingung sendiri. Kenapa dirinya tak mengalami hal seperti dulu? Sakit hati dan merasakan sakit ketika merasakan cemburu. Saat ini perasaan Jack malah terkesan biasa saja dan pikirannya selalu terpenuhi oleh gadis manis kecil pemberani.


****


Setelah melakukan perjalanan yang panjang, akhirnya pesawat berlabel Alexzandra mulai mendarat di Bandara Soekarno Hatta. 


Semua Dokter juga mengecek keadaan Stevent terlebih dahulu sebelum mereka turun di tanah Indonesia.


"Bagaimana, Dokter?"


"Semua baik-baik saja, Nona. Sepertinya kebahagiaan kalian juga menular di hati Tuan dan membuat paru-parunya membaik."


Jawaban Dokter tentu saja membuatnya menangis haru. Dia memeluk sang Daddy dengan erat dna menghadiahi ciuman di kedua pipi serta keningnya.


"Aku bahagia, Dad. Teruslah berjuang untuk sembuh dan temani putra putriku bermain untuk menemani masa-masa Daddy nanti."


Ingatlah. Kekuatan kebahagiaan itu sungguh besar. Bahkan tak ada yang mampu membelinya meski dengan bermilyaran uang yang dia miliki. Bahagia itu sederhana dan mampu tercipta dengan sederhana. Mereka yang mampu menciptakan kebahagiaan maka membuat apapun yang sedang sakit, akan ikut bahagia dan membaik.


~Bersambung~


Jika ada typo tolong cek dan komen yah. Biar Je bisa langsung revisi. Terima kasih.


Detik-detik Season pertama mau tamat nih. Hehehe.


Doakan juga bisa update satu bab lagi yah. Buat hutang kemarin.


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di nome)



__ADS_2