Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Kebahagiaan Pelakor?


__ADS_3


Tunggu saja permainan kedua dariku, Darling. Tak butuh waktu lama lagi kita akan bersama dan aku akan mengusir istri sahmu itu dari hidupmu. ~Marlena Sanoci~


****


Suara pintu yang terbuka membuat Jessi reflek menoleh. Keningnya berkerut lalu segera beranjak berdiri melihat seseorang yang memenuhi hatinya sejak tadi.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Jessi sambil menghampiri sang suami, "kenapa berantakan seperti ini?" nunjuknya ke arah kemeja Rey yang basah dan terdapat noda merah.


Rey diam. Sungguh batin dan pikirannya saling berperang. Ingin sekali dia mengatakan semuanya tapi kenapa begitu sulit. Kenapa bibirnya seakan tertutup rapat dna tak mau terbuka.


"Sayang," panggil Jessi mendongak menatap sang suami.


Tatapan keduanya beradu. Jessica bisa melihat banyak keresahan dan kegugupan di mata pria yang berstatus suaminya ini. Ada apa dengan Rey? Kenapa seperti ada sesuatu yang menjadi bebannya. 


"Apa ada yang membebanimu?" 


Telak.


Bukankah aku pernah mengatakan, jika batin seorang istri itu begitu kuat? Hanya dengan menatap saja dia pasti sudah tahu apa yang sedang dialami sang suami. Meski hanya dari luarnya tanpa tahu apa yang mendasari masalah itu sendiri.


"Hanya ada sedikit masalah, Sayang," ucap Rey dengan mengalihkan matanya. 


Sungguh dia paling tidak bisa berbohong. Bahkan setiap kali dia menutupi masalah ini, matanya akan selalu beralih.


"Lalu bagaimana pakaianmu bisa basah begini? Bukankah kamu habis bertemu dengan klien?" 


"Iya memang benar, Sayang. Pakaianku basah karena tak sengaja terkena tumpahan air dari klienku," jelas Rey membuat Jessi mengangguk.


Sungguh gadis itu bisa melihat kegugupan pada sang suami saat ini. Dia juga bisa melihat jika ada yang sedang ditutupi oleh Rey. Tapi yang bisa dilakukan olehnya hanya mengangguk. Akhirnya, Jessi menyuruh sang suami untuk duduk dan dia segera keluar untuk menemui sekretaris yang merangkap menjadi asisten di depan ruangannya itu.


"Tolong bawakan baju ganti untuk suamiku, Asisten Bima," pintanya dengan tersenyum.


Dia bisa melihat bagaimana dua orang yang berstatus kekasih itu saling menunduk malu seperti kepergok sedang melakukan sesuatu. 


"Baik, Nona. Apa ada lagi?" tanya Bima saat melihat Nona-nya itu masih berdiri diam di dekat pintu.


"Kalau mau pacaran nunggu jam kantor pulang." Setelah mengatakan itu, Jessi segera kembali ke dalam meninggalkan Amanda dan Bima yang saling berpandangan.


Jessica hanya mampu menahan tawanya sampai pintu tertutup rapat. Setelah tak ada dua sejoli itu, dia langsung terbahak hingga memegang perutnya karena merasa lucu akan tingkah keduanya.


Tawa bahagia itu tentu saja membuat Rey yang sedang menyandarkan tubuhnya di sofa menjadi menoleh. Dia bisa melihat bagaimana istrinya itu begitu senang hingga membuatnya penasaran akan hal apa yang membuat Jessica tertawa begitu.

__ADS_1


"Sayang," panggil Rey membuat Jessica tersentak.


Dia hampir melupakan keberadaan sang suami karena terlalu fokus akan kebahagiaan menjahili pasangan kekasih itu. Perlahan Jessi segera mengayunkan langkahnya dan duduk disamping suami yang sedang membuka tangannya itu agar dirinya masuk ke dalam pelukan Rey.


"Apa yang membuatmu bahagia, Sayang?" tanya Rey sambil memeluk istrinya begitu erat.


"Aku suka melihat wajah malu-malu asistenmu itu dengan Amanda, Sayang," ucap Jessi menjelaskan. 


"Memang mereka ada di luar?" 


Jessica mengangguk, "ya mereka sedang berada di depan. Tapi ketika aku keluar terlihat keduanya sedikit menjauh sambil menunduk malu. Ditambah rona merah di pipi Amanda membuatku yakin jika mereka tadi mau melakukan ehem ehem."


"Ehem-ehem?" tanya Rey dengan kening berkerut.


"Iya, Sayang." 


"Apa itu?" tanya Rey lagi yang bingung akan kelakuan istrinya ini.


"Mereka mau itu itu loh, Sayang. Kiss kiss," ucap Jessi memberitahu sambil menggerakkan kedua tangannya yang seperti orang ingin berciuman. 


"Astaga. Gak mungkin lah!" 


"Mungkin aja dong, Sayang. Mereka kan sepasang kekasih," ujar Jessi begitu bersemangat.


"Dasar mesum!" Jessi memukul lengan sang suami dengan gemas. "Gak lihat sikon banget. Tuh baju kamu juga basah." 


"Ya, 'kan. Sekalian aku buka baju, Sayang. Biar gak masuk angin dan kita bisa berkeringat." 


Saat Jessica hendak bersuara. Sang suami sudah melingkarkan tangannya di leher dan kedua kakinya lalu menggendongnya ke arah ruangan pribadi sang istri.


Rey bersyukur dalam hati ketika memberikan sebuah ruangan pribadi disini karena ternyata sekarang ruangan itu begitu terpakai untuk membuatnya bisa menjamah tubuh sang istri dengan perasaan bahagia dan cinta yang membuncah. 


****


Di sebuah rumah mewah terdengar suara tawa meledak begitu kencang membahana di seluruh ruangan. Siapapun yang mendengar pasti sudah tahu jika pemilik suara sedang merasa begitu bahagia. 


Tubuh seksinya yang sudah berganti dengan pakaian rumahan terlihat bergerak kesana kemari. Tak lupa tangannya memegang benda tablet dengan layar yang menyala. Kedua matanya tetap fokus ke arah benda itu dengan tubuh berloncat-loncat kecil.


"Hahahaha akhirnya aku berhasil menjebakmu, Reynaldi Johan Pratama!" teriak Marlena dengan senyum yang begitu lebar. 


Sejak tadi setelah kepulangannya dari Restaurant. Dia segera meminta anak buahnya untuk mengambil semua kamera dan memindahkan file yang diminta ke dalam tablet itu. Dengan kepintarannya dia juga sudah menduplikat file itu menjadi banyak.


"Tunggu apa yang bisa ku lakukan padamu, Sayang. Dalam hitungan hari kau pasti akan menjadi milikku," ucapnya dengan senyum licik terpancar di wajahnya.

__ADS_1


Seorang gadis yang biasa hidup di dunia hitam itu. Terlihat begitu puas akan idenya kali ini. Dia sudah tak sabar untuk mengirimkan apa yang dia punya pada gadis cantik yang menjadi saingannya itu.


Semua rencana itu memang sudah tertata rapi di otaknya. Tinggal menjalankan saja dan menunggu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Marlena merasa capek karena sejak tadi bergerak, akhirnya gadis itu menghempaskan tubuhnya ke sofa dan duduk bersandar. Terlihat sekali matanya berbinar bahagia dengan senyum tak menyusut hingga tak memperdulikan jika sejak tadi samar-samar telinganya mendengar suara-suara aneh dari balik kamar papanya. 


Dia merasa tak peduli apa yang dilakukan sang papa. Yang penting dalam pikirannya, papanya mendukung aksinya ini dan akan menjaganya dari hal-hal yang akan terjadi.


Merasa lelah, dia meletakkan tabletnya di atas meja dan hendak memejamkan matanya sejenak di sofa ini. Namun beberapa menit dia hendak terbuai dengan mimpi indah, sebuah suara mengusik ketenangannya.


"Apa papa mambangunkanmu, Cantik?" tanya Sanoci sambil mendudukkan dirinya di dekat sang putri.


Marlena menggeleng kemudian dia membangunkan tubuhnya dan mendekat ke arah sang papa. Lalu dengan sekali gerakan, dia menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang papa dan menikmati waktunya ini.


"Bagaimana semuanya, Sayang?" tanya Sanoci sambil tangannya bergerak mengelus rambut anak gadisnya itu. 


"Berhasil, Papa. Tinggal membuat kejutan pada sahabat cantikku itu." 


"Wah anak gadis Papa memang pandai. Kapan kamu akan memberikan itu pada mereka?" tanya Sanoci dengan senyum mengembang.


"Aku menunggu waktu yang tepat, Papa. Setelah itu, kita akan melaksanakan rencana kita yang kedua dan boom." 


~Bersambung~


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di ****)


__ADS_1


__ADS_2