Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Season 2 Nasihat Maria


__ADS_3


Bukan karena aku tak percaya. Tapi, sebagai seorang istri, aku pasti memiliki pikiran ketika mendapati aroma wanita lain di dalam kemeja suamiku. ~Jessica Caroline~


****


Bergerak sedikit, tangannya diangkat ke atas untuk meregangkan otot-otot yang kaku. Perlahan mata yang terpejam sedikit demi sedikit terbuka lebar. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata, kemudian matanya mulai bisa melihat dengan jelas tempatnya berada.


Rey seketika menoleh ke samping. Kemana sang istri? Seketika dia teringat apa yang dilakukannya tadi bersama belahan jiwanya itu. Bagaimana dia berpacu dan menghujam dengan sangat keras membuatnya seketika bangkit.


Meremas rambutnya secara kasar. Dia berteriak kencang karena telah melampiaskan amarahnya pada Jessica. Baru kali ini dia melakukan hubungan intim tanpa kelembutan pada surga dunia sang istri. Segera beranjak dari ranjang, ia harus menemui cintanya itu. 


Dengan berpakaian acak-acakan. Rey segera keluar dari kamar. Ia harus tahu dimana istrinya itu berada. Berlari kecil menyusuri ruangan tiap ruangan yang biasa sang istri tempati. Tapi kenapa semuanya kosong. Rey berjalan tergesa menuju taman belakang dan sama saja.


"Ya Tuhan. Kamu dimana, Sayang," ucapnya pelan sambil mengacak-acak rambutnya. 


Saat dia berbalik. Tak sengaja matanya menatap pelayan yang sedang melewati jalan menuju taman dan segera Rey memanggilnya. 


"Iya, Tuan. Ada apa Anda memanggil saya?" 


"Apa kamu melihat istri saya?" 


"Oh Nyonya sedang di rumah samping, Tuan." 


"Samping?" gumamnya pada dirinya sendiri.


Memejamkan mata, banyak pikiran tentang apa yang sedang dilakukan istrinya itu. Apakah Jessica kecewa padanya? Apakah sang istri marah dan mengadu pada mertuanya? Tapi apapun yang terjadi, semua itu memang salahnya juga.


Rey menyadari jika dirinya kehilangan kontrol. Segera dia mengibaskan tangan dan menyuruh pelayan itu pergi. 


"Maafkan aku, Sayang. Aku sudah menyakitimu," lirihnya sambil berjalan gontai kembali ke dalam rumah. 


Banyak rasa penyesalan dan takut dalam hati Rey hingga pria itu hanya bisa menghela nafas berat. Saat dirinya baru saja sampai di ruang keluarga, matanya menangkap tubuh sang istri yang juga baru masuk dari pintu penghubung. 


"Sayang," panggil Rey dengan antusias.


Jessica yang tadinya baru saja menutup pintu, seketika menoleh. Dia mendapati sang suami yang hanya memakai celana pendek dengan kaos sedang berjalan menuju ke arahnya.


Ketika mengingat apa yang terjadi beberapa jam lalu. Dadanya terasa sesak. Jessi memilih menunduk untuk menahan banyak pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada sang suami.


"Sayang, hey hey," panggil Rey saat melihat istrinya tak mau menatapnya.


Dia mendongakkan wajah Jessi dan menatap lekat mata serta pahatan sempurna di wajah sang istri. Mata tajam itu begitu intens hingga Rey menyadari jika kantung mata sang istri membengkak.


Ya tuhan rasa bersalahnya semakin menjadi dan Rey segera mendekap tubuh Jessi dengan erat. 

__ADS_1


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku," ucapnya penuh penyesalan. "Aku sudah berbuat kasar padamu, Honey. Pasti kau kesakitan, 'kan? Maafkan aku."


Jessica bisa mendengar raut penyesalan dalam setiap ungkapan yang diucapkan sang suami. Dia yang awalnya hanya diam akhirnya membalas pelukan sang suami. Sungguh pelukan ini masih tetap sama dengan dulu awal mereka bersatu. Tentram dan menyenangkan untuknya. Tanpa sadar air matanya kembali luruh saat merasakan kehangatan sang suami harus dibagi dengan orang lain. 


Bau minyak wangi yang berbeda dari kemeja sang suami. Sungguh membuat Jessica berpikiran keras. Tiba-tiba ia mengingat apa yang sudah dia lakukan beberapa menit yang lalu.


Setelah meletakkan kemeja sang suami yang menyimpan bau minyak wangi wanita pada keranjang kotor. Jessica menghapus air matanya. Ia tak boleh menuduh tapi perasaan wanita sama saja. Akan ada banyak pikiran liar ketika mengetahui bahwa ada bau lain dalam pakaian sang suami.


Menghela nafas berat. Jessica berjalan keluar dari walk in closet dan menatap sekilas tubuh sang suami yang meringkuk di atas ranjang. Dia masih teringat bagaimana sang suami menyatu, menghujam dengan ritme yang tak biasa hingga membuat intinya berdenyut sakit.


Menghapus semua pikiran itu, Jessica langsung keluar dari kamar dan menemui seseorang yang selalu menjadi tempat keluh kesahnya. 


Nasihatnya, ucapannya selalu membuat dirinya menjadi lebih baik dan lebih dewasa. Membuka pintu penghubung menuju rumah papanya. Jessi berjalan dengan gontai dan wajah menunduk. Air matanya terus saja mengalir hingga membuatnya berkali-kali harus menghapusnya dengan kasar. 


Ditatapnya pintu coklat di depannya ini dan dia sudah memutuskan untuk membicarakan semuanya pada orang yang pernah berumah tangga. Jessica tak mau karena pikirannya ini, maka akan berdampak pada hubungannya dengan sang suami. 


Dia masih mengingat betul nasihat sang ayah yang mengatakan jika pernikahan di tahun pertama adalah ujian yang akan berdatangan. 


Mengetuk pintunya perlahan. Suara seorang perempuan menyuruhnya masuk membuat bibir Jessi sedikit tersenyum. 


"Halo, Nenek," sapanya dengan lembut lalu memasuki kamar Maria.


"Oh, Cucuku yang cantik. Bagaimana kabarmu?" tanya Maria setelah dia memeluk cucu perempuannya ini.


"Aku sedang tidak baik, Nenek." 


"Kenapa?" 


Jessi menunduk. Apakah jika dia bercerita pada sang nenek termasuk dalam membicarakan keburukan sang suami? Tapi dirinya kesini ingin menenangkan hati dan pikirannya. Dia ingin mencari jalan keluar agar pikirannya ini tak menuduh pada sang suami. 


"Katakan, Nak! Jika itu mengusik pikiranmu." Suara Maria yang begitu lembut membuat Jessica semakin nyaman ingin bercerita pada sang nenek.


Jessi merapatkan tubuh dan dia meletakkan wajahnya pada lengan sang nenek. "Suamiku baru saja pulang, Nek. Dia berlaku tak biasa padaku," jedanya pelan dengan menarik nafas.


"Lalu ketika aku membereskan kemeja milik Rey. Aku mendapati bau minyak wangi wanita dalam kemejanya, Nek." Suara Jessi kian serak lalu mulailah air matanya kembali jatuh.


Memang hanya minyak wangi. Tapi jika untuk sebagian istri pasti akan ada banyak pertanyaan ketika mencium aroma berbeda dalam baju sang suami. 


"Lalu?" Maria masih tenang. Tangannya bahkan mengusap punggung sang cucu agar Jessi merasa lebih rileks.


"Aku takut suamiku selingkuh, Nenek." 


Maria tersenyum. Dia menjadi tahu bagaimana cintanya sang cucu pada lelaki yang begitu dia percayai untuk menjaga hati Jessica. 


Perlahan dia mengangkat wajah sang cucu dan menghapus air mata yang membasahi wajah cantiknya itu. "Apakah kamu sudah menanyakannya pada Rey?" 

__ADS_1


Jessica menggeleng. 


"Kenapa?" tanya Maria pelan.


"Aku takut nanti aku malah menuduhnya, Nenek," sahut Jessi pelan dengan air mata yang sesekali mengalir.


"Bukankah kamu begitu penasaran pada Rey, Nak? Kau pasti bertanya-tanya minyak wangi siapa yang melekat di kemeja suamimu, 'kan?" 


Spontan Jessi mengangguk. Memang benar jika dia begitu ingin tahu. Tapi dirinya bingung harus memulai dari mana untuk bertanya pada sang suami. 


"Maka tanyakan saja pada Rey, Nak," ucap Maria pelan sambil mengusap wajah sang cucu. "Jangan berpikiran negatif dulu, Sayang. Suamimu adalah seseorang yang menemui banyak sekali karyawan dan klien dari banyak penjuru. Apalagi bukan hanya pria yang akan Rey temui. Pasti ada beberapa wanita juga yang ingin kerja sama atau bahkan karyawan yang mendekat padanya." 


"Benarkah, Nenek?" tanya Jessi dengan mata yang tak seredup tadi. 


"Tentu saja, cucuku. Jika kamu masih ragu, tanyakan pada Daddymu."


"Jangan, Nenek. Aku tak mau Daddy ikut berpikir tentang Rey hingga membuat hubungan keduanya bermasalah." 


Maria tersenyum. Dia mengusap wajah cucunya yang saat ini sudah besar. Dia begitu ingat bagaimana Jessica kecil dulu yang masih berada di gendongannya.


"Jika seperti itu, kau harus bisa menyembunyikannya. Jangan berwajah muram seperti ini jika tak mau Daddymu menanyakan tentangmu pada semua orang." 


"Lalu satu lagi. Jagalah komunikasi dan kepercayaan pada suamimu dengan baik. Jika ada masalah tanyakan dengan kepala dingin, Nak. Jangan gampang terpancing dan tersulut emosi untuk semua hal. Karena diluar sana kita tidak tahu mana musuh yang begitu ingin melihat hubungan kalian menjadi hancur dan rusak." 


~Bersambung~


Aku udah bilang loh yah diawal. Ujian pernikahan 1 tahun sampai 5 tahun itu apa hehehe.


Jadi pikirkan saja yah, hihihi.


JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.


▶️ Tekan tanda like


▶️Vote seikhlasnya yah


▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.


Mampir juga ke Ceritaku yang lain :


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di nome)



__ADS_2