
Aku bukanlah gadis yang mudah menyerah, Sayang. Tunggulah rencanaku agar kamu segera berada di pelukanku. ~Marlena Sanoci~
****
Keadaan di ruangan tertutup itu rasanya mulai panas. Entah kenapa berbicara dengan wanita di depannya ini menggunakan banyak kesabaran yang besar. Sedari tadi, Rey sungguh menjadi pemain yang baik. Dirinya betul-betul menjelaskan apa yang menjadi topik pembicaraan mereka kali ini.
"Apa Anda sudah mengerti, Nona?" tanya Rey sambil menggeser slide di tabletnya.
Tak ada suara menyahut dari pertanyaannya. Saat Rey ingin mendongakkan wajahnya dan menatap gadis gila itu. Dirinya merasakan sebuah elusan lembut di balik celana yang ia pakai untuk membalut kakinya.
Menghembuskan nafas berat. Dia tak boleh terpancing. Bukan terpancing karena hasrat, melainkan ia takut melukai gadis itu kembali dan mengecewakan sang mama.
"Nona Marlena," panggil Rey dengan menekankan kata di nama gadis itu.
Mendongakkan wajahnya. Rey bisa melihat wajah nakal dan menggoda dari gadis yang ia kenal sebagai sahabat istrinya itu. Sungguh dia tak tahu apa yang ada dipikirannya. Kenapa Marlena seperti menghantui dirinya ini. Bahkan tanpa malu menunjukkan rasa ketertarikan di depan semua orang kecuali sang istri.
"Iya, Tuan Rey," sahut Marlena sedikit mendesah. Tangannya juga sudah ingin mengelus tangan Rey yang memegang tablet tapi pria itu berhasil menghindari.
"Bagaimana? Apa Anda sudah mengerti?" tanya Rey lagi setelah memejamkan matanya sesaat.
"Ya saya mengerti," ucap Marlena sambil menggerakkan kakinya sejak tadi.
"Baiklah. Jika sudah mengerti. Apa Anda setuju untuk bekerja sama dengan saya?"
Marlena terdiam. Dia menatap Rey begitu lekat namun dibalas dengan tatapan tajam olehnya. Jelas sekali di mata pria itu tak ada cinta ataupun ketertarikan. Yang ada hanya kebencian dan rasa jijik yang begitu besar dalam dirinya.
"Saya akan setuju bekerja sama dengan Anda, tapi…." Jeda Marlena dan menatap genit ke arah Rey.
"Saya ingin makan berdua dengan Anda sekarang," pintanya sambil mengusap meja dengan gerakan zig zag.
Bima mengalihkan wajahnya. Sepertinya pria itu juga merasa hal yang sama dirasakan oleh Rey. Sungguh dia tak habis pikir masih ada gadis yang tak punya muka seperti rekan bisnisnya ini. Tapi dirinya juga tak bisa berbuat banyak hal karena Tuannya itu masih diam.
"Saya tidak mau." Tegas Rey sambil menutup tablet miliknya.
"Yakin Anda tidak mau?" tanya Marlena dengan mengaitkan rambutnya di sela telinga. "Ya sudah. Saya akan menghubungi Papa saya agar memberitahukan pada Nyonya Ria jika anaknya tak mau bekerja sama…."
"Jangan!" tolak Rey dengan nafas menderu.
Tangannya sudah mengepal kuat ingin sekali meninju gadis ini. Kenapa selalu memakai cara memaksa dan mengancam. Tapi mendengar nama sang amma juga dirinya selalu ngalah.
Mengalihkan pandangannya. Rey menatap Bima yang saat itu sedang menatapnya balik.
__ADS_1
"Keluarlah, Bim! Tunggu Saya di depan!" titahnya.
"Tapi, Tuan…"
"Saya akan baik-baik saja," potong Rey cepat.
Marlena tersenyum mengejek. Dia mengibaskan tangannya dengan mengusir dua pria yang menurutnya perusuh sejak tadi.
Setelah Bima dan sekretaris Marlena pergi. Gadis itu segera memanggil pelayan untuk memesan makanan apa yang akan mereka makan.
"Kamu mau pesan apa, Rey?"
"Jangan berkata di luar batas Anda, Nona Marlena!" ancam Rey menatap tajam.
"Bukankah kita sedang berkencan?"
"Jangan bermimpi."
Marlena hanya diam. Senyum liciknya terlihat begitu jelas. Matanya menatap sekeliling dan begitu puas ketika melihat benda yang diletakkan sudah bekerja dengan baik. Tinggal rencana selanjutnya yang akan menambah bumbu-bumbu api agar sesuatu itu dapat meledak.
Rey memilih diam. Bahkan pria itu sudah terfokus dengan benda pipih yang dia pegang. Lebih baik waktunya ia habiskan untuk mengecek email atau berkas yang dikirim lewat online daripada harus menguras emosi dengan meladeni tingkah Marlena yang semakin menjadi.
Tak ada suara apapun. Rey bisa menebak jika gadis gila itu pasti sedang menatapnya. Jika tak menganggap bahwa Marlena adalah sahabat sang istri. Sudah bisa dipastikan jika dia akan memberikan pelajaran padanya.
Sungguh pria yang memakai kemeja putih itu tak sedikitpun menggubris seorang Marlena. Tanpa pria itu tahu, jika kancing kemeja yang dipakai gadis bule itu sudah terbuka dua kancing di atasnya. Sepertinya dirinya memang sudah biasa menjajakan tubuhnya hingga tak ada rasa malu atau segan dalam diri seorang Marlena Sanoci.
Acara makan itu berlangsung cepat karena Rey benar-benar memakannya dengan lahap. Dia tak mau berlama-lama lagi dan ingin segera mengakhiri semuanya. Setelah mengusap bibirnya dengan tisu, Rey meraih gelas yang berada disampingnya lalu segera minum.
Gelas yang isinya sudah tandas, dia letakkan di atas meja. Lalu Rey mulai menatap lawan bicaranya untuk pamit. Matanya terbelalak lebar ketika melihat pakaian yang digunakan oleh Marlena sudah terbuka. Nafasnya menderu hingga Rey tiba-tiba berdiri.
"Kenapa Anda seperti ini, Nona?"
"Apa maksud Anda, Tuan Rey?" Marlena berdiri. Dia berjalan menghampiri Rey sambil memegang gelas yang berisi minuman miliknya.
"Berhenti!" seru Rey saat Marlena terus berjalan ke arahnya.
Hingga tiba-tiba entah apa yang dilakukan oleh gadis itu. Gelas yang berisi air itu tumpah di kemeja milik Rey. Hingga sebagian kemeja dan jasnya harua basah.
"Ya Tuhan. Maafkan saya, Tuan," ucap Marlena dengan mengambil tisu.
Dia segera menggosok kemeja Rey hingga membuat Pria itu benar-benar risih.
"Cukup, Nona!"
__ADS_1
"Diamlah, Tuan. Karena saya, pakaian Anda basah," ucap Marlena dengan senyum lebar di wajahnya yang tak dapat dilihat oleh Rey.
"Menjauhlah!"
"Tidak. Ini karena saya!"
Karena Rey terus menahan tangan Marlena. Hingga akhirnya reaksi dorong mendorong itu terus berlanjut hingga entah sengaja atau tidak. Tubuh Marlena mulai oleng dan dengan sekali tarikan dua tubuh itu saling jatuh dan menindih.
Posisi yang begitu intim akhirnya terjadi disana. Rey berada diatas Marlena dengan tangan gadis itu yang melingkar di lehernya membuat dia tersentak. Spontan Rey menjauh dan beranjak dengan emosi yang mulai memuncak.
"Anda sengaja menarik saya?" seru Rey dengan wajah memerah padam.
"Bukankah Anda sendiri yang mendorong saya sampai kita jatuh dengan begitu intim," ujar Marlena dengan beranjak berdiri dan mendekat ke arah Rey.
"Anda tidak perlu munafik. Saya tahu Anda begitu menikmati berada di atas saya bukan?" ucap Marlena dengan tangan mengusap dada Rey yang dibalut kemeja.
"Lepaskan tangan anda dari kemeja saya!" seru Rey dengan penuh penekanan.
"Baiklah." Marlena menjauh, "tapi jika Anda membutuhkan saya. Saya pasti bisa memuaskan Anda, Tuan Rey."
Tak mau mendengar ucapannya lagi. Rey segera keluar dengan penampilan yang berantakan. Dia sudah tak peduli akan kemeja yang basah. Jas dan celana yang kotor. Yang penting dia hanya ingin segera menjauh dan pergi dari hadapan gadis itu secepatnya.
~Bersambung~
Ehem ehem dudududu jan naik darah hehe~~
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1