Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Gagal atau Berhasil?


__ADS_3


Seorang pria harus berani bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan. Seburuk apapun itu, dia harus berani mengakui dan menyelesaikan semuanya dengan keyakinan dirinya sendiri. ~Reynaldi Johan Pratama~


****


Sore mulai tergantikan malam. Langit mulai menggelap dan digantikan oleh terangnya sinar bintang kecil yang bermunculan. Namun, hal itu tak mampu membuat seorang lelaki beranjak dari kursi kerjanya selama 40 hari ini. 


Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja, dan Rey memilih berdiam diri disini untuk meneliti ruangan yang menemani dirinya selama beberapa hari ini. Sebuah ruangan yang lebih kecil dari ruang kerjanya di Indonesia. Namun memiliki sebuah kenangan besar di hidupnya. Disini, dia belajar meniti sebuah perusahaan dari awal.


Disinilah, dia menemukan siapa teman yang membantunya dikala susah. Rey mengusap pegangan kursi itu sambil tersenyum sendiri. Momen ini yang akan dia rindukan nanti.


Apakah malam ini adalah malam terakhirnya dia berdiri di tanah New York? Apakah malam ini, bukti dirinya tak bisa memenuhi syarat dari Stevent? Apakah disini bukti jika dia harus berhenti memperjuangkan semuanya?


Menepis air mata yang keluar dari sudut matanya. Rey hanya mampu menyimpan semua kenangan di otak kecilnya sebelum menghadapi hasil dari akhirnya esok hari. 


"Aku sudah berjuang, Ya Allah. Hanya menunggu takdir dan kuasa darimu untuk hari esok," ucap Rey sambil membuka matanya.


Tak lama, suara ketukan pintu membuat Rey berteriak menyuruh orang itu masuk ke dalam.


"Malam, Tuan." David muncul dengan membawa tumpukan berkas di tangannya. 


"Bagaimana?" tanya Rey dengan menatap mata David.


Pria muda itu hanya menggeleng sambil menyerahkan berkas itu di meja Rey. Hanya terdengar helaan nafas berat dan matanya menatap tumpukan berkas igu.


"Pergilah!" satu kata itu sudah mampu mewakili bagaimana perasaan Rey saat ini. 


Entah kecewa pada dirinya sendiri, atau kecewa karena Tuhan tak berpihak padanya. Sungguh jika diingat, kisah cintanya selalu berakhir tragis dan membuat luka menganga di hatinya.


"Aku hanya percaya padamu, Ya Allah. Jika hanya engkau yang mampu membolak balikkan hati para hambamu ini." 


****


Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Sejak semalam, Rey sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Berulang kali dia meyakini dalam hati, apapun yang akan terjadi dia akan tetap membawa sang kekasih pulang ke Indonesia. 


Setelah membereskan semua berkas yang akan ia bawa. Tak lama David pun sampai di depan pintu apartemen Rey.


"Kita langsung berangkat, Tuan?" tanya David setelah memberikan salam.


"Ya, David. Lebih cepat lebih baik." 

__ADS_1


Tanpa banyak kata, segera David berjalan mengikuti langkah kaki Rey dibelakangnya. Entah kenapa, atmosfer di dalam lift rasanya begitu dingin. Rasa gugup tiba-tiba menghinggapi perasaan Rey.


Dia membayangkan bagaimana reaksi Stevent saat tahu semua hasil yang sudah dicapai selama 40 hari ini. Tapi, bagaimana hasil dan reaksi ayah dari kekasihnya itu. Rey akan selalu berjuang untuk mendapatkan restu dari seorang Stevent Alexzandra. 


"Semoga kau masih berbaik hati pada hambamu yang fana ini, Ya Allah." Doanya dalam hati.


Tak lama suara pintu lift terbuka dan menampilkan sosok dua pria tampan tanpa senyuman berjalan keluar dari besi berjalan itu. David mempersilahkan Bosnya itu untuk masuk ke dalam mobil dan diikuti dirinya yang dengan cepat duduk di kursi kemudi.


Tak ada percakapan apapun di dalam mobil. Dua pria itu saling tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Begitupun dengan pria yang duduk di kursi penumpang. Saat dirinya baru saja duduk, segera ia membuka tablet dan melihat saham dari anak perusahaan yang dia pegang semakin naik. 


Senyumnya mengembang saat dia bisa berdiri sendiri dan membangun perusahaan itu tanpa embel-embel nama Pratama dibelakangnya.


Jalanan di New York mulai ramai. Banyak pejalan kaki di kanan kiri yang memakai pakaian tebal. Musim dingin mulai tiba dan Rey berharap, semoga dia dan sang kekasih bisa merayakan musim ini berdua.


****


Beberapa menit kemudian, mobil telah sampai di depan rumah besar milik pengusaha terbesar di New York. Satpam dengan sigap membuka pagar tinggi itu dan mempersilahkan tamunya untuk masuk setelah laporan pada Tuan Rumah. 


Tak sembarangan orang bisa masuk ke dalam. Karena siapapun yang akan bertemu dengan Ayah dari Jessica. Mereka harus memiliki janji dan atas izin dari pemilik rumah sendiri.


Tujuannya sudah berada di depan mata. Rey berulang kali meyakinkan hati dan menarik nafas untuk menenangkan pikirannya. Dengan langkah pasti. Dia segera keluar dari mobil dan berjalan seorang diri menuju pintu itama yang sudah dibuka lebar seperti memang menunggunya.


Rey tak menundukkan kepalanya sama sekali. Dirinya harus berani bertanggung jawab atas apa yang sudah dia kerjakan ini.  


"Duduk!" 


Rey menurut. Dia duduk di depan Stevent terhalang oleh meja oval panjang. 


"Bagaimana?" tanya Stevent dengan raut wajah meremehkan. 


Namun hal itu tak dapat mengintimidasi diri Rey. Dia dengan sopan memberikan berkas itu dan tablet yang sudah dia bawa. Stevent dengan cepat mengambil dan membuka berkas yang sudah dipegang olehnya. Membaca kata tiap kata yang tertulis di sana. Lalu dia beralih membuka lembaran hingga lembaran yang terakhir. 


"Jadi…" Stevent menatap Rey dengan tatapan tajam.


"Ya, Tuan Stevent. Saya gagal menyelesaikan syarat dari anda," ucap Rey tegas tanpa ragu.


"Berarti itu tandanya kamu kalah?" tanya Stev dengan seringainya.


Rey menunduk. Jujur hatinya sakit saat harus mengakui bahwa dirinya kalah. Tapi harus dikata apalagi, jika memang dia tak bisa menyelesaikan tugas Stevent sampai selesai.


Keadaan saham dari anak perusahaan Stev memang semakin menaik. Bahkan gaji karyawan semuanya bisa terbayarkan. Namun, untuk bonus yang harus dia dapat sebanyak 400 juta selama 40 hari ternyata tak sampai target. Dia hanya bisa memperoleh setengah dari target yang diminta oleh ayah dari kekasihnya.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Saya gagal menyelesaikan syarat dari anda." Akhirnya dia mengakui kekalahannya. Bukankah seorang pria harus gentlemen? Apapun resiko yang ditanggung, seorang pria harus berani mengakui dan bertanggung jawab. 


"Jika kamu gagal, itu tanda hubungan kamu dengan putri saya harus putus dan tinggalkan kota New York sekarang juga!"


"Daddy!" teriak Jessica saat mendengar kalimat laknat itu dari mulut sang ayah.


Berjalan menuju dua pria yang duduk berhadapan. Linangan air mata mampu terlihat di kedua mata Jessica. Mata sembab dan kantung membesar begitu terlihat menandakan jika gadis itu habis menangis dengan waktu yang lama dan kekurangan istirahat.


"Kenapa Daddy begitu kejam pada kami!" tuding Jessi pada ayahnya. 


"Kesepakatan adalah kesepakatan, Nak. Kekasihmu gagal berarti kalian harus putus."


"No, Daddy. Kami berdua tak akan putus, karena Jessi sendiri sudah memilih," teriaknya dengan berjalan mendekat pada sang kekasih. 


Dia menggenggam tangan kanan Rey dan menatap wajah prianya yang semakin tak terawat. Ada perasaan sakit dan iba pada diri Jessi melihat bagaimana kekasihnya ini berjuang untuknya.


Mengorbankan segalanya hingga lebih memilih memenuhi syarat dari sang Daddy untuk mendapatkan restu bagi hubungan mereka. Cukup sudah pengorbanan Rey untuknya, kali ini biarlah dirinya yang akan berkorban untuk hubungan mereka berdua.


Jessica beralih menatap wajah sang Daddy dengan pandangan kecewa dan terluka. Dia menarik nafasnya dalam dan berdoa semoga apa yang sudah diputuskan tak akan membuatnya menyesali apa yang sudah dia pilih. 


"Jika Daddy tetap tak merestui kami. Maka Jessica harus mengatakan ini," jeda gadis itu menatap wajah Stevent dengan pandangan lekat.


"Jessica lebih memilih meninggalkan Daddy dan akan ikut Rey meski tanpa restu dari Daddy sekalipun."


~Bersambung~


Aku mau nangis aja. Bingunh gimana jadinya hubungan mereka berdua yah, huhuhu.


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)


My Teacher is My Husband (end di nome)


__ADS_1


__ADS_2