
Rasanya aku ingin menjerit dan berteriak untuk mengurangi rasa sakit ini. Tapi entah kenapa perasaan kecewa itu lebih mendominasi hingga membuatku tak ingin bertemu dengannya untuk sementara waktu. ~Jessica Alexzandra Caroline~
****
Keadaan Rumah sakit mulai heboh semenjak kehadiran dua keluarga kaya raya itu. Rey dengan tergesa menggendong istrinya masuk ke dalam rumah sakit dan berteriak mencari pertolongan Dokter atau suster yang lewat di sana.
"Tolong istri saya, Suster!" teriaknya dengan air mata yang menetes di kedua sudut matanya.
Tak ada hal yang membuatnya takut selain saat ini. Melihat tubuh istrinya yang dingin serta wajahnya yang pucat sungguh membuat rasa penyesalan itu semakin besar dalam dirinya.
Apalagi mengingat banyaknya lembaran foto yang berserakan di pangkuan sang istri hingga meja yang begitu mirip dengan foto milik Jack membuatnya semakin berada di penyesalan yang terbesar di hidupnya.
"Ya Allah tolong selamatkan istri dan anakku. Jika kau ingin menghukumku, hukum saja aku tapi tolong jaga mereka untukku yang berdosa ini," doanya ketika pintu UGD di tutup.
Semua orang sudah menunggu dengan tegang. Bahan Rey tak mau duduk dengan tenang. Dia bergerak kesana kemari sambil sesekali menatap pintu yang tertutup rapat. Sungguh ingin rasanya dia menerobos masuk ke dalam. Namun lagi-lagi Rey hanya bisa diam disini dan memanjatkan doa untuk keselamatan keduanya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Rey?" suara Mama Ria memecah keheningan disana.
Memang tak ada satu orangpun yang membuka suara sampai saat ini. Sungguh wanita yang memiliki satu orang putra itu dibuat shock saat mendengar kabar menantunya tak sadarkan diri. Dia segera berjalan dengan tergesa melewati pintu penghubung menuju rumah putranya.
Disana dia langsung melihat para pelayan yang berusaha menyadarkan Jessica meski gagal. Kemudian, hal yang membuatnya lebih terkejut adalah banyaknya foto putranya Rey dengan seorang gadis yang tak dia kenal. Bagaimana bisa mengenal jika wajahnya saja tak terlihat. Karena di posisi foto itu, semua posisi Marlena adalah membelakangi kamera. Hingga membuat siapapun yang melihat pasti merasakan sakit.
Sedari tadi wanita itu memang diam. Dia menunggu waktu yang tepat untuk bertanya. Lalu sekarang, disaat semua orang sedang menunggu maka menurutnya ini adalah waktu yang tepat.
Rey yang sejak tadi berdiri segera menghampiri sang mama. Dia mencium kedua tangannya dengan air mata yang keluar dari matanya. Ini adalah titik terendahnya menurut Rey. Dia takut akan dua orang yang begitu dia cintai.
Dia takut jika istrinya akan terjadi sesuatu dan calon bayinya akan terkena dampak dari semua kesalahannya.
"Ini salah Rey, Ma. Salah Rey," ucapnya dengan nada penuh penyesalan.
Bahu pria itu sampai bergetar karena merasa kekhawatiran yang besar akan istri dan anaknya. Namun Mama Ria yang melihat putranya begitu lemah segera menarik dirinya ke pelukan dan memberikan pelukan hangat dari seorang ibu.
__ADS_1
"Serahkan pada Allah, Rey. Ingatlah! Ujian itu pasti ada di dalam pernikahan kalian. Tapi kunci agar kalian tetap bersatu adalah saling menguatkan, Nak," ucapnya sambil mengusap rambut putranya.
Stevent yang duduk tak jauh dari mereka hanya bisa mendengar. Dia tak tahu harus melakukan apa, tapi mereka berdua sudah menyuruh untuk mengawasi semuanya. Pria yang memiliki satu orang putri itu tak mau kecolongan lagi. Hal ini tentu saja membuatnya geram dan ingin sekali memberikan pelajaran pada orang tersebut.
Tapi melihat kinerja dan duduk permasalahan, membuat Stevent memilih diam dulu sebelum bertindak. Dia akan menunggu menantunya bergerak lalu dirinya akan membantu.
Tak lama pintu UGD terbuka dan muncullah Dokter wanita dan pria di sana. Segera baik Rey, Mama Ria maupun Stevent segera mendekat.
Mereka sama-sama mencecar bagaimana keadaan putri, menantu serta istrinya di dalam sana.
"Bagaimana keadaan istriku, Dok?"
"Iya, Dokter. Putriku bagaimana?" tanya Daddy Stevent ikut menyela.
Kedua Dokter itu saling berpandangan hingga membuat ketiganya semakin takut.
"Keadaan pasien dan kandungannya baik-baik saja. Tapi sepertinya pasien mengalami syok hingga membuatnya tak sadar," ujar Dokter Amanah menjelaskan keadaan Jessica.
"Perlu diingat pasien sedang hamil muda. Maka tolong jaga pikiran dan emosi pasien karena itu sangat mempengaruhi kehamilannya."
"Baiklah pasien butuh beristirahat dan akan segera dipindahkan ke ruang rawat."
Setelah mengucapkan terima kasih. Dokter tersebut segera pergi dan membuat tiga orang yang sejak tadi tegang merasa mulai lega. Segala rasa cemas yang menderanya tadi perlahan menyusut.
Dalam hati Rey banyak berterima kasih pada Allah karena masih memberikannya kepercayaan untuk menjadi seorang ayah dan suami yang baik. Hingga membuatnya bertekad akan menceritakan semuanya langsung pada sang istri.
Beberapa menit kemudian, brankar yang membawa tubuh istrinya keluar dari dalam ruang UGD dan segera bergerak menuju ruangan VIP. Rey dengan penuh setia mengikuti setiap brankar itu bergerak hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang berkelas.
Setelah kepergian Suster. Mama Ria dan Daddy Stevent juga ikut keluar. Mereka ingin memberikan waktu untuk Rey agar bisa mengatakan semua kegundahan hatinya.
Rey mengambil kursi di dekat ranjang pasien dan mendudukkan tubuhnya disana setelah melihat mama dan papa mertuanya keluar. Diraihnya telapak tangan istrinya yang masih terasa dingin meski tak sedingin tadi. Diciumnya kulit mulus itu dengan lembut dan menghirup aroma yang sungguh membuat dirinya candu.
Setelah itu, Rey segera meletakkan tangan istrinya di wajahnya dan tak lama terdengar isak tangis dari bibir Rey. Air matanya kembali berjatuhan saat mengingat hal-hal yang ditutupi ternyata berdampak sebesar ini.
__ADS_1
"Aku merasa berdosa sekali padamu, Istriku. Maafkan aku, karena ketakutan dan keterdiamanku membuat semua kekacauan ini semakin besar," ucap Rey pelan dengan air mata ikut membasahi tangan istrinya.
Tanpa Rey sadar, air mata gadis yang sejak tadi terpejam itu mengeluarkan air mata. Sebenarnya Jessica sejak tadi sudah sadar dan dirinya tak tidur. Dia memilih menutup matanya karena tak mau melihat sang suami. Karena entah kenapa mengingat akan foto yang berserakan itu seakan mampu membuat dadanya terasa sesak.
Semakin merasa tangannya basah akan air mata suaminya itu. Membuat Jessica semakin marah. Tak peduli apapun lagi, ditariknya tangan itu dengan kasar dan dia membuka matanya.
Rey yang merasakan tangan Jessi tertarik keras membuatnya mendongak. Kedua mata yang basah itu saling berpandangan. Bisa pria itu lihat, raut wajah kekecewaan dan luka mendalam dari sorot mata istrinya itu.
Hal itu tentu membuat Rey menunduk. Dia bingung harus menjelaskan dari mana. Melihat istrinya seperti marah, lalu kecewa dan terluka itu sudah cukup membuat rasa kecewa pada dirinya sendiri semakin.m besar.
Menguatkan hatinya. Rey menarik nafas dalam dan menghembuskannya untuk mencari kekuatan menceritakan semua kebenaran pada sang istri. Namun, saat dia hendak bersuara. Ucapan sang istri yang tiba-tiba itu membuat diri ga merasa tertohok dan semakin menyesal.
"Tolong tinggalkan aku sendiri. Rasa kecewaku padamu masih besar dan aku sungguh benci melihat wajahmu itu."
~Bersambung~
Huaaaa sabar ya Jess Jess.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
__ADS_1
My Teacher is My Husband (end di ****)