Mengejar Cinta Duda Tampan

Mengejar Cinta Duda Tampan
Flashback (Bantuan Khali)


__ADS_3


Sejahat-jahatnya perbuatan orang di masa lalu. Maka akan ada waktu di mana dia berubah di masa depan. ~Aqila Kanaira Putri Cullen~


****


"Kenapa Mama lakukan itu?"


"Karena Mama hanya ingin kamu bahagia, Nak." 


Dia senang, terharu dan bangga pada mamanya ini. Tanpa banyak kata dia memeluk orang yang selalu menemaninya selama ini. Jujur Rey sudah melupakan keadaan di masa lalu. Dia mencoba mengerti kenapa mamanya melakukan itu padanya 


Lalu sekarang? Dia merasa mamanya sedang membuktikan bahwa beliau tengah memperdulikan kebahagiaannya seorang. Tak pernah terlintas di pikiran Rey jika mamanya akan menemui ayah dari kekasihnya ini seorang diri.


Banyak pertanyaan bersemayam di otaknya. Bagaimana cara mamanya menemui Stevent? Lalu mereka berdua membahas apa hingga dirinya diterima. Tapi entah kenapa dirinya tak sanggup menanyai mamanya satu-satu dari pertanyaan itu. Dia hanya mampu memeluk begitu erat tubuh sang mamanya tanpa memperdulikan Jessi yang pasti melihatnya.


"Terima kasih, Ma. Terima kasih banyak." 


"Tidak perlu berterima kasih, Nak. Ini sudah menjadi tugas mama untuk kebahagiaanmu."


Jessica yang melihat bagaimana kedekatan sang kekasih dengan mamanya menjadi sikap sedikit iri. Bagaimanapun dirinya juga ingin disayang dan dipeluk oleh mamanya. Namun, sepertinya itu hanya khayalan semata karena mamanya sudah ada di sisi Allah. 


Mendongakkan kepalanya untuk menghalau air mata yang ingin turun. Jessi hanya mampu memanjatkan doa untuk sang mama yang berada di atas sana. 


"Semoga Mama ikut bahagia dengan kebahagiaanku ini," panjatnya dengan mata terpejam.


Pelukan antara anak dan ibu itu mulai terlepas dan membuat senyum mengembang dari bibir keduanya terpancar jelas.


"Apakah mama mau menceritakan semuanya kepadaku?"


Mama Ria mengangguk, "tapi sebelum itu, mari kita makan dulu. Mama sudah memasakkan makanan yang enak untuk kalian." 


Mama Ria menggandeng Jessica dan berjalan mendahului Rey menuju meja makan. Disana, mata Rey dan Jessica berbinar melihat begitu banyaknya makanan dan juga aroma yang begitu menggugah selera. 


"Hmm aromanya bikin perutku bunyi, Ma."


Mama Ria tertawa kecil dan segera menarik kursi untuk diduduki calon menantunya itu.


"Biarkan Jessi sendiri, Ma. Seharusnya Mama yang aku tarikkan kursi."


"Nggak apa-apa, Nak. Ayo!" ajak Mama Ria lalu mereka semua mulai duduk dengan Mama Ria berhadapan dengan Jessi lalu Rey duduk di kursi kepala keluarga. 


"Bagaimana dengan Daddy mu, Sayang?"


"Sebentar lagi aku ambilkan lalu kuantarkan, Ma."

__ADS_1


Mereka mulai makan dengan tenang. Bahkan sesekali terdengar bunyi sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Tak henti-hentinya Rey berceloteh jika makanan yang dimasak oleh mamanya ini sungguh enak. Bahkan hampir semua menu adalah makanan kesukaan pria itu. Tentu saja hal itu semakin membuat Rey bahagia. 


Jessica yang melihat sikap Rey seperti itu pun menjadi begitu gemas. Jika tak ada calon mertuanya ini mungkin dia akan mencubit pipi Rey dengan keras. Ternyata, Tuhan mengabulkannya dengan cepat. Mama Ria pamit untuk kebelakang sebentar dan itu membuat kesempatan Jessica begitu besar. 


Menoleh ke belakang untuk melihat apakah Mama mertuanya itu sudah tak ada, lalu segera dia mencubit pipi kanan Rey dengan keras.


"Aduhh, sakit." Rey menggosok pipinya yang memerah sambil menatap Jessica tajam. 


"Aku gemes banget sama kamu, Rey. Pen tak gigit rasanya."


"Ya udah. Gih gigit!" Rey menyodorkan pipinya hingga membuat Jessi memukul lengan pria itu dengan pelan.


"Gak boleh lah." 


"Lah kenapa?" tanya Rey dengan menaikkan alisnya berniat menggoda kekasihnya itu.


"Belum halal." 


"Ohh minta dihalalin?" tanya Rey dengan menahan senyum. 


"Ya jelas dong. Masak iya digantung mulu kek jemuran panas."


Rey tertawa terbahak melihat tingkah Jessi yang menggemaskan. Selalu ada saja, ucapan Jessica yang membuatnya ingin sekali menerkam gadisnya itu.


"Ngapain kamu ketawa, Rey?" tanya Jessi cemberut. 


Jessica mengangguk seperti anak koala yang menurut pada induknya.


"Uhh yaudah ayo ke KUA!" ajak Rey.


"Eh gak jadi." Jessi menggeleng dengan keras.


"Loh kenapa?" 


"Papa masih sakit." 


Astaga, rasanya kalau saja udah halal pasti aku gendong ke kamar dan aku terkam, batin Rey menjerit.


****


Tama belakang menjadi pilihan yang tepat untik ketiganay bercerita. Mama Ria mengajak Jessi dan Rey agar tak ada lagi kebohongan atau hal yang akan ditutupi oleh mereka. Dasar lubuk hatinya, Mama Ria benar-benar menerima Jessica sepenuh hati. Dia ingin membuat anaknya bahagia dengan pilihannya sendiri.


Setelah pelayan mengantarkan cemilan dan jus jeruk. Kedua anak muda itu menatap Mama Ria menunggu wanita dari ibu anak satu itu memulai bercerita. Mama Ria menerawang ke depan. Dia bingung harus bercerita mulai mana. 


"Kau mau mama menceritakan dari mana, Rey?" tanya Mama Ria menatap putra yang begitu dua sayangi ini. 

__ADS_1


"Semuanya, Ma." 


Mama Ria menghela nafas dia menatap kedepan sambil mengingat apa saja yang sudah membuatnya berbuat nekad mengambil keputusan besar ini. Tapi jujur dia bahagai dan lega ketika mendengar anaknya diterima dan direstui hubungannya. Karena bagaimanapun kebahagiaannya adalah melihat kebahagiaan putranya. 


Mama Ria memejamkan matanya. Dia memutar ingatannya saat bertemu dengan Aqila, Haura dan Khali di Istana Brunei.


"Khali akan membantu Tante sampai bertemu dengan Tuan Stevent," ucap Pria itu dengan senyuman tulus.


"Benarkah, Nak?" 


Khali mengangguk. Dia menggenggam tangan sang istri dengan memberikan sebuah senyuman. Keduanya memang sudah memikirkan semuanya sebelum bertemu dengan Mama Ria. Khali juga sudah tahu hal apa yang akan dibicarakan oleh Mama dari lawannya dulu. Maka dari itu, keduanya mencoba melupakan masa lalu dan berniat membantu Mama Ria hingga bisa bertemu dengan Stevent.


Akhirnya Mama Ria berangkat bersama Aqila, Khali dan Haura ke New York menggunakan pesawat milik Khali. Pangeran Brunei itu juga sudah menghubungi pihak Stevent untuk melakukan pertemuan penting yang terkesan mendadak.


"Tante istirahat saja dulu. Perjalanan masih panjang," ujar Aqila dengan menyelimuti tubuh ibu dari pria masa lalunya itu.


"Tante gak tau mau ucapin apa lagi sama kamu, Nak. Maafkan segala dosa Tante dimasa lalu. Sungguh Tante merasa malu jika bertemu denganmu seperti ini." Mama Ria menunduk.


Akhirnya dia menyampaikan segala keluh kesah di hatinya pada wanita di depannya ini. Jika boleh jujur memang dirinya merasa malu setiap bertemu dengan Aqila dimanapun berada. Dia seakan dihantui rasa bersalah dan ingatan masa lalu yang selalu muncul di kepalanya.


Maka dari itu, dia menyempatkan mencuri waktu seperti ini untuk meminta maaf pada wanita yang hatinya begitu baik padanya meski dirinya pernah menyakiti hati Aqila begitu dalam 


"Aqila udah pernah bilang kan, 'kan Tante. Aqila udah maafin Tante sejak lama. Kita harus bisa berdamai dengan masa lalu agar kedepannya hidup kita menjadi damai."


"Kamu memang wanita yang baik, Nak." 


"Aqila masih banyak kekurangan, Tante," ucapnya dengan tersenyum. "Ayo Tante istirahat. Kita akan membantu Tante sampai urusan Tante dengan Tuan Stevent selesai." 


"Makasih, Nak."


"Selamat istirahat, Tante."


~Bersambung~


Ini cerita alurnya maju mundur yah. Jadi wajar bakalan ada part flashback biar kalian tahu apa yang diomongin Mama Ria sama Daddy Stevent.


Jangan lupa likenya geng dan kalau mau dukung abang dude klik vote atau beri hadiah. Terima kasih.


Mampir diceritaku yang lain.


Jodoh Pilihan Mama (end)


Aqila Love Story (end)


Sadewa and Queen (end di wp)

__ADS_1


My Teacher is My Husband (end di nome)



__ADS_2