
Sampai kapanpun aku tak akan mengalah dan terus mengejarmu hingga kau jatuh dalam pelukanku, Sayang. ~Marlena Sanoci~
****
Seorang perempuan tengah mengamuk di dalam kamarnya. Rambutnya yang pirang sudah acak-acakan. Kaca rias di depannya pun sudah tak berbentuk. Sepertinya sebuah benda meras sudah menghantamnya dengan keras hingga beberapa kepingan kaca berjatuhan di dekatnya.
"Ahrrrr kuraaang ajarrr kalian berdua!" teriak Marlena kencang sambil menarik bedcover miliknya dan dia tarik hingga berantakan.
Beralih ke nakas samping ranjangnya. Dia melempar lampu tidur hingga pecahannya begitu memekak telinga.
"Brengsekkkk kalian semua!" umpatan kasar dengan wajahnya yang sudah merah padam.
Gadis yang sedang marah besar itu adalah Marlena. Beberapa hari dia mengikuti dan menunggu kabar akan kerenggangan hubungan suami sahabatnya itu ternyata tak mendapatkan hasil apa-apa.
Malahan, dirinya melihat jika hubungannya semakin kuat. Kemarahannya semakin memuncak, tatkala Marlena melihat dari teropongnya jika sang pujaan hatinya itu, Reynaldi Johan Pratama sedang bercinta di ruangan kerjanya dengan sang istri.
Kepalan tangan Marlena menguat tatkala melihat bagaimana kedua tubuh itu saling mendamba, mengoyak dan menghujam dengan sangat keras sehingga membuatnya marah bukan main. Hingga akhirnya berakhirlah disini. Di kamar yang tak punya salah sehingga menjadi pelampiasan yang tepat.
"Awas kalian berdua yah! Tunggu aku sayangku, Rey. Aku akan membuatmu jatuh kepelukanku," ucap Marlena mengoceh dengan tawa jahat sampai menggelegar di seluruh ruangan kamar yang sudah hancur tak berbentuk.
Tak ada lagi yang tersisa di dalamnya. Make up mahal milik Marlena sudah pecah dan jatuh ke sembarang arah. Selimut serta bedcover yang sudah lepas dari ranjangnya serta pecahan lampu tidur dan masih banyak lagi membuat kamar itu sudah mirip sekali seperti habis diterpa angin ****** beliung.
Puas melampiaskan kemarahannya. Segera Marlena keluar dan menuju kamar papanya. Dengan nafas yang masih terengah-engah dan naik turun, diketuknya pintu itu dengan tergesa-gesa.
"Papa….Papa," teriaknya tak sabaran.
Marlena yang sangat egois dan sedang tak baik- baik saja. Semakin menjadi kalap. Kemarahannya kembali timbul tatkala papanya tak mengindahkan teriakannya. Bahkan dia mendengar suara desahan di kamar itu yang semakin kuat hingga membuat Marlena begitu sakit hati.
"Papa!"
Prang.
Pigura yang tak bersalah akhirnya menjadi sasaran amukan Marlena. Semua foto masa kecilnya dengan sang papa, mama dan kakaknya sudah hancur bergelimpangan di lantai. Ternyata dengan adanya bunyi itu membuat pintu yang tadinya tertutup rapat akhirnya terbuka lebar.
"Apa yang kamu lakukan, Mar!" Sanoci keluar dengan memakai celana pendek tanpa pakain atasan menatap marah ke arah putrinya itu.
Dia tak menyangka jika anak yang dididiknya bisa semarah ini dan matanya menatap apa saja yang sudah diperbuat oleh Marlena.
"Apa kamu tak bisa menunggu Papa sampai selesai?" tanya Sanoci marah menatap putrinya yang sedang berdiri diam itu.
"Gak bisa!" serunya Marlena dengan suara tak meninggi.
__ADS_1
"Mar!"
"Papa!"
Suara keduanya sama-sama berteriak. Sepertinya antara anak dan ayah itu tak ada yang ingin saling mengalah untuk kali ini.
"Kenapa Papa begitu egois? Aku sedang sakit hati. Priaku malah semakin harmonis dengannya, Papa," serunya mengadu dengan air mata berlinangan.
"Marlena," panggil Sanoci dengan suara lembut.
Ya beginilah seorang ayah. Anak perempuan adalah kelemahannya. Melihat air mata Marlena tentu saja membuat hatinya sakit. Meski dia mengakui apa yang ia lakukan salah. Tapi apapun itu dirinya tak pernah mengabaikan keberadaan dua anaknya.
Baginya, baik Mario atau Marlena adalah belahan hatinya yang begitu dia sayangi. Dia mendidik keduanya dengan tangannya sendiri. Hingga akhirnya ya seperti itulah sikap keduanya.
Mario bersikap begitu dingin dan kejam. Dia yang membantu papanya mengendalikan dunia bawah. Sedangkan Marlena, gadis itu juga berkecimpung dalam dunia bawah namun sebagai pemancing mangsa musuh papanya saja agar keluar.
Jika ditanya bagaimana dengan istri atau mama Marlena? Perempuan cantik itu ada di rumahnya di New York. Keberadaannya memang seperti ratu di rumahnya.
Sanoci begitu mencintainya. Maka dari itu, ketika dirinya gila **** kasar maka dia akan menyewa seorang jalang. Karena dari awal menikah dia sudah berjanji tak akan menyakiti hati istri tercintanya itu. Tanpa disadari, apa yang dia lakukan sekarang sudah menjadi bukti bahwa ia akan membuat wanitanya bersedih jika kebohongannya ini terbongkar.
"Kemarilah, Nak!" bujuk Sanoci memegang tangan putrinya.
Dia begitu tahu dan paham bagaimana menjinakkan kemarahan Marlena. Mungkin awalnya ia akan membiarkan putrinya ini melampiaskan segalanya tapi Sanoci yakin. Jika gadis di depannya ini sudah puas maka dirinya akan berhenti sendiri.
"Hubungan mereka tak goyang sama sekali, Papa. Malahan keduanya terlihat baik-baik saja," adunya dengan air mata yang sudah mengalir.
"Usst jangan menangis, Sayang."
"Aku akan tetap menangis jika Papa tak membantuku." Ancam Marlena melepaskan pelukan sang Papa.
Sanoci menghela nafas pelan. Dia menatap wajah sang putri dan penampilannya yang begitu acak-acakan.
"Lalu kau mau Papa melakukan apa, Nak?"
"Telpon teman Papa itu. Bilang kalau putranya belum melakukan kerja sama dengan kita!"
"Apakah itu perlu?" tanya Sanoci enteng dan tak melihat wajah sang putri berubah tajam.
"Tentu saja, Papa," serunya dengan keras. "Hubungi sekarang juga!" lanjutnya dengan keras.
Melihat wajah putrinya sudah pasti membuat Sanoci kalah. Dia bangkit dan kembali ke kamarnya sebentar dengan memakai kaos yang tadi dia lempar. Segera pria itu menghubungi Mama Ria setelah mendudukkan tubuhnya diatas sofa.
Hingga beberapa kali menelpon. Tak satupun panggilannya diangkat oleh wanita di seberang sana. Hal ini semakin membuat Marlena marah dan ingin berteriak namun segera dielusnya oleh sang Papa.
__ADS_1
"Tenanglah, Nak. Waktu kita masih banyak."
"Tapi aku tak mau menunggu begitu lama, Pa. Aku ingin segera," ujar Marlena keras kepala.
Sanoci menghela nafas berat. Dia meletakkan ponselnya dan menatap sang putri.
"Besok Papa akan menemui teman Papa, Sayang. Tunggulah kabar dari Papa yah?"
"Baiklah. Tapi cepetan!"
Sanoci mengangguk. Menolak dan membantah pun tak bisa. Gadis itu sudah terlalu dimanjanya hingga membuat Marlena hidup dengan keinginannya.
Apapun yang gadis itu mau, maka Sanoci selalu mengabulkannya. Tetapi sekarang? Ketika dia ingin suami dari sahabatnya, apakah dia harus mendapatkannya? Jawabannya tentu saja iya, jika untuk Marlena. Karena apapun itu baik barang atau orang menurutnya semua sama saja.
Sanoci perlahan pamit pada sang anak untuk kembali ke kamar dan meninggalkan Marlena yang tetap duduk di sofa dengan pandangan tajam ke depan.
Kedua tangannya mengepal dengan seringai jahat begitu terlihat di wajahnya.
"Tunggu saja, Jessica. Habiskan sisa waktumu dengan suamimu itu. Karena nanti, tubuh dan semua dalam diri Rey. Akan menjadi milikku seutuhnya."
~Bersambung~
Kok aku makin gemes sama kamu, Mar Mar hahaha
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di ****)
__ADS_1