
Aku tak menyangka dunia begitu sempit seperti ini. Hingga aku harus bertemu dengan wanita liar yang semakin berulah. ~Reynaldi Johan Pratama~
****
Matahari mulai beranjak naik di atas kepala. Hal ini menandakan waktu sudah menjelang siang. Rey segera mengenakan jas yang digantung di sandaran kursi lalu dia lekatkan untuk membalut tubuhnya yang kekar.
"Bagaimana?" tanya Rey sambil menepuk-nepuk jasnya karena sedikit kusut.
"Semua sudah siap, Tuan."
"Baiklah." Rey mengangguk. Lalu dia berjalan meninggalkan ruangannya sambil diikuti oleh Bima yang membawa berkas-berkas yang mereka butuhkan.
Semua mata terfokus pada dua pria yang sedang berjalan bersama. Ketampanan, kewibawaan dan kegagahan tubuhnya membuat para gadis ingin sekali melemparkan dirinya ke arah mereka berdua.
Tapi sayang. Mimpi hanyalah mimpi. Khayalan hanyalah khayalan. Perempuan mana yang berani mencari masalah dengan dua pria yang terkenal cuek dan angkuh itu.
Mereka sudah pasti tahu, konsekuensi apa saja yang akan didapat jika mengganggu dua orang penting Perusahaan Pratama. Mungkin, kehilangan pekerjaan dan diasingkan adalah salah satu akibat dari keberanian mereka mengganggu Rey dan Bima.
"Silahkan masuk, Tuan!" Bima membungkukan badannya sedikit saat Tuannya memasuki mobil yang pintunya dibuka dengan sopan.
Memutari kendaraan roda empat itu. Bima segera masuk ke kursi kemudi dan segera menjalankan mobilnya ini meninggalkan perusahaan.
Karena jam makan siang. Akhirnya jalanan pun sedikit ramai. Banyak pekerja yang berbondong-bondong untuk mencari makan siang dan tempat ibadah hingga membuat jalanan mulai dipenuhi mobil dan motor.
Rey menatap keluar jendela. Dulu jika dia disini, maka hanya ada kesunyian dan pikiran tentang pekerjaan yang terlintas. Tapi sekarang, ia sudah memiliki istri. Akan ada masanya dia selalu rindu akan rumah, rindu masakan istri dan rindu segera kembali pulang dan tidur dalam pelukan belahan hatinya ini.
Rey merogoh saku celananya dan mencari nomor ponsel sang istri itu dengan cepat.
Ketemu.
Menggeser icon hijau. Segera Rey mendekatkan benda pipih itu di telinganya dan menunggu Jessi untuk mengangkat telepon darinya.
"Assalamualaikum, Suamiku," ujar suara dari seberang begitu lembut.
Ah suara ini begitu menyentuh hati dan membuat rasa lelah dalam diri Rey menjadi hilang.
"Waalaikumsalam, Istriku," sapanya balik dengan senyuman lebar di wajahnya. "Sedang apa, hmm?"
"Aku lagi bantuin Mama masak loh. Kamu sendiri, ngapain?"
"Aku lagi di jalan."
"Hah. Jalan?" Rey bisa menangkap raut terkejut sang istri hingga membuatnya menepuk kening.
Astaga dia baru ingat jika dirinya belum mengatakan dan berpamitan pada sang istri.
__ADS_1
"Maafin aku ya, Sayang. Aku belum pamit kamu, kalau hari ini aku ada temu janji sama temennya Mama itu loh," jelas Rey membuat Jessi yang berada di seberang terdiam.
Menurut Rey, istrinya itu sedang berpikir dan mengingat hingga membuat rasa bersalah mencokol dalam dirinya.
"Aku benar-benar minta maaf, Sayang."
"Iya, Suamiku. Aku percaya. Ya udah kamu hati-hati, yah. Kalau selesai kabarin aku," pinta Jessi membuat Rey memancarkan senyumannya kembali.
"Pastinya, Sayang. Terima kasih banyak."
"Tapi janji yah. Jangan pernah lupa kayak gini lagi. aku gak suka."
"Siap, Sayang. Lain kali bakalan pamit aku."
Tak beberapa lama Restaurant yang menjadi pertemuan keduanya sudah terlihat di depan sana. Rey begitu paham apa yang harus dia lakukan sehingga membuatnya berdehem untuk menghentikan percakapan sang istri di seberang telepon.
"Aku matikan ya, Sayang. Aku harus menemui klien," pamit Rey dengan bahasa yang halus dan tenang.
"Ya sudah. Hati-hati."
Setelah memasukkan kembali ponsel Rey ke dalam sakunya. Bosnya itu segera turun dengan mengenakan kacamata hitam dan melangkah ke dalam. Bima dengan sigap membawa Tuannya ini ke ruangan VIP yang tersedia dengan dibantu oleh pelayan yang berada di depan.
"Mereka sampai mana, Bim?" tanya Rey sambil duduk di sebuah sofa yang tersedia.
"Entahlah, Tuan. Saya belum menanyakan pada klien dimana posisi mereka."
Sambil menunggu rekan kerja yang akan melakukan kerja sama dengannya. Rey memilih mengambil tabletnya dan bekerja melalui benda pipih itu. Masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan saat ini. Karena bagaimanapun, berlibur dalam jangka waktu panjang membuatnya harus siap dengan semua konsekuensi yang dibuat.
Satu bulan tak bekerja dan digantikan oleh Bima. Membuat pekerjaan itu semakin hari semakin menumpuk. Banyak jadwal kerja sama yang harus dia lakukan karena memang Bima sudah mengatur selama satu bulan kemarin tak ada pertemuan dengan investor atau klien yang ingin melakukan kerja sama dengan Perusahaannya.
Saat Rey mulai tenggelam dengan pekerjaannya. Dia tak menyadari jika pintu ruang VIP dibuka dan sepasang kaki yang dibalut sepatu Heels berwarna merah mengetuk memenuhi ruangan VIP tersebut.
Ya begitulah pria berkemeja putih jika bekerja. Dimanapun dia berada pasti kefokusannya akan mampu membuatnya tak peduli dan tak menyadari dengan sekelilingnya. Hingga akhirnya, Bima mendekat pada Tuannya untuk memberitahu kehadiran orang yang sudah mereka tunggu sejak tadi.
"Tuan," panggilan Bima yang keras membuat Rey menoleh ke arahnya.
"Ya?"
"Klien sudah datang," ucap Bima sambil menatap ke samping tempat dimana dua orang berbeda jenis itu berdiri menunggu sambutan dari rekan bisnis terbaik di Indonesia ini.
Rey menoleh ke arah yang dituju sang asisten lalu spontan beranjak berdiri. Apa dirinya tak salah melihat? Apa dirinya bermimpi? Apa maksud semua ini? Kenapa ini semua bisa seperti ini?
Pikiran-pikiran itu mulai menjalari dan membuat emosinya kembali menaik. Semua yang pernah dilakukan oleh gadis itu memang membuat Rey selalu muak. Tapi, pria itu mengingat jika kliennya saat ini adalah teman dari mamanya. Membuat emosi Rey perlahan mereda dan menatap tajam gadis yang memakai dress super ketat itu.
"Cih! Dia pikir ingin berkencan. Bekerja saja memakai baju yang ingin menunjukkan gunung krakataunya." Batinnya menatap jengah ke arah gadis yang menatapnya intens.
Meletakkan tablet yang dia pegang. Rey mengulurkan tangannya untuk menyapa rekan bisnisnya ini. Entahlah, seketika semangatnya yang menggebu menjadi hilang entah kemana.
__ADS_1
"Selamat datang, Nona Muda Sanoci."
Gadis yang disebut tersenyum seksi. Dia berjalan mendekat dan menerima uluran tangan Rey dengan erat. Tak lupa jari telunjuknya mengelus punggung tangan pria itu dengan menggunakan kuku lentik yang menurutnya akan mengundang hasrat dari anak rekan kerja sang papa.
"Terima kasih, Tuan Reynaldi Johan Pratama."
Hal yang tak terduga pun terjadi. Bergerak dengan cepat gadis yang memakai dress berwarna merah itu sudah memeluk Ret tanpa memperdulikan adanya dua pria lain disana.
Mata Rey membulat sempurna dengan gerakan tubuh yang meronta di pelukan Marlena. Gadis itu begitu erat memeluknya hingga membuat Rey sedikit kesulitan. Bima yang juga kaget dengan perlakuan gadis yang baru ditemui ini segera menarik tangan gadis itu dan menghempaskannya.
"Saya mohon anda jangan keterlaluan, Nona!" seru Bima dengan mata tajam bak elang.
Gadis itu menoleh. Dia menatap Bima dengan pandangan cemooh dan menunjuknya dengan kasar.
"Berani sekali kau memegangku! Orang rendahan sepertimu tak pantas menyentuhku seinci saja!" Hardiknya kasar.
Rey menoleh tajam. Dia tak suka siapapun menghina sahabatnya ini. Dan sepertinya pembicaraan ini sudah cukup sampai disini saja. Biarlah lebih baik dia berhadapan dengan kemarahan sang mama daripada harus bertemu gadis gila yang begitu liar.
"Biarlah, Bim," ucap Rey pada Bima lalu dia menoleh ke arah Marlena yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Sepertinya saya akan membatalkan kerja sama kita, Nona. Saya sendiri tak sudi bekerja sama dengan wanita yang tak memiliki rasa malu seperti anda."
"Kau!"
"Saya permisi dan mohon maaf."
~Bersambung~
Inget yah, jangan ampek gebrak-gebrak meja geng hahahaha.
JANGAN LUPA DUKUNG KARYAKU DENGAN CARA.
▶️ Tekan tanda like
▶️Vote seikhlasnya yah
▶️Berikan komentar terbaik kalian. Mau kasih ide saran pun boleh.
Mampir juga ke Ceritaku yang lain :
Jodoh Pilihan Mama (end)
Aqila Love Story (end)
Sadewa and Queen (end di wp)
My Teacher is My Husband (end di nome)
__ADS_1